
"Makasih ya Lio kamu udah mau nemenin aku hari ini" ujar Vinara tersenyum manis.
Ya, wanita yang bersama Bastian adalah Vinara. Semalam Vina menghubungi Bastian, ia mengirim foto usg nya dan mengancam jika Bastian tidak mau menuruti kemauan nya maka Vina akan mengirim foto hasil usg itu kepada Anin dan mengatakan semua tentang hubungan nya dan Bastian saat di Australi.
Jelas, Bastian tidak akan membiarkan itu terjadi ia tidak ingin hubungan nya dengan Anin hancur.
Bastian tidak akan pernah membiarkan Anin pergi dari nya. Katakan jika Bastian egois, namun itu sudah menjadi tujuan nya sejak ia kembali ke indonesia, ia ingin memperbaiki semua nya dan selalu membahagiakan Anin bahkan Bastian juga berjanji pada dirinya sendiri jika ia tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu lagi.
Namun, diluar dugaan nya Vina malah hamil dan membuat semuanya semakin rumit bagi Bastian. Mungkin untuk sementara inilah yang harus Bastian lakukan sampai pernikahan nya dengan Anin terjadi lalu ia akan mengurus wanita ular ini.
Vinara nampak kesal karna Bastian hanya diam tidak menjawab. Ia pun, merapatkan tubuhnya melingkarkan tangan nya di tangan Bastian yang tengah menyetir.
"Kalo kamu seperti ini terus, aku gak akan menjamin kalau aku bisa menahan diri lagi untuk tidak mengatakan rahasia kita kepada Anin" bisik Vina dengan senyuman maut nya menatap Bastian intens.
"Jangan harap aku akan ngebiarin kamu!" Balas Bastian tegas dan dingin.
Vina tersenyum sinis,"Kalo kamu tetep nurutin kemauan aku, aku gak akan pernah ngasih tau Anin tentang hubungan kita. Aku ingin kamu selalu bersama ku dan anak kita, Adelio..." mengelus perut nya yang masih rata.
Rasanya ingin sekali Bastian mendorong wanita licik ini dari mobilnya, "Kalo saja kamu tidak hamil, aku pasti sudah menyingkirkan mu wanita ular. Gara-gara kamu aku harus berbohong pada Anin" Umpat Bastian dalam hati.
"Anin, Anin... Sampai kapan pun gue gak akan pernah rela Lo mengambil ayah dari anak gue, lihat aja gue akan membuat Lo perlahan-lahan mulai menjauh dari Bastian, dan gue juga akan membuat jarak di antara Lo dan Ocha!" batin Vina menyeringai jahat.
🌸🌸🌸
"Cha gue ke toilet dulu ya.." Ucap Anin, selesai makan.
"Oke!" Menyeruput minuman nya.
Di toilet, Anin mencuci tangan nya di wastafel. Ia melihat dirinya dari pantulan cermin didepan nya, Anin teringat kembali dengan kejadian tadi dan kata-kata Bastian kemarin malam. Anin curiga, apakah Bastian memang mengkhianatinya? Apakah wanita itu adalah selingkuhan nya? Anin terus bermonolog.
"Gue mikir apa sih? Gak mungkin Bastian ngelakuin itu! Gak, gak mungkin..." Menggelengkan kepalanya menghalau segala pikiran buruk.
Selesai dengan kegiatan nya, Anin keluar dari toilet. Ia berjalan dengan anggun, banyak mata pria yang mengarah padanya. Namun, Anin tidak menghiraukan mereka. Tatapan Anin mengarah pada meja dimana tempat ia dan ocha duduk, kering Anin berkerut melihat punggung pria yang tengah duduk disamping Ocha.
"Tu anak ngegaet cowo lagi?" Pikir Anin. Ia tau kebiasaan buruk Ocha yang suka gonta-ganti cowok tanpa tau tempat.
Anin semakin mendekat, "Ekhem.." Deheman Anin cukup keras, hingga membuat perhatian kedua orang didepan nya itu beralih padanya.
Kedua nya berbalik melihat ke arah nya, Anin terperangah ternyata cowok itu, Derald? Anin melihat kearah Ocha, namun yang ditatap malah cuek saja.
"Hay.." Sapa Derald.
Tatapan Anin beralih pada Derald dan tersenyum tipis.
"Duduk Nin!" Ucap Ocha.
Anin menatap Ocha datar ia mendekati kursi yang tadi ia duduki berhadapan dengan Ocha, otomatis Derald duduk di samping Anin dan Ocha
"Gak nyangka bisa ketemu disini lagi" Ujar Derald tersenyum tampan.
Jujur Derald sangat merindukan wajah yang beberapa hari ini tidak ia lihat, Derald suka dengan sikap ketus Anin baginya itu lucu. Saat melihat Anin rasanya debaran cintanya kembali bergejolak dan mampu membuat nya bahagia hanya karna melihat wajah Anin saja.
Anin tersenyum canggung, ia kembali menatap Ocha seolah meminta penjelasan. Ocha yang tidak peka malah senyum-senyum gak jelas, refleks Anin menendang kaki Ocha.
"Akh! Kok Lo nendang kaki gue, sakit bege!" Pekik Ocha dengan polosnya, Anin memelototi Ocha yang begitu tidak peka.
Ocha menggigit ujung lidah nya, "Ma-maaf Pak! Udah kebiasaan, hehe" Anin memijit pelipisnya malu.
Derald tersenyum kaku, ia melihat Anin seperti tidak nyaman akan kehadiran dirinya, "Aku tadi gak sengaja liat Ocha duduk sendirian, pas aku samperin Ocha bilang dia kesini sama kamu. Aku hanya duduk sebentar kok, lagian aku kesini mau ketemu sama temen-temen ku" Derald beranjak," So silahkan lanjutkan!" Ujar Derald kemudian berbalik.
"Anin!" Panggil Ocha pelan, Anin hanya menggidikan bahunya cuek.
"O iya, iklan produk kamu udah selesai, mungkin besok akan segera dipromosikan dan segera tayang diberbagai channel tv dan media sosial" jelas Derald.
Derald mengangguk kecil, kemudian menjauh dan duduk bersama kedua teman nya.
"Jadi, Lo ngajak ke sini karna ada dia? Tapi... Kok Lo tau ada dia disini?" Ucap Nichol dingin, tepat setelah Derald duduk di kursi didepan nya.
"Karna gue yang ngasih tau" timpal Billy yang tiba-tiba muncul dan duduk disalah satu kursi kosong disamping Derald.
Nichol menatap Billy meminta penjelasan, dan Billy hanya tersenyum seraya melihat Derald hanya diam yang sesekali memperhatikan Anin walau cukup jauh.
Saat Billy tiba di cafe ia tidak sengaja melihat perempuan yang berdiri di depan cafe nya sambil menelpon.
"Itukan cewe yang waktu itu ngatain si Derald bunglon" ia pun terkekeh saat mengingat sahabatnya di sebut hewan yang sering berubah warna itu.
Ingatan Billy memang selalu encer jika menyangkut wanita cantik.
Namun, seketika tatapan Billy berubah saat melihat Anin menangis. Ia ingin menghampiri Anin, namun Anin sudah lebih dulu masuk ke dalam cafe nya.
Billy pun merogoh sakunya kemudian menelpon Derald, mengatakan jika Anin ada di cafenya dan Billy juga mengatakan apa yang ia lihat tadi.
Sebenarnya Derald enggan menemui Anin lagi, ia tengah berusaha melupakan nya. Namun mendengar Anin menangis membuat hatinya tergerak ia khawatir terjadi sesuatu pada Anin, sekaligus ia juga sangat merindukan Anin. Seberapa keras ia mencoba melupakan Anin, semakin besar pula perasaan nya untuk Anin.
Lalu ia mengajak Nichol ke cafe Billy tanpa mengatakan alasannya pergi ke cafe padahal siang ini Derald ada rapat di kantor. Awalnya Nichol menolak, tapi Derald berhasil membujuknya.
"Rald gimana, Lo udah tanya sama temen nya?" Tanya Billy serius.
"Kaya nya dia gak tau apa-apa. Udah gue pancing-pancing juga dia biasa aja" sahut Derald lemah.
"Berarti cewe itu... Siapa nama nya?" Tanya Billy menatap Derald.
"Anin!" jawab Derald singkat.
"Iya itu. Berarti si Anin belum cerita apa-apa sama temen nya," ujar Billy.
Derald menghela nafas nya, ia menyeruput minuman yang sudah disediakan Billy di meja.
Nichol menatap Derald tajam, "kenapa Lo?" Tanya Derald.
"Lo tau kan dia udah mau nikah, ngapain sih Lo ikut campur urusan dia. Rald jangan sampe Lo punya niat ngerebut dia, gue gak mau ya punya sahabat perusak hubungan orang!" Ucap Nichol memperingati.
"Ya gue tau! Lagian gue gak ada niat ngerusak hubungan dia sama cowok nya, gue cuma..."
"Cuma apa? Cuma gak bisa ngelupain dia" celetuk Billy.
Derald menatap Billy tajam, "Apa, gue bener kan? Udahlah Rald gue tau kok Lo itu emang udah kepincut sama tu cewe, baru denger si Anin nangis aja Lo langsung gas ke sini" Terang Billy dengan sedikit menggoda Derald.
"Gue sumpal juga mulut Lo Bill" ucap Derald kesal.
"Sumpal pake apa?" Dengan wajah polos nya.
"Sepatu gue. Mau?" Jawab Derald cepat.
"Ogah!" bergidik cepat.
...****************...
Nih siapa yang rindu sama Derald?😁
Tinggalkan jejak kalian, like dan komentnya... Terimakasih🤗
BSC❤️