Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Tulus atau palsu


Anin keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat lebih segar sekarang. Walau tanpa make up, wajah Anin tetap terlihat cantik. Bahkan inilah ke cantikan alami yang sesungguhnya, apalagi dengan rambutnya yang masih basah.


Anin tidak memanggil Bastian. Rasanya masih kurang nyaman, jadi Anin memilih untuk berjalan perlahan.


Bastian melihat kearah pintu kamar mandi yang terbuka, sejenak ia terpaku menatap Anin terpesona. Melihat wajah cantik alami Anin yang kini terlihat lebih segar. Bahkan bibir Anin kini sudah tidak sepucat kemarin, bibir tipis berwarna merah muda yang selalu menggoda itu sudah kembali walau samar.


Bastian tersadar ia mengerjapkan matanya beberapa kali, Bastian beranjak mendekati Anin.


"Aku kan udah bilang, kalau udah selesai panggil aku!" Ucap Bastian yang kini sudah berada dihadapan Anin.


"Aku baik-baik aja. Kamu liat sendiri kan, aku bisa jalan sendiri" protes Anin.


"Iya tapi kamu lagi sakit sayang..."


"Aku sakit Hipotermia, bukan nya lumpuh!" Sela Anin mulai kesal.


Dengan cepat tangan Bastian menutup mulut Anin lembut, tatapan matanya begitu menusuk. Anin terkesiap dengan yang Bastian lakukan, apakah Bastian marah? Pikir Anin.


"Jaga bicara kamu! Aku gak suka kamu bicara seperti itu!" Ujar Bastian tanpa ekspresi.


Tiba-tiba Anin merasa takut melihatnya, ia menyesal sudah bicara seperti itu pada Bastian. Ia tidak tau jika reaksi Bastian akan seperti ini.


"Ba- Bas..." Ucap Anin gemetar.


Merasa kalau Anin ketakutan, Bastian menurunkan tangan nya. Kini, Bastian menggenggam tangan Anin. Tatapan nya berubah hangat namun terkesan serius, tangan satunya ia gunakan untuk mengelus pipi Anin lembut.


"Jangan pernah mengatakan hal buruk seperti itu lagi! Aku gak suka melihat kamu sakit, kamu tau saat aku melihat kamu terbaring lemah di sana," menunjuk ranjang Anin.


"Aku merasa sebagian dunia ku hancur, aku marah sama diriku sendiri karna aku gak bisa jagain kamu. Jika terjadi sesuatu yang buruk sama kamu aku tidak akan pernah bisa memaafkan diri ku sendiri. Jadi tolong jangan bicara seperti itu lagi, ya?"


Tatapan Bastian begitu tulus, bahkan Anin melihat mata Bastian berkaca-kaca saat mengatakan semua itu. Bastian masih sama dengan Bastian yang dulu, ia masih sangat mencintainya.


Apa yang Anin pikirkan selama ini salah? Apa Anin berpikir berlebihan dan terlalu jauh, ia bahkan sempat berpikir jika Bastian memiliki hubungan dengan sahabatnya sendiri. Kenapa, Anin berpikir jika Bastian akan tega mengkhianatinya?


"Kamu harus selalu sehat dan baik-baik aja. Kita akan selalu bersama sampai kita menua dan hanya maut yang mampu memisahkan kita, hm.." sambung Bastian tersenyum lembut.


"Maaf!" Hanya itu yang mampu Anin ucapkan sekarang.


Anin masih belum bisa memahami semua itu, ada keraguan dihatinya. Apa yang Bastian katakan itu tulus atau palsu? Atau, sekedar untuk menutupi kesalahan nya saja, Anin benar-benar bingung sekarang.


Bastian tersenyum, ia melihat wajah polos dengan tatapan teduh Anin. Sepertinya Anin sudah tidak marah lagi padanya, bahkan sikap Anin sudah tak seketus dan sedingin tadi.


Bastian menarik pelan tangan Anin, membuat tubuh Anin menabrak dada bidang nya. Bastian segera mendekap tubuh ramping itu dalam pelukan nya. Mengusap rambut basah Anin sayang, bahkan Bastian mencium pucuk kepala Anin. Walau Anin masih membeku, namun kini perlahan Anin mulai membalas pelukan yang sebenarnya ia rindukan.


Kini Anin sudah duduk di ranjang menikmati bubur yang di siapkan sang Mama untuk nya. Ia merasa lebih nyaman setelah mandi, tubuhnya terasa ringan dan segar.


"Mau aku suapin?" Ucap Bastian yang duduk di samping Anin.


"Gak usah! Nih kamu liat kan aku punya tangan jadi aku bisa makan sendiri..." Seraya menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulutnya.


Bastian terkekeh gemas, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia merogoh saku nya, melihat siapa yang menelfon nya. Ekspresi wajah nya tiba-tiba berubah datar, Bastian melirik Anin sekilas.


"Kenapa?" Tanya Anin, melihat Bastian mematung menatap nya.


"Em.. Gak papa!" Langsung mematikan ponselnya.


"Itu, kenapa telfon nya gak diangkat?" Tanya Anin lagi.


"Gak penting!" Jawab Bastian tersenyum Tampan.


'Klek' Tamara muncul dengan suster dibelakangnya.


"Selamat pagi..." Sapa Tamara dengan senyuman merekah.


"Pagi Dok!" Jawab Bastian lekas berdiri.


Dibalas senyuman dan anggukan ramah oleh Tamara.


"Pagi Tante..." Balas Anin tersenyum manis.


"Wah.. Sepertinya kondisi kamu sudah lebih baik?" Ucap Tamara mendekati ranjang Anin.


Anin menyimpan mangkuk ditangan nya di atas meja penyimpanan disamping ranjangnya.


"Iya Tan. Cuma pusing nya masih ada," Keluh Anin dengan senyuman khas nya.


"Oke, Tante periksa dulu ya!"


Tamara mulai memasang stetoskop dan mengecek beberapa bagian tubuh Anin. Dibantu suster yang membantu memeriksa tekanan darah Anin.


Setelah selesai memeriksa semuanya, Tamara tersenyum kepada Anin.


"Semuanya bagus, cuma tekanan darah kamu masih rendah. Obatnya diminum secara teratur ya, Vitamin nya juga jangan lupa!" Jelas Tamara.


"Iya, Tan. Anin gak akan lupa" Kata Anin seraya tersenyum.


"Mama, Papa lagi ada urusan Tante..." Jawab Anin.


"Em,, yaudah kalo gitu Tante pamit ya. Masih ada pasien yang harus Tante tangani," sambung Tamara.


Anin mengangguk, "Makasih ya Tante!"


"Iya, sama-sama sayang..." Ucap Tamara lembut.


Tak lama setelah Tamara keluar, Bastian membantu Anin menyiapkan obat yang harus Anin minum pagi ini.


'Tok-tok-tok'


Pandangan keduanya melihat ke arah pintu, "Bentar aku liat dulu ya!" Ucap Bastian dan diangguki Anin.


Bastian berjalan kearah pintu, ia membuka pintu perlahan.


"Siapa Bas?" Tanya Anin lembut.


Bastian menggeser tubuh nya, terlihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tengah tersenyum pada Anin.


"Tante, Windy?" Senyuman merekah dari bibir Anin.


Windy masuk dengan tenang, terlihat ditangan nya menjinjing paper bag.


"Gimana keadaan kamu sekarang? Maaf Tante baru bisa jengukin kamu!" Ujar Windy yang kini sudah berdiri tepat disamping Anin yang tengah duduk.


"Gak papa Tante! lagian Anin sudah lebih baik sekarang," jawab Anin tersenyum manis.


"Ocha, gak ikut Tan?" Anin melihat ke arah pintu.


"Tadi, dia bilang ada urusan penting yang harus diselesaikan dulu. Tapi, katanya dia bakal nyusul kesini" terang Windy.


Anin manggut-manggut saja. Windy duduk di kursi samping ranjang Anin.


"O iya, ini Tante bawain kamu cake. Semoga kamu suka ya?" Memberikan paper bag itu kepada Anin.


"Ya ampun Tante harus nya gak usah repot-repot gini, Anin jadi gak enak!" Menerima paper bag itu.


"Gak ngerepotin kok. Tante malah seneng, tapi takut juga sih"


"Takut kenapa?" Tanya Anin heran.


"Takut kamu gak suka sama cake nya! Soalnya Tante gak tau apa yang kamu suka, niat Tante ngajak Ocha buat nyari makanan kesukaan kamu. Eh dianya malah pergi.." Ucap nya merengut.


"Anin suka cake apa aja kok Tante, jadi gak usah khawatir!" Anin melihat isi paper bag nya, "Emm,, ini pasti enak. Makasih ya Tante, nanti Anin cemilin sampai habis" ucap Anin tersenyum manis.


Windy terkekeh mendengarnya, Kini mereka tengah mengobrol, banyak yang mereka bicarakan. Bastian terlihat gusar, ia terus melihat ponselnya yang terus bergetar.


"Anin, aku tunggu di luar ya, kamu lanjutin aja ngobrol nya..." Ujar Bastian diangguki Anin, "Permisi Tante!" dibalas senyuman dan anggukan oleh Windy.


Anin melihat ke arah pintu, saat Bastian keluar ruangan nya. Sebenarnya Anin memperhatikan Bastian yang terlihat gelisah dan terus melihat ke ponselnya. Kini rasa penasaran itu kembali mencuat dihatinya.


Sudah satu jam, Windy bersama Anin. Namun, Bastian tak kunjung kembali. Anin masih menikmati cake pemberian Windy, sesekali ia juga melihat ke arah pintu.


"Em Nin, maaf! Sepertinya Tante harus pamit," Ucap Windy setelah melihat ponselnya.


"Kenapa buru-buru banget Tan?"


"Iya, Tante di minta datang ke perusahaan sekarang. Katanya ada rapat dadakan!" Memasukan ponselnya kedalam tas.


"Yaudah gak papa Tan! Makasih ya, Tante udah jengukin Anin..."


"Sama-sama, cepet sembuh ya!" Mengelus rambut Anin.


Setelah kepergian Windy dari ruangan nya, tapi Bastian tak kunjung kembali. Anin tidak ambil pusing mungkin Bastian sedang jalan-jalan diluar, dia pasti bosen di ruangan nya terus. Pikir Anin.


Anin ingat, jika Ocha memberinya sesuatu. Anin menurunkan kaki nya, kini posisi Anin duduk di pinggir ranjang dengan kaki menjuntai. Anin membuka laci yang Mama nya bilang, dan ya Anin menemukan kotak mungil berwarna cream.


Dengan senyum merekah Anin mengambil kotak itu, karna rasa penasaran tanpa berpikir lama Anin membuka nya. Kening Anin berkerut,


"Flashdisk?" Gumam Anin.


Perhatian Anin beralih pada kertas di bawahnya, Anin mengambil kertas yang dilipat kecil itu kemudian membukanya.


...“Hy Nin... Gue yakin saat Lo baca surat ini berarti Lo udah sadar. Maafin gue ya Nin! Gue gak bisa jadi sahabat yang baik buat Lo. Disaat Lo membutuhkan gue, Gue gak ada disamping Lo. Ada hal yang gak bisa gue jelasin disini, tapi di dalam flashdisk itu ada sesuatu yang mungkin bisa mengurangi rasa penasaran Lo. Sorry awalnya gue nutupin ini dari Lo, tapi setelah gue pikir-pikir Lo juga berhak tau. Cepet sembuh dan cepet pulang ya Nin...”...


Anin mengambil flashdisk itu. Sebenarnya Anin ingin melihat isi di dalam nya, tapi tidak ada laptop disini. Mungkin nanti setelah Papa nya kembali, ia akan meminjam laptop Papa Adrian.


...****************...


Next episode...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen, terimakasih😊