Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Kebenaran yang terungkap


Setelah kepergian kedua pria tampan itu, Anin masih merasa kurang nyaman berada satu ruangan dengan Vina. Namun, ia berusaha bersikap setenang mungkin. Tidak mungkin juga ia meminta Vina untuk pergi dari sini, Anin berusaha memasukan jeruk itu kedalam mulut walau rasanya terasa hambar.


"Jadi, Kak Vina kuliah di Australia?" Ucap Citra menatap Vina intens.


Vina menganggukan kepalanya, "Wah... Apa kuliah di luar negri itu menyenangkan? Sebenarnya, Daddy juga nyuruh Citra kuliah di luar negeri. Tapi, Mommy sama Kak Derald minta Citra buat kuliah disini aja, kan Citra jadi bingung!" Keluh Citra, yang sejak tadi mengobrol dengan Vina.


"Kenapa bingung? Kamu tinggal ikutin maunya kamu aja kemana. Lagian menurut Kakak mau kuliah diluar negeri atau didalam negeri itu sama aja yang penting kita belajar nya sungguh-sungguh..." Ujar Anin lembut.


"Iya juga sih. Akh... Sudahlah biar Citra pikirin nanti aja!"


Anin tersenyum kemudian tatapannya beralih pada Vina, "Em, Vin..."


"Ya?"


"Sebenarnya dua hari yang lalu gue sempet melihat Lo ada dirumah sakit ini..." Ucap Anin ragu. Tapi ia tidak bisa menahan ras penasaran ini lagi, bisa gila ia jika terus berfikir yang tidak jelas kebenarannya.


Vina tersentak kaget. Ia menatap Anin wajahnya berubah serius, "Lo ngikutin gue?"


"Hah. E--enggak!"


"Terus Lo sendiri ngapain dirumah sakit?" Ujar Vina balik bertanya.


"I--itu.. Karna gue, mau..." Anin tampak berpikir keras mencari alasan apa yang tepat untuk ia katakan pada Vina.


"Mau apa?" Menatap Anin tajam.


"Mau..." Anin melihat Citra yang tengah menatap Vina dan dirinya bergantian.


"Ketemu sama Tante Tamara. Ya, gue kesini karna mau ketemuan sama Tante Tamara" ucap Anin cepat.


"Terimakasih Citra..." Batin Anin menatap Citra tulus.


"Ketemuan? Di rumah sakit?" Tanya Vina bingung.


"Iya, karna Tante Tamara sibuk beliau gak bisa ketemu di luar, jadi gue diminta dateng ke sini. Dan, gue gak sengaja liat Lo..."


Vina jadi gelagapan sendiri, apa Anin melihat semuanya? Apakah Anin melihat dirinya yang datang bersama Bastian? Pikir nya.


"Apa Lo sakit?" Tanya Anin menatap Vina curiga.


"Oh itu-- em... Ya, waktu itu perut gue sakit. Gue kesini karna mau cek keadaan gue aja, ternyata gue cuma salah makan. Hehe..." Jawab Vina mengalihkan pandangan nya, seolah ia takut jika Anin mengetahui jika ia tengah berbohong.


"Oya? Kenapa Lo gak ngasih tau gue atau Ocha?" Ujar Anin khawatir, ia berpikir jika yang Vina katakan itu benar dan Bastian hanya mengantar Vina kerumah sakit saja.


"Karna gue takut ganggu kalian!" Ucap Vina sekena nya.


"Terus Lo, ke rumah sakit sama siapa?" Tanya Anin memancing Vina, apakah ia akan jujur padanya atau tidak.


"Gue--" Vina nampak berpikir.


"Gak mungkin kan Lo nyetir sendiri, sedang perut Lo lagi sakit?" Sela Anin.


Vina diam sejenak, "Berarti Anin gak liat gue kesini sama Bastian, huuh... Sukur deh kalo gitu berarti gue masih aman" batin Vina.


"Gue naik taksi lah, Lo gimana sih? Lagian disini gue cuma punya Lo berdua, tapi waktu itu gue gak mau buat kalian cemas yang pada akhirnya malah ganggu kerjaan kalian. Jadi, gue naik taksi dan berangkat sendiri aja" jelas Vina menunjukan deretan giginya yang putih.


Tubuh Anin lemas seketika, ia tidak menyangka Vina akan mengatakan kebohongan padanya. Padahal ia berharap semuanya akan selesai, Anin pikir ia sudah salah paham terhadap kekasih dan sahabatnya. Namun, ternyata ia salah.


Matanya terasa panas bahkan dadanya terasa sesak, Anin menunduk ia tidak ingin Vina dan Citra melihat ekspresi wajah nya sekarang.


"Kak Anin. Kak Anin kenapa?" Ujar Citra melihat Anin menundukan kepalanya.


Beruntung Anin tidak mengikat rambutnya. Rambut panjang yang sedari tadi ia gerai, kini menutupi sebagian wajahnya. Jadi, Anin dapat Menyembunyikan wajahnya. Vina juga ikut khawatir melihat Anin tiba-tiba diam, tidak mengatakan apapun.


Anin berusaha menenangkan hati dan dirinya sendiri, perlahan Anin mengangkat wajahnya.


"Nin Lo kenapa?" Tanya Vina cemas.


"Kepala gue tiba-tiba pusing, gue mau istirahat!" Sahut Anin pelan.


"Kepala Kak Anin pusing? Sakit gak? Kalau sakit Citra panggil Mommy ya?" Ucap Citra khawatir.


"Gak usah Citra! Kepala Kak Anin gak sakit kok, cuma pusing aja. Kak Anin cuma butuh istirahat"


"Yaudah kalo gitu Lo istirahat aja, gue tunggu diluar ya?" Ucap Vina diangguki Anin tanpa melihat wajah Vina.


"Citra juga tunggu di luar ya Kak, kalo Kak Anin butuh sesuatu panggil kita aja!" Sambung Citra.


Anin mengangguk pelan, setelah melihat Vina dan Citra menghilang dari balik pintu. Anin membaringkan tubuhnya, namun detik kemudian Anin memiringkan posisi tidurnya.


'Tes' air mata Anin luruh tanpa bisa ia cegah, menyakitkan seseorang yang kita percaya malah membohonginya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di apartemen Ocha, terus mengobrak-abrik isi kamar Vina. Ocha menghela nafas nya, ia tampak frustasi karna tidak menemukan yang ia cari sejak tadi.


"Dimana Vina menyimpan kotak itu?" Ucap Ocha kesal.


Ditempat lain Ocha masih berusaha mencari sesuatu di lemari Vina, namun nihil ia tidak menemuka yang tengah ia cari. Karna kesal Ocha menutup lemari itu dengan keras.


'Dukk'


Ocha terkejut, saat sebuah kotak jatuh dari atas dan hampir mengenai kepalanya. Mata Ocha membulat, ini adalah kotak yang tengah ia cari.


Ocha juga menemukan alat tes kehamilan dengan dua garis merah juga disana, kemudian Ocha mengeluarkan semua benda yang ada didalam nya. Akhirnya ia melihat foto yang sedari tadi ia cari, Ocha mengambilnya ia melihat dibelakang nya bertuliskan VinaLio. Perlahan Ocha membalik foto itu, dan...


Ocha membeku matanya menatap tajam foto yang ia pegang. Dengan jelas Ocha melihat Vina duduk disebuah kursi taman sedang Bastian merangkulnya dari belakang dengan mesra. Bahkan Vina menggenggam tangan Bastian yang melingkar dilehernya, mereka pun terlihat seperti pasangan kekasih yang sangat bahagia difoto itu.


Ocha tak mampu berdiri lagi, ia jatuh terduduk di lantai dengan tangan yang menutup mulutnya. Bahkan kini matanya sudah dipenuhi buliran bening yang sebentar lagi akan meluncur bebas.


Di rumah sakit Anin menangis terisak, namun ia menahan suara tangisnya. Rasanya sangat menyesakkan, disaat orang-orang yang kita percaya membohongi kita apalagi status mereka adalah calon suami dan sahabatnya.


"Hiks hiks... Kenapa Lo bohong sama gue Vin? Sebenarnya ada hubungan apa di antara kalian? Kenapa gue merasa ada hal besar yang kalian sembunyiin dari gue?" batin Anin terisak.


Anin menangis tertahan dan itu rasanya begitu menyesakkan, hingga membuatnya sulit untuk bernafas.


Ditempat lain Ocha juga tengah menangis, ia bingung bagaimana semua ini bisa terjadi kecurigaan nya selama ini ternyata benar. Ternyata Vina dan Bastian memiliki hubungan, tapi kenapa mereka tega melakukan ini pada Anin.


Ocha jadi teringat pada Anin, dadanya tiba-tiba sesak. Ocha memegang dadanya, "Aniinn..." Air matanya mengalir begitu saja.


"Bagaimana cara ngejelasin semua ini sama Lo, Nin?" Ucap Ocha lirih.


Pandangan nya beralih pada foto mereka bertiga, "Kenapa semua ini terjadi pada kita? Gue takut persahabatan kita hancur, tapi gue juga gak mungkin menyembunyikan semua ini dari Anin. Gue gak mau Anin menikah dengan pria yang tega mengkhianati nya. Apa yang harus aku lakukan sekarang, Tuhan..." Ujarnya lagi, bahkan air matanya tak berhenti mengalir.


"Ocha... Lo dimana, gue butuh Lo sekarang? Gue gak sanggup lagi Cha, gue gak bisa memendam semua ini sendirian... Rasanya begitu menyakitkan!" Gumam Anin perih, Anin juga memukul-mukul dadanya.


Kini, Anin dan Ocha sama-sama menangis namun ditempat yang berbeda.


Bastian dan Derald berada di Rooftop rumah sakit. Bastian menatap Derald tajam, sedangkan Derald menatap lurus ke keramaian jalanan kota dengan ke dua tangan yang ia masukan kedalam saku celananya.


"Lo tau kan kalo Anin sebentar lagi akan menjadi istri gue, ngapain tadi Lo meluk dia? Hah," Ujar Bastian dingin.


Derald tersenyum remeh, ia berbalik melihat ke arah Bastian.


"Peduli apa Lo? Apa salahnya kalo gue meluk dia?" jawab Derald enteng.


Bastian menatap Derald marah, ia mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan emosinya.


"Jelas gue peduli karna dia milik gue, dan Lo salah karna udah berani menyentuh nya!" Menatap Derald dengan sorot mata tajam.


Derald tersenyum smirk, "Kalo Lo peduli sama dia, kenapa Lo bawa selingkuhan Lo itu kesini?"


"Tutup mulut Lo! Dia bukan selingkuhan gue. Mereka sahabatan, dia kesini karna ingin menjenguk sahabatnya. Dan gue gak pernah minta dia buat kesini!" Elak Bastian apa adanya.


Karna ia memang tidak pernah meminta atau membawa Vina untuk datang ke rumah sakit.


"Oya? Terus kenapa Lo bohong sama Anin?" Menatap Bastian datar.


"Maksud Lo apa, gue gak pernah bohongin Anin?" Ucap nya yakin.


Derald maju selangkah, menatap Bastian tajam "Gue peringatin Lo, kalo Lo sampe nyakitin dia dan terus bohongin Anin. Gue gak akan diem aja, GUE BERSUMPAH GUE AKAN MEREBUT DIA DARI LO!!" Derald menekankan kata-kata nya didepan wajah Bastian.


"Brengsek!!" Bastian hendak melayangkan tinjunya, namun dengan sigap Derald menangkap kepalan tangan itu.


"Gue gak akan ngebiarin tangan kotor Lo menyentuh wajah gue. Karna kali ini gue gak mau Anin melihat cela di wajah tampan gue..." Ucap Derald dengan seringai diwajahnya.


"Cihh... Anin gak akan pernah tergoda sama cowok kaya Lo, karna dia sangat mencintai gue dan hanya gue yang ada di hatinya" balas Bastian percaya diri, ia menarik tangan nya kasar.


"Are you sure? Gimana kalo gue kasih liat vidio itu sama Anin, apa dia masih akan mencintai Lo? Atau justru sebaliknya," Derald menatap tajam mata Bastian dengan sebelah sudut bibirnya terangkat, Derald puas melihat wajah Bastian yang tiba-tiba berubah pucat.


"Cowok pengecut kaya Lo, gak pantes mendapat cinta nya!" Setelah mengucap kata-kata terakhir nya Derald pergi dengan mendorong bahu Bastian kasar.


Rasanya bila terus berhadapan dengan Bastian, ia tidak akan bisa menjaga emosi yang sejak tadi berusaha ia tahan. Derald memilih pergi karna ia muak melihat wajah pria brengsek dan pengecut seperti Bastian.


"Citra.."


"Kak Derald?"


"Ngapain kamu diluar, terus Anin didalam sama siapa?" Derald melihat ke arah Vina sekilas.


"Tadi tiba-tiba Kak Anin merasa pusing, jadi sekarang Kak Anin lagi istirahat" jelas Citra.


Derald menatap Vina curiga, namun ia harus pergi karna tadi Nichol sempat menelpon nya dan ia harus segera kekantor sekarang.


"Yasudah, kita pulang sekarang. Kakak harus kekantor..." Ujar Derald.


"Tapi Citra belum pamit sama Kak Anin" Balas Citra sendu.


"Udah gak papa, kasian Kak Anin juga lagi istirahat kan. Nanti kamu ganggu dia lagi" ucap Derald dan diangguki Citra.


"Kak, Citra pulang duluan ya... Kalo Kak Anin bangun bilangin Citra minta maaf karna pulang gak bilang sama Kak Anin," menatap Vina memohon.


Vina mengangguk mengerti, "Yaudah, Citra pamit ya... Dahh Kak Vina!" Citra melambaikan tangan nya.


...****************...


Maaf ya kemarin author gak bisa up, soalnya kemarin sibuk banget...


Tapi hari ini, Author up hampir 2000 kata nih..


Jangan lupa like dan komen nya. Terimakasih 🤗


BSC❤️