
Setelah mematikan shower, Rangga terpaku memandang tubuhnya di depan cermin kamar mandi. Dia mengusap kedua rahangnya yang sudah ditumbuhi rambut-rambut halus. Beberapa hari ini dia memang tidak sempat mencukurnya dan Cinta sempat protes karena itu. Istrinya itu paling tidak suka melihat wajahnya ditumbuhi jambang. Padahal, menurut wanita lain, pria yang memiliki jambang tipis justru terlihat lebih seksi dan menawan. Namun, hal itu rupanya tidak berlaku pada Cinta. Cinta lebih menyukai pria berwajah mulus. Dia wanita yang berbeda, bukan? Itulah yang membuat Rangga semakin mencintainya.
Selesai mencukur jambangnya, Rangga meraih handuk untuk mengeringkan rambut dan tubuhnya. Kemudian, mengenakan celana pendek dan turun menyusul Cinta ke dapur.
Langkahnya memelan saat dilihatnya Cinta masih sibuk berkutat dengan peralatan memasak karena tidak menyadari kedatangannya. Rangga menyandarkan tubuh bagian kirinya ke dinding dan melipat kedua lengannya di depan dada. Dia tersenyum memperhatikan Cinta yang sedang fokus dengan bahan makanan yang akan dimasaknya.
So beautiful,
Tidak ada kata-kata yang lebih indah daripada itu yang dapat mewakilkan apa yang dilihatnya saat ini. Cinta begitu cantik, begitu mempesona walaupun hanya dengan mengenakan kemeja putih kebesaran miliknya dan rambut yang ditata seadanya.
Oh God, Rangga benar-benar mencintainya. Sangat mencintainya. Dia sangat berterimakasih pada Tuhan karena menghadirkan Cinta ke dalam hidupnya. Wanita yang menjadi alasan dirinya untuk tetap hidup dan menjalani kehidupan sebagai manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
Semakin lama tampaknya Cinta mulai merasa sedang diperhatikan. Dia mengangkat bola matanya dan melirik Rangga sekilas. Manik mata keduanya sempat bertemu pandang, lalu mereka saling melempar senyum hangat.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari keduanya, hanya saling pandang dan melempar senyum. Rasanya cukup mata mereka yang berbicara dan menjelaskan segalanya. Memancarkan sinar cinta dan kekaguman satu sama lain.
Merasa tidak tahan, Rangga mulai mendekati Cinta.
"Matamu akan sakit kalau tidak berkedip Kak," goda Cinta, "aku memang cantik, jangan pandangi aku seperti itu terus nanti kamu semakin terpesona." Cinta terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
Cinta semakin terkekeh." Tenang saja Kak, aku masak yang spesial untukmu."
"Apa? Aku hanya melihat telur yang kamu goreng." Menunjuk telur di dalam penggorengan melalui sorot matanya.
"Ini namanya telur goreng spesial, karena dimasaknya dengan kasih sayang dan dibumbui pakek cinta."
Sebenarnya bukan itu yang menjadi fokus Rangga. Dia sebenarnya tidak peduli dengan apa yang dimasak istrinya. Dengan melihat Cinta saja rasanya perutnya menjadi kenyang seketika. Dia tidak peduli dengan apa pun itu, dia hanya terpusat pada Cinta. Dia menyukai saat Cinta berbicara sembari tertawa.
Tanpa sadar, Rangga sudah berdiri di belakang Cinta. Memeluk Cinta dari belakang dengan melingkarkan tangannya di pinggang dan menumpukan dagunya di bahu wanita itu.
"Kak, apa yang kamu lakukan? Aku sedang menuang telur," protes Cinta. Dia yang tadinya ingin menuang telur ke penggorengan harus menaruh kembali mangkuk yang berisi telur itu di atas meja karena terkesiap dengan pelukan tiba-tiba yang dilakukan Rangga.
Namun, bukannya mengindahkan ucapan Cinta, Rangga malah semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan bibirnya mulai menjelajah leher Cinta, memberi kecupan-kecupan lembut di sana.
"Aku mencintamu," bisiknya sebelum mengecup pipi Cinta, membuat wajah Cinta merona bahagia detik itu juga.
Cinta mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap rahang suaminya. "Aku juga mencintaimu,"
...****************...