Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Kembali Posesif


"Cinta, terima kasih ya atas semuanya. Kamu sudah banyak membantu untuk pesta anniversary Gilang dan Cika." Siska menggenggam tangan Cinta.


"Ini sudah jadi kewajiban aku, Bunda. Cika 'kan adik aku," ucap Cinta tulus.


"Ayah harap setelah ini kamu bisa menemukan kebahagianmu juga." Bayu mengusap puncak kepala Cinta. "Ini sudah lima tahun berlalu, sudah cukup waktu untuk kamu menutup kenangan buruk di masa lalu dan mulailah dengan membuka lembaran baru."


"Iya Ayah," jawab Cinta dengan tersenyum samar. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini yang jelas sulit baginya kalau harus membuka hati untuk pria lain. Sampai detik ini rasa cintanya hanya untuk Rangga, suaminya. Meski bibirnya pernah mengatakan dia membenci pria itu tetapi, tidak dengan hatinya. Rangga adalah pria pertama dan satu-satunya yang mampu membuatnya jatuh cinta dan selamanya akan tetap seperti itu.


"Oh ya, ibu kamu di mana? Rasanya ayah sudah lama sekali tidak bertemu ibumu."


"Iya, bunda juga sangat rindu dengan ibumu. Terakhir ketemu waktu ulang tahun Sasa, hampir satu tahun sudah."


"Ibu tadi sama ayah lagi ngemong Sunny. Kayaknya di ...." Kepala Cinta celingukan mencari sosok Diana dan juga Reyhan. Matanya sudah berkeliling, bahkan sosok tinggi tegap seperti Reyhan pun tidak dia temukan di antara kerumunan tamu undangan pria yang selalu sibuk membicarakan bisnis di mana pun mereka berada.


Cinta hanya menangkap bayangan Cika dan Gilang, mereka bersama kedua orang tua Gilang sedang tersenyum sumringah menerima ucapan selamat dari para tamu. Tampak sekali raut keharuan dan kebahagian yang bercampur aduk di wajah mereka.


Sampai akhirnya pandangannya berakhir pada sosok pria tinggi atletis yang terlihat akrab dengan Diana juga Sunny. Di sebelah mereka tampak juga Reyhan bersama dengan Davin dan Mario. Mereka terlihat membicarakan sesuatu sembari sesekali menyesap wine di tangan mereka masing-masing.


"Ayah Bayu, itu ibu ada di sana," tunjuk Cinta. Namun, belum sempat mereka menoleh ke arah yang Cinta tunjuk, MC acara sudah memanggil nama Cika dan Gilang beserta kedua orang tua Gilang, termasuk juga Bayu dan Siska untuk naik ke atas panggung memberi sambutan yang kemudian dilanjutkan dengan acara potong kue.


"Hem, kami harus naik dulu. Kamu mau ikut naik?" tanya Siska.


"Ah tidak Bunda, aku mau ke tempat ayah sama ibu aja."


"Okelah, kalau begitu kami tinggal naik ya?" ucap Bayu yang lalu menggandeng Siska naik ke atas panggung.


Selepas di tinggal Bayu dan Siska, Cinta memutuskan untuk ke tempat Rangga. Namun, baru sempat berjalan beberapa langkah, seorang pria tiba-tiba mencegatnya.


Cinta hampir saja menabrak pria itu lantaran kemunculannya yang tiba-tiba di hadapannya. Seketika Cinta mengelus dadanya.


"Ups, maaf Nona sudah mengagetkanmu," ucap pria itu yang tersenyum ramah.


"Iya, tidak apa-apa, Tuan." Cinta tersenyum sekilas sebelum bermaksud meninggalkan tempat itu tetapi, pria itu malah menghadangnya. Dia sengaja menggeser tubuhnya ke arah yang ingin Cinta lewati.


Cinta mengerutkan keningnya.


"Maaf, aku dari tadi memperhatikanmu. Anda sangat cantik Nona, bolehkah kita berkenalan?" ucap pria itu to the point dengan bibir yang semakin tersenyum lebar.


Cinta memperhatikan pria yang berdiri di hadapannya kini. Pria yang sedang memegang gelas wine di tangan kanannya, terlihat seumuran dengan Rangga. Dia tampak rapi dengan setelan jas dan dasinya. Rambut belah samping, bola mata kecoklatan serta memiliki hidung yang mancung. Tampan. Gumam Cinta dalam hatinya.


"Jaga sikap Anda, Tuan!" Cinta mulai emosi. Wajahnya terasa panas hingga ke telinga.


"Aku, Baskara. Aku tidak suka penolakan. Aku terbiasa mendapatkan apa yang aku mau." Nada suara pria yang bernama Baskara itu terdengar dingin dan angkuh. Bukan hanya itu, caranya menatapnya Cinta, sungguh membuat Cinta ingin muntah. Tatapan yang menjijikkan. Baskara menatap Cinta dengan tatapan lapar yang sorot matanya seakan menelanjangi Cinta.


Ingin rasanya Cinta mengeluarkan jurus judonya dan melempar pria ini keluar. Namun, urung. Dia berusaha meredam amarahnya karena mengingat ini pesta Cika dan Gilang, pasti yang hadir adalah rekan-rekan bisnis Gilang, termasuk Baskara. Dia bisa merusak hubungan bisnis Gilang juga pestanya jika melakukan itu. Terlebih lagi dia saat ini sedang menggunakan longdress dan high heels.


"Jadi, secepatnya beritahu namamu sebelum ...."


"Sebelum apa?" Suara Rangga membuat Baskara memutar tubuhnya menengok pria yang sudah memotong ucapannya dan sedang berjalan ke arahnya.


"Ada apa, Sayang? Apa dia mencoba mengganggumu?" Rangga bertanya pada Cinta dengan posisi yang sudah memeluk Cinta dari belakang. Tangan kanan melingkar di pinggang dan tangan kiri melingkar di leher, juga dagu yang bertumpu di bahu Cinta. Kemudian, bibir yang mengecup lembut pipi kiri Cinta. Membuat tubuh Cinta seketika kaku bagai tersengat aliran listrik lantaran kaget dengan tindakan impulsif Rangga.


"Katakan padaku, apa dia mengganggumu? Hm?" Lagi-lagi Rangga mendaratkan ciuman di pipi Cinta. Nadanya terdengar dingin dengan sorot mata setajam silet. Rangga menatap Baskara dengan tatapan seakan ingin membunuh Baskara detik itu juga. Baskara sudah berani menyentuh paksa tangan Cintanya. Membuat Rangga terpancing emosi, hingga naik pitam saat itu juga.


Apa yang Rangga lakukan terhadap Cinta, sungguh membuat Baskara hanya terdiam kaku di tempatnya berdiri. Bola matanya membulat sempurna, antara terkejut dan menahan kesal.


Eh, apa-apaan dia? Apa ingatannya sudah kembali? Kenapa dia seposesif ini padaku?


...****************...


Jangan lupa ritual jejak senin kalian ya disini🤭 bagi vote untuk Cinta sama Rangga👏👏👏 kalau banyak yang masuk tar sore aku up lagi🤗😘


Oya guys aku minta bantuan kalian dong, bantu aku pilih cover mana yang bagus untuk next story aku😁


CV 1



CV 2



Cv3