Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
You're Driving Me Insane


Sang fajar telah bangun dari peraduannya, dari ufuk timur tampak matahari dengan malu-malu mulai merangkak naik menyelimuti permukaan bumi dengan sinarnya. Burung-burung berkicau merdu, melompat ke sana kemari dengan riangnya.


Cinta perlahan membuka matanya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela membuat matanya menyipit untuk menyesuaikan pandangan. Perlahan dia mengerjap saat menyadari hari sudah berganti dan dirinya kini telah berada di atas ranjang pasien dengan selang infus yang menancap di punggung tangan kirinya. Kedua alisnya menekuk, menyadari sebuah tangan yang menjadi bantalan kepalanya dan tangan lainnya yang mendekap hangat pinggangnya dari belakang.


Sentuhan ini tidak asing, tubuhnya bisa merasakan sendiri siapa pemilik tangan yang menyentuhnya ini. Perlahan dia memutar tubuhnya. Matanya seketika membulat saat apa yang dia pikirkan tadi adalah kebenaran. Dengan hati-hati tangannya terulur meraba wajah seseorang di hadapannya kini. Meyakinkan dirinya kalau yang dialaminya kini adalah nyata dan bukan mimpi.



Sentuhan tangan Cinta membuat pria itu merasa terusik dari tidurnya hingga perlahan membuka matanya. "Kamu sudah bangun?" Suara serak dan dalam itu terasa menggema di telinga Cinta. Senyum manis dengan jelas terlihat, terukir indah di bibir seksi pria yang kini masih mendekapnya dengan erat.



"Ka-kamu ...."Ucapannya tercekat. Lidahnya terasa kaku untuk digerakkan. Ini sungguh membuat Cinta tidak mampu berpikir dan berkata apa-apa. Bukankah kemarin pria ini sudah meninggalkannya dengan membawa pergi putrinya, lalu kenapa sekarang dia malah masih di sini bahkan tidur satu ranjang dengan Cinta?



"Kamu kenapa hujan-hujanan? Untuk apa menyiksa dirimu sendiri? Hm?" Pria itu bicara dengan sangat lembut sembari merapikan rambut Cinta.


Cinta masih terdiam, terpaku memandang sosok pria di depan matanya ini. Pandangannya mulai buram saat kristal bening mulai berkumpul memenuhi kelopak matanya.


"Aku bertanya padamu, kenapa kamu hanya diam? Ayo jawab, Sweetheart!" Kini pria itu mengusap pipi Cinta masih dengan senyum manisnya.



"Tidak! Tidak mungkin Kak Rangga di sini. Ini pasti mimpi. Aku pasti bermimpi lagi." Bibirnya bergetar seiring butiran bening yang luruh membasahi pipinya. Segera Cinta menjauhkan tubuhnya dan mencoba bangkit.


"Aww!" ringis Cinta saat menyadari jarum infus masih menancap di punggung tangannya.


Rangga yang kaget segera ikut bangkit dan menyentuh punggung tangan Cinta. "Hati-hati Sayang, nanti jarum infusnya lepas." Meraih lalu mengusap dan meniup punggung tangan Cinta yang terpasang jarum infus.


"Tidak, lepaskan! Jangan menyentuhku!" sengit Cinta sembari menarik kembali tangannya.


Rangga yang kaget dengan penolakan Cinta hanya diam menatapnya.


"Kamu kejam, aku membencimu!" ucap Cinta setengah berteriak. Air matanya kembali mengalir deras.


"Sayang, dengarkan aku." Rangga mencoba meraih tubuh Cinta untuk memeluknya tetapi, Cinta menepis tangannya.


"Enggak! Aku gak mau dengar apa pun. Apa pun yang kamu ucapkan itu bulsh*it." Kini kedua tangannya sudah menutup wajahnya. Cinta menunduk lalu meraung semakin keras.


"Maafkan aku," bisik Rangga yang sudah meraih Cinta dalam pelukannya. Mengusap rambut dan punggung Cinta lalu mengecup kepalanya berulang kali.



"Kamu jahat! Kamu membuatku serasa ingin bunuh diri." Cinta memukul-mukul dada Rangga dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.


"Aku sangat mencintaimu. Percayalah, aku juga terpaksa melakukan semua itu. Aku hanya ingin membuatmu sadar kalau seperti itulah perasaanku saat kalian meninggalkanku. Kalian adalah nyawaku. Kalian separuh hidupku."


"Lalu, apa sekarang kamu sudah puas? Sudah puaskah kamu karena berhasil balas dendam padaku? Sudah puaskah kamu yang berhasil menyiksaku hingga aku hampir bunuh diri?"


"Tentu saja belum. Aku belum puas ...."


"Apa?!" Cinta mendorong dada Rangga dengan kasar, hingga kini wajahnya dengan leluasa bisa menatap wajah pria di depannya. Wajahnya memanas. Dia sudah sangat frustasi hingga kehilangan semangat hidup kemarin, dan pria ini dengan santainya mengatakan dia belum puas. Dasar psikopat!


"Aku belum puas jika aku belum bisa membawamu dan Sunny pulang bersamaku." Senyum Rangga kembali mengembang. Tangan kanannya terulur mengusap pipi Cinta.


Cinta menangis semakin kencang setelah mendengar ucapan Rangga. Dengan segera dia menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Rangga.


"Aku juga sangat mencintaimu Kak, sampai kapan pun. Just you're the one man, and cause you're driving me insane," ucap Cinta di sela-sela isak tangisnya.


Rangga mengulum senyum. "Wah, istriku sudah pandai merayu rupanya," goda Rangga yang dijawab sebuah tinju di dadanya.


"Aw, kok mukul sih?"


"Habis aku ngomong serius malah kamu becadain," protes Cinta dengan nada manja sembari mengeratkan pelukannya di pinggang Rangga.


"Benarkah? Apa aku bisa pegang ucapanmu?"


"Tentu saja!" jawab Cinta yakin.


"Berarti kamu mau berjanji satu hal padaku?"


"Apa?" Cinta melonggarkan pelukannya demi bisa menatap mata suaminya.


"Berjanjilah untuk selalu percaya padaku." Kedua tangan Rangga menangkup kepala Cinta. Rangga menatap lekat manik hazel Cinta yang dibalas dengan tatapan yang sama oleh Cinta.


"Tentu saja, aku janji gak akan mengulangi kesalahanku lagi. Tapi, kamu juga harus janji untuk selalu jujur sama aku."


"Pasti!" Rangga mengecup kening Cinta, kedua matanya, hidungnya, lalu bibirnya. Melu*matnya pelan, menye*sap rasa manis yang tidak pernah membuatnya bosan.


"Yang lama," pinta Cinta dengan nada manja yang membuat Rangga tersenyum bahagia.


"Nanti saja di rumah." Mengacak rambut Cinta gemas.


"Sekarang, di rumah masih lama." Nadanya semakin manja, bahkan kini dia sudah memajukan bibirnya, membuat Rangga semakin gemas.


"Buruan!" desak Cinta saat mengetahui Rangga hanya tersenyum melihatnya.


Rangga menghela napas dalam sebelum kembali menyatukan bibir mereka.


"Eits, eits, eits, sabar dong sabar. Ini rumah sakit woi, jangan mesum di sini," seru Gilang yang tiba-tiba sudah berada di dalam ruangan Cinta.


Sontak Rangga melepaskan panggutan bibirnya, dan bersamaan dengan Cinta melihat ke arah Gilang yang ternyata datang bersama Cika, Stella, dan Arga. Mereka kompak tersenyum geli melihat apa yang Cinta dan Rangga lakukan barusan.


"Kalian ganggu aja ih," gerutu Cinta. Dengan kesal dia melempar bantal ke arah mereka yang langsung ditangkap oleh Gilang.


"Sorry, tadi maunya kami jengukin kamu tapi, karena kamu merasa terganggu, ya sudah, kalau begitu kami balik saja." Gilang melengos memberi kode semua orang untuk meninggalkan ruangan itu.


"Kami pulang ya, Kak." Cika dan Stella melambaikan tangannya.


"Kami pulang, kalian silahkan lanjutkan kembali." Arga tertawa mengejek sebelum menutup pintu kembali.


Sementara Cinta dan Rangga tertawa bersama. "Masih mau lanjut?" goda Rangga.


Tanpa menjawab, Cinta lebih dulu menarik leher Rangga. Menye*sap bibir seksi suaminya yang sangat dia rindukan, yang selalu membuatnya menginginkan lagi, lagi, dan lagi.


...****************...