Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Tak sadarkan diri


Sebuah mobil sport hitam berhenti mendadak, dua orang pria tampan turun dengan stelan jas nya mendekati Anin.


Dialah Derald dan Nichol, "Lepasin dia!" Teriak Derald. Terlihat dari sorot matanya penuh dengan kemarahan, bahkan ia tidak peduli dengan keadaan nya yang sudah basah kuyup karna hujan yang semakin deras.


Kedua penjahat itu berbalik begitu pun Anin, mereka saling melirik. Derald dan Nichol mendekat tanpa rasa takut, salah satu dari penjahat itu maju hendak menyerang Derald. Dengan sigap Derald menarik tangan pria yang hendak memukulnya dengan kasar dan mendorong nya kepada Nichol.


Nichol tersenyum smirk, dengan senang hati ia akan melakukan nya. Sudah lama ia tidak berlatih bela diri, "Oke, let's play the game.."


'Bugh' satu pukulan tepat mengenai hidung penjahat itu. Kini penjahat itu terhuyung ke belakang dengan cepat Nichol menarik kerah baju pria itu dan memukulinya kembali.


Sedang Derald tersenyum puas, ia kembali menatap pria satunya yang masih menahan Anin. Terlihat Anin sedikit berontak, seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa karna mulutnya tertutup.


Derald melihat mata Anin yang memerah, basah dan sayu, menyiratkan ketakutan dan penderitaan didalam nya. Tangan Derald mengepal kuat ia berjalan maju, langkah Derald semakin cepat ia sedikit berlari, tiba-tiba Derald berjongkok dan 'Sreet..' Derald menyeleding kaki penjahat itu.


'Brukk' Penjahat itu terjengkang ke belakang, tangan nya yang ia gunakan untuk menutup mulut Anin melayang ke udara begitupun tangan satunya lagi terlepas dari tangan Anin. Tubuh Anin yang tidak seimbang hampir ikut terjatuh menimpa tubuh penjahat itu. Untung nya dengan cepat Derald menangkap tangan Anin dan menariknya hingga Anin jatuh di atas tubuhnya.


'Duk' suara punggung Derald yang beradu dengan aspal.


Wajah Anin tenggelam di dada bidang Derald, tangan nya ia gunakan menjadi penghalang dada nya. Derald meringis, Anin terkejut ia mengangkat kepalanya tatapan keduanya saling beradu.


"Kamu gak papa?" Tanya Anin lembut.


"Hm"


Melihat Anin sangat dekat dengan nya, seketika rasa sakit dipunggung Derald teralihkan. Rambut basah dan wajah cantik tanpa make up itu semakin membuat Derald larut dalam perasaan nya, ia sampai lupa dengan situasi sekarang.


Penjahat itu kembali bangkit, "Rald, awas!" Teriakan Nichol seketika mengembalikan kesadaran Derald.


Derald melihat penjahat itu hendak memukul Anin yang berada diatasnya dengan sebuah balok kayu, namun Derald tidak akan pernah membuat hal itu terjadi. Dengan gerakan cepat Derald membalik kan tubuh Anin jadi di bawah kungkungan nya.


'Bugh' pukulan itu mendarat tepat di punggung Derald. Sesaat Derald memejamkan matanya merasakan nyeri di punggung nya terasa semakin ngilu. Anin membelalak, ia terkejut Derald rela mendapat pukulan itu untuk melindungi nya.


"Derald..." Ucap Anin lirih, "Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Anin menatap Derald khawatir.


Derald membuka matanya menatap Anin teduh dengan senyuman tipis, seolah mengatakan jika ia baik-baik saja.


"Karna aku mencintaimu..." hanya mampu bicara dalam hati.


Derald bangun, ia berdiri menghadapi penjahat itu. Anin beranjak ia berusaha berdiri, di tengah deras nya hujan Anin melihat Derald terus memukuli pria yang mengganggunya tadi dengan membabi buta.


"Kenapa disaat seperti ini dia yang selalu ada, sedangkan orang yang aku harapkan menolong ku tak pernah ada di saat aku membutuhkan nya. Tapi, lagi dan lagi Derald yang selalu menjadi malaikat penolong ku. Bahkan dia rela terluka demi melindungi ku yang jelas-jelas aku bukan siapa-siapa baginya, seakan dialah yang mampu mendengar jeritan hati ku..." Batin Anin dengan air matanya yang tiada henti mengalir di pipinya.


Tubuh Anin bergetar, Anin mengurai rambut basah nya, ia juga mengusap wajah nya. Anin merasa seluruh tubuh nya menggigil, namun Anin tidak mengindahkan apa yang tengah ia rasakan.


Anin kembali melihat ke arah Derald, dan penjahat itu sudah terkapar dengan bayak luka diwajah nya, bahkan ia sampai terbatuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.


Terlihat nafas Derald yang naik turun, Derald melihat Anin yang berdiri tak jauh darinya. Anin menatapnya dengan tatapan yang sulit Derald pahami. Mereka saling pandang, terlihat rintik air hujan yang menghalangi pandangan keduanya. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Anin tersenyum tipis, melihat Derald baik-baik saja. Namun, kini kepala nya terasa berat bahkan ia merasa sakit disekujur tubuhnya hingga Anin merasa tulang-tulang ditubuhnya remuk. Anin ambruk seketika, pandangannya pudar terlihat Derald dan Nichol mendekatinya walau sedikit kabur. Sayup-sayup Anin mendengar suara berat Derald di telinganya.


"Anin! Anin bangun, kamu kenapa?" Ucap Derald panik.


Derald segera menggendong Anin ala bridal style masuk kedalam mobil. Nichol masuk dan duduk di kursi kemudi, sedang Derald duduk di kursi belakang pahanya ia gunakan untuk menopang kepala Anin. Nichol melajukan mobil nya dengan kecepatan standar.


Tubuh mereka basah tapi mereka tak menghiraukan itu, Derald melihat tubuh Anin menggigil wajah Anin juga terlihat pucat, bibir merah muda yang selalu membuatnya tergoda kini mulai membiru. Anin memang masih setengah sadar, ia masih bisa mendengar dan merasakan apa yang Derald lakukan untuk nya.


Derald melepas jas nya menutup sebagian tubun Anin, meski ia tau jas nya juga basah. Namun tak ada yang bisa ia gunakan sebagai selimut, mata Anin terbuka perlahan.


"Jangan khawatir, kamu akan baik-baik aja. Tahan sebentar ya! Aku gak akan pernah ngebiarin kamu sampai kenapa-kenapa. Percaya sama aku!" Ujar Derald lembut, walaupun sejujurnya ia sangat cemas.


"Aku-- percaya. Te-ter-ima-kasih..." Ucap Anin bergetar lirih.


Senyuman Anin membuat hati Derald terasa perih. Derald menatap Anin sendu, ia melihat air mata keluar dari sudut mata Anin. Entah kenapa ia merasakan sakit dalam hatinya, melihat Anin lemah tak berdaya seperti ini rasanya Derald tak sanggup. Ia memberanikan diri mengusap pipi Anin lembut menghapus sisa air mata Anin, Nichol melihat keduanya melalui center mirror.


Baru kali ini Nichol melihat Derald sekhawatir ini pada seorang wanita, selain Mommy dan adik nya. Nichol juga melihat Derald seperti ini saat kejadian dipuncak waktu itu.


"Sepertinya dia benar-benar mencintai Anindira" batin Nichol.


"Mau kita bawa kemana dia?" Tanya Nichol memecah keheningan.


"Kenapa Lo masih nanya? Kerumah sakit lah!" Jawab Derald dengan suara meninggi. Sungguh pertanyaan bodoh bagi Derald, sudahlah ia panik dengan keadaan Anin yang semakin tak berdaya.


"Ja-ngan!" Ucap Anin gemetar.


Perhatian Derald kembali pada Anin, "Aku-- gak mau ke rumah sakit" sambung Anin lemah.


"Enggak! Aku harus membawa mu ke rumah sakit.." jawab Derald cepat.


Anin menggeleng pelan, namun detik kemudian Anin kehilangan kesadaran sepenuhnya.


"A--Anin... Gak, Anin bangun! Hey, aku mohon buka mata mu!" Ucap Derald panik, ia menepuk pipi Anin lembut.


Nichol yang tengah mengemudi pun ikut panik, ia menambah kecepatan mobilnya.


...****************...


Bonus part nih😉


Jangan lupa like, komen dan vote nya🤗