Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Firasat


Tubuh Cinta masih tergolek di atas ranjang empuk miliknya. Matanya masih terpejam seakan tidak mau mengakhiri sisa-sisa malam yang perlahan habis dimakan sinar matahari.


Pantulan sinar matahari yang menerpa wajahnya, membuat Cinta merasa silau hingga mau tidak mau dia menggeliat dan perlahan memicingkan matanya melirik sinar matahari yang sedang memaksa menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamarnya.


Dengan malas dia bangkit dan meraih jam di atas nakas.


"Hah! Udah jam delapan. Tumben sekali ibu tidak membangunkanku," gumamnya.


Cinta beringsut dari kasur dan menyeret kakinya menuju jendela. Dengan tegar tapi hampa, Cinta membuka gorden dan juga jendela kamarnya. Matanya menatap tajam, membelah matahari yang sinarnya mulai menerobos langsung menerpa kulitnya. Namun, sepertinya bukan matahari yang menerpanya tetapi, dialah yang akan menyongsong dan menantang matahari dengan segala ketegaran dan keyakinan yang dimilikinya.


Sampai detik ini dia masih bingung jalan apa yang harus dia tempuh untuk hubungannya dengan Rangga. Di satu sisi dia tidak bisa membohongi hatinya kalau dia sangat mencintai pria itu dan merindukannya. Namun, di sisi lain dia tidak ingin tersakiti lagi, hidup dalam rasa cemas dan ketakutan akan dibohongi dan dihianati lagi.


Tokkk ... tokkk ... tokkk ....


"Kak Cinta, Kak Cinta sudah bangunkah? Aku boleh masuk, gak?"


Teriakan dari seseorang yang Cinta kenal di luar pintu kamarnya menyadarkan Cinta dari lamunan panjangnya.


"Masuklah, Shine!" jawab Cinta dan menunggu Shine membuka pintu yang menghampirinya dengan tersenyum riang dan langsung memeluknya.


"Hai Shine, kapan kamu balik dari Bali?"


Shine melepas pelukannya. "Baru aja. Dari bandara aku langsung minta ke sini dulu sama kak Stevan buat ngantar oma, baru balik ke apartemen. Sekalian bawa oleh-oleh dulu buat kalian."


"Benarkah? Terus, di mana Kak Stevan sekarang?"


"Lagi ngobrol di ruang tengah sama ibu Diana sama oma juga."


"Owh, gimana acara foto prewedingnya, lancar?"


"Iya, semuanya berjalan dengan lancar. Sebenarnya tiga hari udah beres, cuma aku dan kak Stevan pingin nambah liburan aja di sana." Shine terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


"Bulan madu yang keduluan dong," goda Cinta. Mereka lalu tergelak bersama.


"Gak juga sih Kak, 'kan sama oma juga jalan-jalannya."


"Hm, bener juga ya."


"Kakak gimana? Aku denger dari om dan ibu Diana, bentar lagi akan punya baby ya? Cieehhh, cewek apa cowok Kak? Apa kembar? Sekarang, 'kan lagi musim tuh baby kembar. Pasti seru deh kalo anak Kak Cinta kembar," celoteh Shine.


"Belum ketahuan kalo jenis kela*minnya Shine, baru masuk empat bulan. Lagipula, gimana caranya bisa kembar, sedangkan riwayat di keluarga kita, 'kan gax ada yang punya anak kembar. Jadi, dari mana datangnya gen kembar itu."


"Yah, siapa tau aja dulunya nenek moyang keluarga ini pernah melahirkan anak kembar, atau dari keluarga kak Rangga? Bisa aja, 'kan?"


"Iya juga sih tapi, enggak ah Shine. Pasti bakalan repot banget aku nanti." Cinta tertawa geli membayangkan dirinya betapa repotnya mengurus dua bayi sekaligus, ditambah tidak ada Rangga disisinya.


Begitu mengingat Rangga seketika keceriaan Cinta lenyap. Dia mengatupkan kembali kedua bibirnya.


"Lho, kenapa Kak Cinta keliatan sedih?" tanya Shine heran demi melihat raut wajah Cinta yang seketika berubah muram.


"Gak apa-apa Shine, aku hanya sedikit pusing," bohongnya untuk mengalihkan perhatian Shine.


"Kak Cinta sakit? Barusan aku juga sempat papasan sama kak Rangga. Aku liat wajahnya tadi pucet tapi, dia bilang dirinya baik-baik aja."


"Oh iya, aku ke sini tadinya 'kan bangunin Kak Cinta buat sarapan tapi, malah ngelantur ceritanya." Shine tersenyum geli. "Udah ah, ini udah hampir siang. Buruan gih mandi, aku tunggu di bawah ya." Cinta membalas ucapan Shine dengan anggukan yang dibalas senyuman oleh Shine sebelum meninggalkan Cinta di kamarnya.


...****************...


Malam semakin larut, Cinta tengah mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia gelisah karena belum mendengar suara mobil Rangga kembali ke rumah padahal waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Setahu Cinta biasanya mobil Rangga terdengar memasuki halaman rumah tiap jam 9 malam. Ini sudah lewat 2 jam dari biasanya. Firasat buruk tiba-tiba menghinggapi jiwanya.


Cinta kembali mengintip lewat jendela, berharap mobil Rangga memasuki halaman rumah. Hal yang sebenarnya setiap malam dia lakukan. Mengintip kepulangan Rangga, baru tidur nyenyak setelahnya. Seperti malam ini tetapi, sudah sampai jam 11 malam dia menunggu, mobil Rangga juga belum terlihat kedatangannya.


Apa dia pulang ke apartemen? batin Cinta.


Ingatan tentang ucapan Shine tadi pagi mengenai wajah Rangga yang pucat menambah kegelisahan hatinya. Dengan gusar diraihnya ponsel di atas nakas untuk mencari kontak Rangga.


"Telpon? Enggak! Telpon? Enggak! Tel ... arrgh!" Cinta mengacak rambutnya sendiri.


"Kalo telpon tar dia ge-er tapi, kalo gak telpon ... em, telpon Cika aja deh biar ditanya ke kak Gilang."


Akhirnya dia memutuskan menelepon nomor Cika tetapi, tidak diangkat. Cinta menelepon lagi tetapi, lagi-lagi tidak diangkat.


"Apa Cika udah tidur kali ya?" Cinta terus berbicara pada dirinya sendiri. Namun, ditengah rasa putus asanya, ponsel Cinta tiba-tiba bergetar dan ternyata panggilan dari Cika.


"Halo Cik," jawabnya cepat, "maaf aku ganggu istirahat kamu."


"....."


"Em, itu ... anu ... em, kak Gilang udah tidur?" tanya Cinta sungkan.


"....."


"Belum pulang? Kemana? Apa pergi sama kak Rangga? Soalnya kak Rangga juga belum pulang." tanya Cinta harap-harap cemas.


"....."


Wajah Cinta seketika berubah tegang, dia menutup mulutnya, dan air matanya sudah menimpa wajahnya tanpa dia sadari.


"Apa? Di rumah sakit mana?" tanya Cinta di sela isak tangisnya.


"....."


"Oke makasi, Cik. Aku segera berangkat." Cinta mematikan ponselnya dan meraih jaketnya lalu bergegas menuruni tangga dan memanggil sopirnya.


Dia bahkan tidak sempat berpikir untuk memberitahu Diana ataupun Reyhan tentang kepergiannya. Yang ada di pikirannya hanya ingin cepat sampai di rumah sakit dan melihat keadaan Rangga.


...****************...


Hemmm, kira-kira Rangga kenapa ya???? Penasaran gak guys (ngarep) ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ


Aku udah up double lho jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Apapun dukungan dari kalian asalkan positif aku makasih banget lho๐Ÿ˜š Karena dukungan kalian penyemangat aku๐Ÿค—๐Ÿค—


Ok guys see u next chapter ya, thanks of all๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜