
Cinta menangkup kepalanya dengan kedua tangannya. Rasa pusing di kepala akibat pengaruh alcohol yang diminumnya, ditambah memikirkan alasan kenapa dia bisa berada di kamar itu bersama Ben, pria yang tidak dikenalnya.
Cinta menyadari kalau dirinya sedang tidak bermimpi. Dia lalu memilih meringkuk dalam selimut, enggan menyembulkan wajahnya. Malu. Cinta malu membayangkan apa yang sudah dia lakukan dengan Ben di kamar itu semalam. Bermalam dengan laki-laki yang tidak dikenalnya disaat dirinya masih berstatus istri Rangga.
"Kenapa aku bisa ada di kamarmu? Kita bahkan tidak saling kenal!!!" Cinta memberanikan diri berteriak dari balik selimut.
Dengan masih berbalut handuk, Ben berjalan mendekati Cinta lalu duduk di sebelahnya.
"Kenapa? Apa kamu benar-benar tidak bisa mengingat kejadian semalam?"
Cinta mengintip dari balik selimut, melirik sosok tampan yang duduk di hadapannya. Fresh from the bathtube! Mata Cinta refleks menutup kembali. Dia meyakinkan dirinya untuk tidak sampai tergoda.
"Jangan mendekat! Apa yang ingin kamu lakukan?" pekik Cinta saat tangan Ben mencengkram kedua bahunya.
Ben hanya menyunggingkan senyum. "Tidurlah, kamu pasti masih pusing." Mendorong tubuh Cinta agar berbaring di ranjang.
Entah kenapa Cinta sangat penurut. Dia hanya memperhatikan sosok tampan yang membaringkan tubuhnya dan membenarkan selimutnya.
"Kamu belum jawab kenapa aku ada di sini!" protes Cinta saat Ben sudah berdiri di depan lemari lagi. Ben masih terdiam.
Cinta menjadi gemas. "Hei, aku bertanya padamu, Tuan!" Cinta mengangkat tubuhnya kembali dan menatap kesal ke arah Ben yang membelakanginya.
Namun, Ben masih bersikap tak acuh. Dia lebih menyibukkan dirinya memilih pakaian yang akan dikenakannya. Kemudian, dengan santainya Ben melepas handuknya hingga menampilkan tubuh polosnya di depan Cinta begitu saja tanpa rasa malu.
"Astaga!" Mata Cinta rasanya hampir buta karena terlalu menutup rapat kelopak matanya.
"Jika sudah tidak pusing, lebih baik kamu mandi dan segera pakai pakaianmu sebelum aku tergoda lagi karena bahu polosmu."
Refleks Cinta menarik kembali selimutnya, menggulungnya hingga leher.
"Apa maksudmu berkata seperti itu?" salak Cinta. "Kamu belum bilang kenapa aku bisa ada di kamarmu?"
Ben kembali mengacuhkannya. Pria itu sibuk menyisir rambutnya dan tersenyum memandang pantulan dirinya dan Cinta di cermin.
"Lebih baik kamu pakai bajumu dulu, Nona!" jawab Ben mengacuhkan pertanyaan Cinta. Dia masih sibuk membenarkan dasinya, lalu menyisir rambutnya dengan jari.
Tanpa di duga, Cinta melempar bantal yang tepat mengenai kepala Ben.
Bugh!
"Aku dari tadi bertanya padamu, kenapa aku bisa ada di sini tetapi, kamu malah terus mengabaikanku." Cinta menatap geram ke arah Ben.
Cinta tidak sadar jika dia belum mengenal pria yang berdiri di hadapannya ini. Bahaya bisa saja mengintainya. Terbukti wajah Ben seketika berubah dingin setelah kepalanya dilempar bantal oleh Cinta.
Dengan wajah datar Ben mendekat ke arah Cinta, membuat tubuh Cinta menegang. Cinta kembali merasa takut tetapi, berusaha untuk terlihat kuat.
"Apa? Kau mau marah? Aku bisa teriak di sini sekarang juga!" Cinta memasang wajah tegas dengan tatapan menantang Ben. Dia bagaikan anak an*jing yang ketakutan tetapi, tetap berusaha galak.
"Kau!" Cinta menjadi bertambah geram, dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan berniat bangkit untuk memberi pelajaran pada Ben. Namun, tiba-tiba luka di perutnya terasa perih. Padahal sudah hampir 5 tahun lamanya tetapi, bekas goresan pisau operasi caesar masih sering membuatnya merasa nyeri dan ngilu.
"Akhh, sakit." Cinta meringis dan mengurungkan niatnya untuk bangkit. Dia menunduk, memegang perutnya.
Demi apa? Ben yang melihat Cinta dalam kondisi seperti itu, seketika berubah iba. Wajahnya yang tadinya dingin berubah menjadi raut penuh penyesalan dan rasa bersalah. Dia mendekati Cinta dan duduk kembali di sebelah Cinta.
"Apa ini sangat sakit? Luka caesar-mu?" tanya Ben yang tangannya sudah berada di perut Cinta yang terdapat luka bekas caesar. Dia menundukkan wajahnya menatap tangannya yang menyentuh di bagian luka itu dengan lembut dari balik selimut yang masih menutupi perut Cinta.
Astaga, dia tampan sekali. Batin Cinta. Dengan wajah datar Cinta menelusuri raut dan garis tegas yang dimiliki Ben.
Gila! Pandangan Cinta tidak bisa lepas dari wajah pria di hadapannya ini.
"Tidurlah!" ujar Ben lembut.
Tanpa Cinta sadari wajah Ben sudah berada di perutnya dan tanpa dia duga juga pria itu sudah mengecup bagian lukanya dari balik selimut. Kemudian, Ben tersenyum manis ke arah Cinta setelah melakukan itu.
Cinta mengerjap beberapa kali, dia semakin tidak mengerti dengan sikap Ben terhadapnya. Mengecup lukanya. Apa maksudnya? Bagaimana pria itu bisa menyentuh dan mengecupnya dengan sangat tepat luka di perutnya? Apa jangan-jangan, semalam memang benar mereka sudah ...? Makanya pria itu tahu Cinta punya luka caesar dan tahu persis di mana letaknya.
"Kamu mau apa?" tanya Cinta panik saat tangan Ben bermaksud menyibak selimut yang menutupi perut Cinta.
Namun, Ben tidak menjawab. Tangannya masih berusaha menyibak selimut di bagian luka itu.
"Kamu mau mes*um?!" Cinta semakin panik.
Bugh!
Tanpa banyak pikir, dengan mengabaikan sakit di perutnya tadi, refleks Cinta membenturkan jidatnya yang tepat mengenai pangkal hidung Ben.
Cukup keras sampai Ben terlihat meringis dan seketika mengusap-usap pangkal hidungnya.
"Aww! Kamu masih saja badas!"
...****************...
🤣🤣🤣 Pertemuan yang awkward ya guys😆
Mau lanjut???
Bagi 🌹atau ☕ 🤭🤭🤭
Ok sampai sini dulu, kutungggu hadiah dari kalian😁
Bye all😘