
Seminggu berlalu hari ini intan harus mulai magang sesuai dengan persyaratan skripsi dan intan memutuskan untuk pihak kampus yang menentukan dimana ia akan magang.
"ma, pa intan berangkat dulu hari ini mulai magang diperusahaan. Intan juga ngga tahu perusahaan apa!" ucap intan berpamitan
Segera bergegas ke kampus untuk membawa surat pengantar ke perusahaan
.
.
.
"kenapa diluar kota pak! Lumayan jauh dari rumah saya" ucap intan sedikit kecewa melihat isi suratnya bahwa intan harus magang selama tiga bulan keluar kota
Yang artinya akan jauh dari keluarganya. Namun setelah dipikir lagi mungkin ini yang terbaik buatnya
Dia bisa menyingkir dari kehidupannya saat ini yang sulit terkendalikan
"baiklah pak, besok pagi saya akan berangkat. Saya harus beritahu orang tua saya dulu! Dan berkemas!" ucap intan meralat ucapannya yang memprotes keputusan untuk magang diluar kota
"dasar labil! Ya sudah ini bawa dan belajar yang benar disana. Jangan macam-macam dan pulang segera selesaikan skripsimu. Itu pesan papamu!" ucap dosen pembimbing yang
Ternyata adalah sahabat dari pak aji, papa dari intan
"pasti ini ada hubungannya dengan papa kan pak?" tanya intan curiga
"sudah tahu kenapa harus bertanya!" jawab dosen intan sambil tersenyum
"pulanglah dan bersiap!" lanjut dosen lagi
"baik pak, saya permisi dulu!" intan berpamitan dan tak langsung pulang
Intan berinisiatif untuk datang kerumah wily untuk berpamitan dengan mama mertuanya dan juga wendi.
Intan yakin saat ini wily sedang tak dirumah. Jadi kesempatan yang baik untuk intan datang
.
.
.
.
"bik, mama nita ada?" tanya intan setelah sampai dirumah wily yang terlihat sepi
Intan mengendarai mobilnya sendiri agar lebih mudah untuk berpergian
"bu, baru pulang? Nyonya ada dikamar kalau bapak sudah berangkat sejak tadi pagi!" ucap bik titin membukakan pintu dan mempersilahkan intan masuk
"saya kekamar mama dulu ya bik!" ucap intan hatinya ragu tapi ia tetap harus mengatakan yang sebenarnya
Tok...tok..tok
"maaa, ini intan! Boleh intan masuk?" ucap intan didepan kamar mama nita
"sebentar nak!" mama nita beranjak dari tidurnya karena sedang tak enak badan lalu membukakan pintu untuk menantunya
"masuk sayang! Kamu kenapa ngga hubungi mama. Mama kangen sama kamu!" ucap mama nita yang terlihat pucat
"mama sakit ya? Mama pucat banget ayo duduk ma!" intan khawatir dengan mama nita
"ngga nak, mama baik-baik saja. mama ingin kalian tetap bersama apapun yang terjadi!" pinta mama nita tulus
Ia merasa hidupnya tak lama lagi dan memastikan anaknya bahagia dalam kehidupannya nanti
"ma, intan akan selalu membantu jika intan bisa lakukan. Maafkan intan ma sepertinya intan tak bisa terus mendampingi mas wily ma
Maaf ma, hari ini intan pamit untuk tidak tinggal dirumah ini lagi. Untuk semua surat-surat intan serahkan pada mas wily saja.
Intan yang salah ma...maafkan intan!" intan memeluk kaki mama nita yang terlihat lemas dengan apa yang dikatakan intan
Hal tak ia sangka sebelumnya. Anak dan menantunya harus berpisah diusia pernikahan seumur jagung
"apa nak? Ini hanya mimpi kan! Katakan ini semua bohong intan!" mama nita menangis
"maafkan intan ma, intan yang salah maafkan semua ini salah intan!" intan memeluk mama nita yang terdiam
"apa wily menerimanya?" tanya mama nita memastikan
Intan mengangguk
"iya ma, mas wily sudah melepaskan intan didepan orang tua intan ma, tapi ma intan ingin kita tetap bisa berhubungan dengan baik ma!" ucap intan
Makin membuat sesak didada mama nita
"apa masalahnya nak? Apa wily tak memperlakukanmu dengan baik atau dia selingkuh?" mama nita tak rela begitu saja
"bukan salah mas wily ma, ini adalah salah intan yang tak bisa mencintai mas wily dan tak mau membuat keadaan semakin memburuk!" jawab intan dengan terbata
"mama harus sehat ya ma, intan sekalian pamit intan harus keluar kota untuk beberapa bulan. Intan pamit ma! Sampaikan salam intan untuk mas wily dan wendi!" intan meninggalkan mertuanya yang masih dengan tatapan kosong
Intan berlari keluar kamar dan menabrak wendi yang baru saja pulang dari tempat magang.
"intan? Magang dimana?" tanya wendi namun intan melambaikan tangan dan berlari keluar rumah
Mengandarai mobil menuju apartemen sahabatnya
.
.
.
Sampai diapartemen puspa dan hani intan masuk karena tahu pin kamar sahabatnya
"intan! Kamu kenapa menangis? Ayo duduk!" hanu memeluk intan dan mengusap punggung intan agar tenang
Puspa mengambilkan air hangat dan meminta intan untuk meminumnya
"coba tarik nafas yang dalam, dan coba jelaskan apa yang terjadi. Apa perlu kami hubungi suamimu"
"jangan!!!" intan mulai bersuara
"kami sudah berpisah! Jangan hubungi dia lagi untuk masalahku
Aku hanya ingin menangis sebentar. Dan jangan tanyakan apapun!" ucap intan tak mau menjelaskana apapun
Sebagai sahabat yang tahu perasaan intan saat ini hanya bisa menuruti. Nanti intan pasti akan menceritakan jika sudah saatnya
"besok aku akan magang diluar kota, tolong jangan kasih tahu siapapun
Dan kalian jangan berikan nomer baruku pada siapapun aku mohon!" intan berpamitan pada puspa dan hani
"iya kamu tenang saja. Tapi beritahu kami jika kamu ingin bercerita dan punya masalah apapun!" ucap puspa yang sedih dan memeluk intan
Sungguh tak tega rasanya tapi taka ada yang bisa diperbuat. Intan memang keras jika sudah pada keputusannya
"terima kasih!" aki harus pulang untuk bersiap
Intan menghapus air matanya. Lalu kekamar mandi dan mencuci mukanya lalu berpamitab untuk pulang kerumah