Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Kedatangan Vina ke Rumah Sakit


"ANIN!!"


Tatapan ketiga nya beralih pada sumber suara, seketika senyuman dibibir Anin lenyap begitu saja. Begitupun dengan Derald, kini ekspresi wajah nya berubah datar.


"Vina?" Gumam Anin lirih.


Bukan itu yang membuat Anin terkejut melainkan ia melihat Bastian yang berdiri tepat disamping Vina.


Tanpa disadari, gumaman Anin tertangkap oleh pendengaran Derald. Derald mengalihkan pandangannya pada Anin yang tengah menatap kedua orang didepan nya tajam.


"Jadi, Anin mengenal wanita itu? Pastas waktu itu Billy bilang jika Ocha mengenal wanita dialam rekaman itu" Batin Derald.


Derald kembali menatap wanita yang tengah berjalan ke arah nya dengan tajam. Jelas Derald sangat mengingat wajah itu, karna dia adalah wanita yang ada di vidio yang Derald miliki.


Vina menampilkan senyuman terbaiknya untuk Anin. Berbeda dengan Bastian yang seakan tengah mengibarkan bendera perang kepada Derald. Sejak tadi ia memang melihat saat dimana Anin dan Derald tengah berpelukan. Namun, Bastian tidak tau kejadian yang sebenarnya dimana Anin hampir jatuh.


"Gimana keadaan Lo sekarang? Nin, sorry ya gue baru kesini. Gue baru tau dari Ocha kalau Lo dirawat di rumah sakit!" Kata Vina seolah ia mencemaskan Anin.


Anin mengangguk, "Gak papa, gue baik-baik aja kok!" Tersenyum tipis.


Entah kenapa Anin jadi merasa canggung saat ada Vina, adegan itu selalu muncul di pikiran nya. Saat Vina menggandeng tangan Bastian dengan mesra, hatinya kembali tersayat. Namun, segera Anin menepis semua itu.


Citra pindah kesamping Derald, "Kakak itu siapa?" Bisik Citra pada Derald.


Derald tidak menjawab ia hanya menggidikan bahunya seolah tidak tahu.


Vina melihat kearah adik, kakak itu. Sedang Anin memperhatikan Bastian yang terus menatap Derald, pandangan Anin beralih pada Derald yang berdiri tepat disamping nya. Sama halnya dengan Bastian, mereka saling tatap. Namun dengan tatapan permusuhan.


🌸🌸🌸


Ocha sudah berada di apartemen Vina. Ya, Ocha tidak pergi kekantor tapi, ia pergi ke apartemen Vina. Ia mengawasi Vina di luar, dan setelah melihat mobil Vina pergi. Ocha keluar dari mobilnya dan masuk kedalam, ia masuk kedalam lift untuk menuju ke lantai apartemen Vina.


Kini Ocha sudah berada didepan pintu apartemen, dengan ragu ia menekan code password pintu. Jujur ini pertama kalinya ia masuk tanpa sepengetahuan pemiliknya, Ocha sudah seperti seorang pencuri sekarang.


Setelah berhasil membuka pintu, dengan cepat Ocha masuk kedalam. Tujuan nya sekarang adalah kamar Vina, ia ingin mencari kotak yang dulu pernah Ocha temukan saat pertama kali ia membantu Vina mengemas barang nya. Dan, Ocha yakin foto yang Ocha temukan waktu itu adalah foto Vina bersama pria yang bernama Adelio.


Ya. Saat ini Ocha tengah mencurigai Vina, entah kenapa semua nya mengarah pada Vina? Walau hati kecilnya berharap jika kecurigaan nya ini salah. Ia berharap Vina dan Bastian tidak memiliki hubungan spesial, Ocha berharap Vina tidak mengkhianati nya dan Anin.


Ocha membuka handle pintu kamar Vina, entah kebetulan atau apa pintu kamar Vina tidak di kunci. Dengan cepat Ocha masuk, ia melihat keseluruh ruangan ini. Tiba-tiba ada keraguan dihatinya, rasanya ia tidak sanggup jika harus menggeledah kamar sahabatnya seperti ini.


"Maafin gue Vin! Gue gak bermaksud kaya gini, gue gak mau terus terusan curiga sama Lo. Gue mau semua ini selesai dan berharap jika cowok itu emang bukan Bastian" Ocha menghela nafasnya panjang.


Dengan yakin Ocha melangkah, ia mulai mencari sesuatu yang akan membuktikan semuanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Diruangan Anin suasana berubah dingin, semua hanya diam tak bersuara.


"Kak Anin ini jeruk nya..." Ucap Citra memecah keheningan diruangan Anin.


"Makasih!" Jawab Anin tersenyum manis.


"Em... Kalian kok bisa barengan kesini?" Tanya Anin canggung, namun ia berusaha bersikap tenang.


"Oh itu---"


"Tadi kita gak sengaja ketemu di bawah!" Sela Bastian cepat.


Anin melihat ke arah Bastian yang tengah tersenyum padanya. Vina tersenyum tipis, lagi-lagi Bastian berbohong pada Anin.


Flashback On


Setelah beberapa kali Vina terus menelfon nya, akhirnya Bastian mengalah dan turun menjemput Vina yang saat ini tengah menunggu nya di depan rumah sakit.


"Kamu ngapain kesini?" Ucap nya tegas.


"Ya, aku mau jengukin sahabat ku lah sayang..."


"Jaga mulut! Jangan memanggilku dengan sebutan itu!" Ucap Bastian tak suka.


Vina menyeringai, "Kenapa, kamu takut?" Maju beberapa langkah mendekati Bastian.


"Diam! Mending sekarang kamu pergi, jangan buat masalah disini!" Berbalik mengalihkan pandangan nya dari Vina.


"Aku gak mau!" Jawabnya yakin, "Aku kesini buat jengukin Anin, dan kamu gak usah takut aku gak akan macem-macem kok!" Sambungnya lagi.


Bastian bergeming, "Aku hanya ingin kamu menjemputku, untuk menunjukan dimana kamar Anin..." Ucapnya dengan nada manja.


"Enggak! Kamu tau beberapa hari ini kamu tidak menemuiku, anak kita merindukan mu..." Balas Vina santai.


"Alasan!" Bastian mendengus kesal.


Vina tersenyum smirk, Ia merangkul tangan Bastian.


"Yuk, kita masuk sekarang!" Ajak Vina.


Bastian melepas tangan nya kasar, ia berjalan lebih dulu di ikuti Vina yang tersenyum dibelakangnya.


Flashback Off


Anin melihat Vina menatap kearah Citra dan Derald, "Oh. Citra kenalin ini Kak Vinara,sahabat Kak Anin" ucar Anin.


'Deg'


Tatapan Derald beralih melihat Vina yang tengah berjabat tangan dengan Citra.


"Mereka sahabatan?" Batin Derald.


"Citra ini anak temen Nyokap gue, segaligus Dokter yang ngerawat gue..." Jelas Anin dan diangguki Vina, pandangan Vina beralih pada Derald, di ikuti Anin.


"Itu Derald, Kakak nya Citra. Sekaligus rekan kerja gue" Sambung Anin.


Vina tersenyum simpul, jelas ia ingat siapa pria itu. Dia adalah laki-laki yang ia jadikan kambing hitam untuk menghancurkan hubungan Anin dan Bastian.


Tapi, melihat secara langsung seperti ini Derald terlihat lebih tampan. Malah lebih tampan dari Bastian.


Vina mengulurkan tangan nya, berharap bisa berkenalan langsung dengan Derald.


"Gue Vina, sahabat Anin" ucap Vina percaya diri.


Derald menatap jengah, ia mendengus dengan ekspresi datar enggan membalas uluran tangan wanita didepan nya.


Inilah Derald, sikapnya akan berubah dingin dan datar bila berhadapan dengan wanita. Namun, itu tidak berlaku saat ia bertemu dengan Anin. Menurutnya Anin itu berbeda, seperti memiliki daya tarik tersendiri baginya.


Bastian tersenyum smirk, melihat sikap Derald yang bertolak belakang ketika berhadapan dengan Vina dan Anin.


Perlahan Vina menarik tangan nya karna tak kunjung dapat balasan, ia masih menampilkan senyuman terbaik menyembunyikan rasa malunya.


Vina tidak tau jika sikap Derald berbeda dengan pria pada umumnya, dia tidak akan mudah terpengaruh oleh godaan para wanita yang mencoba mendekatinya.


"Kak, maafin Kak Derald ya. Dia emang kaya gitu kalo sama perempuan yang gak dia kenal, jutek dan dingin!" ucap Citra berbisik.


Vina menanggapi dengan senyuman nya, "Iya gak papa!" Ucapnya.


Bastian mendekati Derald, "Gue mau bicara sama Lo!" Ujar Bastian dingin.


"Ngomong aja" ucap Derald singkat.


Bastian melihat Anin, "Gak disini! Kita bicara di luar..."


Derald tersenyum sinis, "Pengecut!" Ucap Derald lirih, kemudian melengos pergi keluar mendahului Bastian yang tengah menatapnya tajam.


Baru Bastian berbalik hendak mengikuti Derald, suara Anin menghentikan keduanya.


"Kalian mau kemana?" Tanya Anin.


"Kita mau keluar sebentar, kalian lanjut aja ngobrolnya" balas Bastian tenang.


Citra menatap Derald, dan dibalas anggukan oleh Derald.


"Kak Derald, awas jangan tinggalin Citra ya!" Teriak Citra, takut jika Derald pulang duluan dan meninggalkan nya.


Tanpa menjawab peringatan Citra, Derald keluar begitu saja.


"Ish.. Dasar nyebelin!" Gerutu Citra kesal dicuekin.


Karna kebiasaan Derald, jika menunggu Citra terlalu lama ia akan meninggalkan nya begitu saja.


...****************...


Jangan lupa Like dan komentarnya, terimakasih🤗