Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Aku Istrimu


Merasa tidak mendapat respon dari Rangga, Cinta menghentikan ciumannya. Dia menarik kembali bibirnya dari bibir Rangga, lalu perlahan membuka matanya. Dilihatnya Rangga juga sedang memperhatikannya, hingga mereka bertemu pandang. Pria itu tersenyum tipis dan mengerjap pelan.


"Apa kamu sudah selesai?" ucap Rangga datar yang membuat mata Cinta melebar, dia tidak percaya dengan respon yang Rangga berikan atas tindakan impulsifnya tadi.


"Sepertinya kamu mabuk lagi ya, Nona. Lagi-lagi kamu menganggapku adalah pria itu."



Mata Cinta membulat sempurna. Respon Rangga benar-benar tidak sesuai harapannya. Mereka sudah lima tahun berpisah. Lima tahun tidak pernah bertatap muka, juga tidak pernah berkomunikasi lewat apa pun juga, bukannya membalas ciuman Cinta atau sekedar membalas pelukan gadis itu, Rangga malah bersikap dingin, bersikap cuek bahkan memasang wajah datar. Pria itu seperti tidak merasakan apa pun saat berdekatan atau bersentuhan dengan Cinta.


Apakah amnesia juga berpengaruh terhadap hati?


Entahlah, Cinta tidak tahu dan dia tidak bisa memikirkan hal itu sekarang. Kini yang dia tahu hanya wajahnya pasti sudah semerah tomat karena malu. Dia sudah lepas kendali. Dia lupa Rangga sedang amnesia. Sudah tentu Rangga tidak mengingat dirinya, dan dia malah mencium Rangga. Ya ampun, sekarang Rangga pasti berpikiran dia wanita murahan.


Dasar bodoh!


Cinta memaki dirinya sendiri. Dia menggigit bibir bawahnya menahan malu.


"Apa aku sangat mirip dengannya sampai kamu selalu menganggapku adalah dia? Atau karena kamu sangat mencintainya sampai kamu berharap pria lain adalah dia?"


Cinta hanya bisa menelan ludahnya, butiran bening kembali meleleh di pipinya.


"Apa sedikit pun kamu tidak ingat tentangku?" Bola mata itu menatap Rangga dengan penuh harap.


"Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya? Hm?" Rangga memegang kedua lengan Cinta. Menatapnya seserius mungkin.



Cinta kembali menangkup wajah Rangga, menatap mata teduh milik Rangga yang sangat dia rindukan.


"Jadi, kamu benar-benar mengalami amnesia? Kamu tidak mengingatku sama sekali?" Air mata kembali membasahi pipi Cinta bahkan kini mengalir lebih deras.


"Kamu temannya Mario, bukankah kita bertemu kemarin malam di pesta Mar...."


"Aku istrimu!" potong Cinta cepat. Dia sudah tidak mampu menahannya lagi untuk mengatakan itu pada Rangga.


"Istri?" Rangga menekuk kedua alisnya.


"Apa kamu yakin kamu adalah istriku?" Rangga menaikkan sudut bibirnya. "Bukankah tugas seorang istri itu adalah mendampingi suaminya? Seingatku, aku tidak pernah melihatmu. Bahkan saat aku terbangun dari koma, kamu juga tidak ada di sisiku."


Hati Cinta bergetar setelah mendengar ucapan Rangga, dadanya bergemuruh hebat, seketika sekujur tubuhnya terasa lemas, bahkan kini kedua kakinya rasanya sudah tidak mampu lagi untuk menopang tubuhnya.


"Setelah lima tahun berlalu, kamu tiba-tiba datang dan menyatakan kalau kamu adalah istriku, juga ibu dari anakku, apa iya aku harus percaya?" Rangga kembali mencengkram kedua lengan Cinta bahkan kali ini lebih kuat. Seakan ingin meluapkan emosi yang lama terpendam.


Sementara, Cinta semakin terhenyak dengan ucapan yang Rangga lontarkan untuknya. Dia semakin merasa terpojok dan bersalah. Tenggorokannya seakan tercekat, lidahnya juga terasa kaku untuk digerakkan, hingga bibirnya tidak mampu mengeluarkan kata-kata apa pun.


"Maafkan aku, Nona, rasanya aku butuh waktu untuk percaya kalau kamu adalah istriku." Rangga melepaskan cengkramannya. Wajahnya mengeras, tampak raut kekecewaan yang mendalam di wajahnya.


"Maafkan aku," gumam Cinta akhirnya. Suara Cinta yang terlalu pelan, ditambah suara deburan ombak, dan gemuruh angin malam, membuat telinga Rangga nyaris tidak bisa menangkap gelombang suara dari bibir Cinta.


"Aku sudah mengecewakanmu. Aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu." Cinta semakin sesegukan. Dia menundukkan wajah sembari menyusut sudut matanya berkali-kali.


"Arrgghhh!" teriak Rangga tiba-tiba, membuat Cinta kaget dan sontak mengangkat wajahnya kembali.


"Arrrrggghhhh! Kepalaku!" Rangga memegang kepala dengan kedua tangannya bahkan menjambak rambutnya kuat.


"Kak, kamu kenapa?" Cinta yang panik segera mendekati Rangga dan menangkup rahang pria itu.


"Kepalaku sakit sekali." Dia meringis, lalu memejamkan matanya untuk melawan rasa sakitnya.


"Aku antar ke dokter, apa kamu masih kuat berjalan?" Cinta semakin panik. Rangga terlihat sangat kesakitan tetapi, dia tidak tau harus melakukan apa untuk membantu pria itu mengurangi rasa sakitnya.


"Tidak, antarkan aku ke kamarku saja. Obatku ada di sana,"


...****************...


Hmm, obat apa modus tuh Bang🤭


Othor curiga ada udang di balik penggorengan deh😅


Yuk next👉