
"intan bangun! sudah siang ayo bangun" wily membangunkan intan yang tidur terlelap " mau bangun atau saya siram air dingin! hey sudah siang ini ngga malu sama ayam apa" lanjut wily tak menggerakan sedikitpun tubuh intan
"ini anak tidur apa mati sih" wily kesal akhirnya ia tinggalkan ke kamar mandi untuk membesihkan diri
"hoooaaaahhhhhh tumben mama ngga ngomel jam segini belum bangun" ucap intan masih tak sadar dimana dirinya berada saat ini
"cek ponsel dulu ahh,,, siapa tahu rehan kirim pesan" sejenak intan ingat bahwa dia sudah tak mau tahu lagi tentang rehan yang membuatnya harus bertanggung jawab dengan nyawa seseorang
tapi dalam hatinya tak dapat dipungkiri rasa cinta itu masih begitu besar. intan menangis sesenggukan mengingat kenangan bersama sang kekasih.
selama ini rehan selalu baik dan menyayanginya. kenapa dia tega menjualnya pada orang jahat
"huaaaaaaa, mama" intan menangis dengan suara keras
"ada apa?" wily buru-buru keluar dari kamar mandi dengan busa yang masih ada pada rambutnya
"aaaaaaaaa,,, kak pakai handuk" intan tak menutup matanya malah makin melotot
"astaga" wily kembali kekamar mandi saat ini ia hanya mengenakan celana pendek yang akibat buru-buru
"ohhhh ya ampun kenapa dengan pagi ini! astaga aku dimana? kamar siapa ini" intan mengingat kembali benar dirinya kini berada dikamar yang semestinya
"kenapa sih pagi-pagi brisik banget, kenapa kamu menangis teriak-teriak gitu" wily keluar kamar mandi setelah membilas tubuhnya yang penuh busa
"maaf kak, aku pikir dikamar siapa hehe. ahhh iya mau ganti perban ya sini aku bantuin" intan dengan berani menarik tangan wily tanpa rasa canggung
"ayo duduk, kenapa bengong. sebentar aku ambilkan pengganti perbannya dulu" intan begitu santainya
sedangkan wily tertegun dengan perbuatan intan yang bisa saja membuat jantung wily lepas dari tubuhnya
"kak, buka bajunya" intan mengangkat baju wily
"ahhh... ngga perlu biar saya saja kamu mandi saja pasti dibawah sedang menunggu kita untuk sarapan" ucap wily
"dia manusia terbuat dari apa sih, bisa-bisanya sesantai itu dengan laki-laki yang baru dia kenal hisssss" wily yang tak habis pikir dengan istrinya
selesai intan keluar kamar mandi sambil bernyanyi dengan bahagia, hidupanya seolah tak ada beban sedikitpun setelah menikah
meski dalam hatinya hancur harapan bersama sang kekasih sirna sudah, tapi intyan selalu bisa menutupi kesedihanya dengan tawa atau candaan
"ayo buruan keluar, mama sudah menunggu" ajak wily
"siap kak. perlu dibantu istrimu hemmm?" goda intan
wily hanya melirik kesal dan tak menanggapi intan.
turun dari tangga perlahan intan memegang tangan wily agar tak jatuh
"wahhh pengantin baru bangun, kami sudah kelaparan menunggu kalian" ucap wendi
"wendi!" tegur mama nita
"iya ma, wendi maaf ya intan bangunnya kesiangan. susah sekali bangun pagi" intan jujur dan senyum menyeringai
"kebiasaan dirumah begitu pasti!" ucap wily ketus
"wily! ngga apa-apa nanti juga bisa belajar bangun pagi pelan-pelan , kan wily harus berangkat kerja jadi bisa bangun bareng. sekarang kan hari libur jadi bisa santai. ayo sekarang sarapan keburu dingin" ajak mama nita lembut
"wen, mulai besok kita bisa ke kampus barengan terus dong ya" ucap intan merasa senang
"setuju! pasti boleh bawa mobil iya kan kak" tanya wendi yang sangat yakin kali ini sudah diperbolehkan membawa mobil karena ada istri kakaknya
"makan jangan banyak bicara, ada lain waktu" jawab wily datar
"kakakmu galak banget ya, jutek lagi" bisik intan yang masih terdengar oleh wily