Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Pembagian Wilayah


wily membuka jasnya dan menggulung lengan bajunya, merebahkan dirinya perlahan sambil memainkan ponselnya


banyak laporan yang belum ia periksa sejak pagi. bahkan saat menikah pun tak ada cuti untuknya


"kak bajuku taruh dimana? apa aku harus memindahkan lemari satu lagi kesini atau sudah disiapkan" tanya intan mrepet kaya petasan nikahan


"brisik sekali kamu ternyata, ngga capek apa? disana ada ruang yang kosong letakan saja barangmu disana" tunjuk wily pada lemari yang sudah dibersihkan dari barang-barangnya


"wah jadi ini wilayahku ya, kakak ngga boleh taruh barang disini. ohh iya aku baru ingat" intan mendekati wily yang sedang santai diranjangnya


"apa lagi?" tanya wily


"apa kita perlu buat perjanjian seperti apa saja yang tidak boleh kita lakukan!" ucap intan


"tentu saja harus, kita harus buat kesepakatan yang jelas biar tidak menyalahi aturan nantinya. benanrkan! pasti kakak sudah siapkan itu" lanjut intan


"maksudnya apa sih, yang jelas kalau ngomong" wily menjadi sedikit gugup intan duduk diranjang disampingnya


dimana selama ini tak pernah ada satupun wanita yang masuk kekamarnya selain ibu dan asisten rumah tangganya


"kontrak nikah kak maksudnya, dan pembagian wilayah kamar,


aku yakin kakak tak mau diganggu olehku kan apalagi masalah dengan kak karin. aku juga sama kakak ngga boleh ikut campur urusan pribadiku, bagaimana adil bukan?" jelas intan


"kamu mau nikah apa mau main drama pakai kontrak segala. saya ngga setuju" tolak wily


"tapi aku ngga mau tidur satu ranjang dan juga kakak ngga boleh nyentuh aku kecuali didepan keluarga. yang lain terserah sajalah


kakak mau berjanji untuk yang itu" tanya intan


"tentu saja tak perlu berjanji siapa juga yang mau menyentuhmu, kamu tak begitu menggoda buatku" ucap wily yang tak mau ambil pusing


mungkin inilah salah satu repotnya menikah dengan anak remaja terlebih bukan karena keduanya saling menyintai


"oke aku tenang sekarang, mulai hari ini kakak tak boleh duduk disofa dan disana wilayah kekuasaanku" tunjuk intan pada sofa dan juga balkon kamar serta meja rias


"jika dilanggar kakak harus bayar denda, dan juga mengikuti apa yang aku mau" tegas intan


"hemmm, ini kamar saya kenapa kamu jadi yang mengatur! lalu jika kamu yang melanggar? tiba-tiba kamu naik keranjangku bagaimana? apa untungnya buatku" tanya wily


"kakak kan banyak uang jadi ngga mungkin minta denda kan, kakak boleh minta sesuatu padaku jika ada yang diinginkan. deal kan?" lanjut intan


"kalau minta anak bisa?" ucap wily tanpa basa basi


"nah yang itu pengecualian. kakak ngga bisa banyangin kan kalau aku punya anak nanti jadi seperti apa, aku saja ngga yakin jadi itu tak ada dalam daftar keinginan" intan menolak


"biasanya kata orang larangan adalah perintah" jawab intan yang kembali menata bajunya memasukan dalam lemari


"silahkan saja jika berani" ancam wily


"dasar tukang ancam, sama kayak papa dan kak indra" gumam intan


"permisi pak, boleh saya masuk?" ucap titin pembantu wily yang diminta bu nita mengantarkan makanan kekamar anaknya


"bisa bukain pintu, saya sulit bangun" ucap wily


"baik tuan raja!" intan membuka pintu kamarnya


"iya bik, terima kasih ya" intan menerima makanan dari bi titin


"sama-sama bu, saya kebawah dulu. jika butuh sesuatu saya didapur" ucap bi titin ramah


"iya bi" jawab intan lalu menutup pintu kamarnya


"mau disuapi? tentu saja bisa makan sendiri kan" kali ini boleh duduk disofa hari ini pengecualian


ucap intan meletakan makanan dan minuman yang dibawa bi titin ke meja disamping sofa


"katanya mau merawat suami, sampe saya sembuh ngga pernah datang kerumah sakit" ketus wily


"hehehe, itukan mama nita yang minta biar aku siap-siap untuk pernikahan. karena aku sedang baik hati kakak tetap disitu saja. aku suapi" intan dengan mudah nya berubah fikiran


tak ada rasa apapun untuk wily jadi baginya tak masalah untuk berdekatan atau didalam kamar berdua. dan intan juga yakin wily merasakan hal yang sama


"ngga perlu, nanti saya makan sendiri. sekarang mau istirahat dulu jangan ganggu saya" ucap wily meletakan ponselnya dan memejamkan matanya


intan tak bersuara agar tak  menggangu wily, selesai dengan beberesnya ia keluar kamar dan menemui mertuanya


"ma, mama sedang apa?" tanya intan melihat bu nita sedang sibuk


"ini mama buat empek-empek makanan khas palembang. makanan kesukaan wily" jawab mama nita


"heemm sepertinya enak, mama pinter banget nanti kapan-kapan bisa ajarin intan masak ya ma" ucap intan


"tentu saja sayang, dimana suamimu?" tanya bu nita tak melihat wily bersama dengan intan


"sedang tidur ma, sepertinya kelelahan" ucap intan jujur


keduanya asik dengan kegiatan memasak didapur, mama nita sangat bahagia dulu ia mengharapkan karin menjadi menantunya. namun yang didapatkan kini baginya lebih baik dari sebelumnya