
"Kenapa kamu meninggalkanku?" Rangga menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Cinta. Kedua tangannya tergerak ke atas untuk menangkup kedua pipi Cinta.
Cinta menggenggam tangan Rangga yang menangkup wajahnya. Matanya mengerjap, mencoba menahan butiran bening yang sedari tadi memaksa keluar dari kelopak mata yang membendungnya.
"Katakan, kenapa kamu meninggalkanku?" tanya Rangga lagi dengan suara pelan, lebih tepatnya menyerupai bisikan. Kemudian, memejamkan mata dan menyatukan kening mereka.
"Ma-maafkan aku," jawab Cinta sesegukan. Tangisnya pecah. Butiran bening sudah berhamburan keluar dan membasahi pipinya.
Perlahan Rangga membuka matanya, mata sayunya menatap manik hazel milik Cinta. Dia melihat bola mata indah itu sudah basah akan air mata. Ingin rasanya dia menghentikan semua rencananya dan mendekap Cinta saat ini. Rasa rindunya yang membuncah serasa sudah ingin meledak di ubun-ubun.
"Maaf untuk apa?"
"Maaf, karena sudah meninggalkanmu. Gara-gara aku, kamu kecelakaan hingga kamu mengalami koma," isak Cinta.
"Hanya itu?"
"Aku merasa sangat bersalah akan hal itu, maafkan aku. Waktu itu karena aku sangat kecewa padamu. Kamu lebih mementingkan wanita lain daripada aku."
"Walaupun waktu itu kamu tau alasannya, kenapa aku melakukan itu?"
Cinta hanya terdiam. Dia bingung harus menjawab apa, dia tau dia sudah bersikap egois. Saat itu dia sudah terlanjur sakit hati dengan sikap Rangga yang lebih memperhatikan Agnes daripada dirinya. Tidak peduli apa pun alasan Rangga. Yang jelas dia tidak bisa terima suaminya berdekatan dengan gadis lain, terlebih itu mantan kekasih. Salahkah dia?
"Kamu sekarang datang padaku hanya karena merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpaku? Jika aku tidak mengalami kecelakaan, apa kamu masih mau datang dan bertemu denganku?" Napas Rangga mulai memburu.
"Maksud kamu?" Cinta menautkan kedua alisnya.
"Sudahlah, lupakan!" Rangga menjauhkan tangannya dari wajah Cinta. Pria itu berdiri tegak kembali dan segera berlalu ke kamar mandi tanpa bicara apa pun lagi.
Rangga menenggelamkan dirinya di bawah guyuran shower. Kepalanya terasa panas setelah mendengar jawaban Cinta. Dia kecewa, Cinta meragukan cintanya. Dia berpikir jika, dia tidak mengalami kecelakaan itu mungkin, Cinta masih tidak sudi bertemu dengannya.
"Argghh!" Rangga menghantam dinding kamar mandi untuk meluapkan emosinya.
...****************...
"Kok cepet? Gue pikir, loe bakalan lama nahan Cinta di kamar." bisik Gilang begitu melihat Rangga sudah kembali. Pria itu tersenyum mengejek.
"Apa karena saking kepinginnya sampe keluarnya cepet?" imbuh Mario.
"Hahaha, aku pikir juga begitu tadi," cibir Gilang lagi. Kedua pria itu lalu tertawa bersama.
"Isi otak kalian gituan mulu." Dengan kesal Rangga duduk di sebelah Gilang.
"Harap maklum Lang, namanya juga suami-istri yang sudah lama tidak bertemu." Mario kembali menggodanya.
"Harusnya loe slow aja mainnya, kamar gue free kok buat kalian berdua, selama yang kalian butuh. Hahahaaa."
"Gue gak ngapa-ngapain, sia*lan."
"Hah? Beneran gak tuh?" Mario masih tertawa mengejek. "Memangnya adik Joni gak berontak tadi?"
"Hah, berontaklah pasti tapi, kalau aku melakukan itu, sama aja akan menghancurkan rencana yang sudah aku susun rapi."
"Trus, buat apa loe minta kita bikin rencana kayak tadi kalo kalian gak ngapa-ngapain di kamar?" Gilang melirik Cinta yang sudah duduk di kursi santai sebelah Stella.
Rangga mendengus, "Gue cuma pingin tau gimana perasaan Cinta sama gue."
"Terus?"
"Dia masih marah sama gue."
"Entahlah," jawabnya lesu, "gimana dengan rencana kita besok?" Rangga mengalihkan pandangannya ke arah Cinta yang sedang membersihkan badan Sunny.
"Beres, gue sama Mario sudah mengatur semuanya. Loe tinggal persiapkan diri sebagai tokoh utama besok."
"Baguslah."
"Tamu undangan udah beres semua?"
"Tamu undangan urusan gue. Mereka 'kan tamu gue. Bokap Nyokap, loe jadi tar malam ke sini?"
"Ayah sama ibu gue gak bisa datang. Gue udah di sini kalau ayah gue ikut ke sini, kantor siapa yang urus?"
"Bukan orang tua loe yang di Singapura tapi, mertua loe."
"Om Reyhan tar malam tiba di sini, aku dan daddy yang jemput." Davin menjawab sebelum menyeruput jus jeruknya.
"Owh, baguslah. Udah klop berarti semua."
"Oh ya, aku melupakan sesuatu. Kita harus pergi, Tuan Ben. Ayahku sudah menunggu." Mario melirik Rangga.
"Ah iya, aku hampir melupakannya."
"Oke, kalau begitu meeting kita akhiri sampai di sini. Cepatlah kalian pergi, gue mau nyusul Stevan sama Arga buat berenang lagi." Gilang mengibaskan tangan dengan gaya angkuhnya.
"Belagu loe, mentang-mentang udah jadi bos restoran. Tar aja kalo udah di depan mertua nyali loe ciut." Gilang hanya nyengir kuda mendengar cibiran Rangga.
Rangga dan Mario bangkit dari duduknya lalu melangkah meninggalkan Gilang.
"Hai kalian, aku tinggal dulu ya," pamit Mario. Pria itu tersenyum manis, pada semua wanita yang duduk di kursi santai, sedangkan Rangga sudah berjongkok di depan Sunny.
"Ah iya, Tuan Mario, terima kasih banyak," ucap Cika.
"Hai cantik, siapa namanya?" Rangga mengusap pipi Sunny.
"Sunny, Paman," jawab Sunny polos.
Paman? Sunnyku, ini ayah, teriak batin Rangga.
"Nama yang cantik sama seperti orangnya." Rangga tersenyum dan mencubit gemas pipi Sunny.
Sementara Cinta yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya bisa menggigit bibir bawahnya kelu. Hatinya terasa teriris. Ingin rasanya dia berteriak pada Rangga untuk mengatakan kalau Sunny adalah putrinya tetapi, dia takut hal itu akan memancing sakit kepala Rangga dan menyakiti pria itu lagi.
Begitu juga dengan yang lainnya, siapa yang tidak terharu menyaksikan pertemuan ayah dan anaknya setelah lima tahun berpisah.
"Paman boleh peluk Sunny?" tanya Rangga penuh harap.
Sunny melirik Cinta meminta ijin. "Boleh." Gadis kecil itu mengangguk setelah Cinta mengangguk dan tersenyum padanya.
Dengan tersenyum lebar Rangga segera memeluk Sunny. "Anak yang pintar," gumamnya. Rangga mendekapnya erat, mengelus kepala dan mencium rambut Sunny berulang-ulang. Akhirnya setelah lima tahun, dia bisa bertemu putrinya. Ya, setelah lima tahun. Bahkan setelah lima tahun pun Rangga masih belum bisa menyebut dirinya sebagai ayah Sunny. Miris. Pandangan Rangga seketika buram karena air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya. Namun, dengan cepat Rangga menghapusnya sebelum Cinta sempat melihat.
Ayah merindukanmu, Nak. Sabar ya Sayang, sebentar lagi kita akan berkumpul bersama setelah ayah memberi hukuman pada bundamu. Rangga.
Terima kasih Tuhan, akhirnya putriku bisa memeluk ayahnya. Maafkan bunda yang sudah memisahkan kalian. Cinta.
...****************...
Next yağŸ¤