Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
I Love You More Than Anything


Byuurrr ....


Cinta dan Rangga yang sudah memakai perlengkapan diving, menceburkan diri ke dalam laut. Ditemani seorang pemandu, mereka mulai menjelajahi panorama bawah laut Pantai Kelingking. Pemandangan bawah laut tak kalah indah, apalagi airnya sangat jernih dan bersih. Mereka menyelam bersama puluhan ekor ikan pari manta dan dikelilingi terumbu karang eksotis.



Puas menjelajahi area bawah laut, pemandu mengintruksi mereka untuk naik ke atas speedboat lagi berhubung cahaya matahari juga mulai redup.


"Pemandangan bawah lautnya gak kalah bagus sama yang di Madives," celetuk Cinta saat mereka sudah duduk di atas speedboat. Tangannya sudah melingkar di pinggang Rangga.


"Aku tidak menyangka kamu masih mengingat kenangan itu." Rangga merangkul bahu Cinta dengan tersenyum haru.


"Tentu saja, Maldives menjadi sejarah awal penyatuan cinta kita. Sampai kapan pun aku akan selalu mengingatnya." Cinta mendongak, tangan kanannya terulur mengusap sebelah rahang Rangga. "Terima kasih sudah mengajakku ke sana waktu itu, jika tidak, mungkin aku tidak pernah bisa mencintai pria seperti dirimu." Dipandangnya Rangga dengan mata berkaca-kaca.


Rangga meraih tangan Cinta yang mengusap rahangnya lalu mengecupnya lama. "Aku yang harus berterima kasih, karena kamu sudi mencintai pria seperti diriku. I love you."


"I love you too. I love you more than anything."


Manik teduh Rangga berbinar mendengar pernyataan Cinta. Sepasang manik itu jatuh memandang manik hazel milik Cinta, wajah dengan hidung mancung, bibir mungil, kulit putih bersih nan mulus bak buah persik. Waktu seakan berhenti tatkala pandangan mereka saling bertemu.


Perlahan tapi pasti, Rangga mendekatkan wajah mereka untuk meraih bibir Cinta. Bibir luar yang terasa dingin tapi, terasa hangat di bagian dalam. Sungguh perpaduan yang menggoda. Cinta semakin terhanyut disaat yang tak bertulang melesak masuk, menjelajah dengan santai dan lihai. Rangga memang ahli dalam hal itu, membuat Cinta semakin terperangkap dalam cintanya.


Tangan Cinta sudah melingkar di leher Rangga disaat pria itu mendekapnya semakin dalam. Semakin lama semakin dalam hingga tubuh basah Cinta menjadi panas dan sesak. Ditambah rasa panas yang keluar dari dalam tubuh mereka.


"Ehem!"


Sontak Rangga dan Cinta membuka mata dan menyadari di mana mereka berada kini. Secepatnya Cinta menarik bibirnya, wajahnya memerah sempurna. Dia melirik Rangga sekilas, pria itu tampak biasa saja meski sedang tertangkap basah bertindak mes*um.


"Maaf Tuan dan Nona, kita sudah sampai. Tuan dan Nona bisa mengganti pakaian, changing room di sebelah sana."


Rangga dan Cinta mengikuti arah tangan pemandu diving mereka yang sudah turun dari speedboat dan menunjuk pintu ruang ganti.


Rangga yang turun lebih dulu meraih tangan Cinta untuk membantunya turun dari speedboat.


"Terima kasih, Pak. Maafkan yang tadi," ucap Cinta dengan perasaan malu. Sentuhan Rangga selalu menyihir jiwanya, membuat Cinta hanyut dalam buaian, untuk seterusnya lupa dengan keadaan sekitar.


"Tidak apa-apa Nona, saya sudah terbiasa." Pemandu itu tersenyum simpul.


...****************...


"Bee, lihat deh dia lucu sekali ya?" Cinta menunjuk seekor monyet yang sedang berusaha menyendok daging kelapa muda dari tempurungnya.



"Dia pintar ya, bisa ngambil daging kelapa sendiri." Cinta tersenyum gemas. Rangga hanya membalas dengan menyunggingkan senyum, lalu kembali fokus dengan makanannya.


Tidak berapa lama muncul monyet lainnya yang mendekati Cinta dan Rangga. Namun, mereka segera diusir oleh Pak Made.


"Lho Pak, kenapa diusir?" protes Cinta.


"Maaf Nona, kalau tidak diusir mereka bisa mengganggu Nona. Mereka itu hewan liar, takutnya mereka nanti mencuri makanan, Nona dan Tuan."


"Tapi Pak ...."


"Sayang, Pak Made benar. Lebih baik cepat habiskan makananmu, biar kita tidak gelap-gelapan di jalan. Jalannya curam, Pak Made akan kesusahan mengemudi nanti." Rangga mengusap kepala Cinta sebelum kembali menyuap makanan ke mulutnya.


Cinta sebenarnya ingin protes tapi, yang dikatakan Rangga sangat benar. Mau tidak mau dia akhirnya menurut. Dengan cepat dia menghabiskan makanannya sebelum menghela napas berat karena mengingat dia harus kembali melalui jalan yang berlobang dan curam sepanjang perjalanan nanti.


"Ah, aku rasanya ingin cepat sampai hotel dan berendam air hangat," gumam Cinta dalam pelukan Rangga. Udara terasa makin dingin saat hari semakin gelap. "Kaki dan badanku rasanya sakit semua karena naik turun bukit tadi."


"Berendam air hangat? Kayaknya ide yang bagus." Bibirnya menyeringai licik.


"Jangan ngadi-ngadi ya, aku sudah di batas akhir kekuatanku ini."


"Hahaha, kamu kok lucu banget sih. Selalu tau isi pikiranku." Menjepit kedua pipi Cinta dengan kedua jarinya hingga bibir mungil itu terlihat semakin menggemaskan. "Aku yang kerja, kamu cukup menikmati aja." Dengan segera Rangga mengu*lum bibir Cinta bersamaan saat mobil berguncang.


"Maaf Tuan, jalannya berlobang tadi," ucap Pak Made dengan raut wajah bersalah karena goncangan mobil tadi menghentikan aksi Rangga.


"Never mind Pak, kami bisa melanjutkannya di hotel nanti." Rangga menaik-turunkan kedua alisnya ke arah Cinta. Cinta enggan menanggapi, dia melengos dan memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Bayangan pepohonan yang terlihat menyeramkan tanpa adanya pencahayaan, berbanding terbalik dengan indahnya langit malam dengan hamparan bintang yang berkelap-kelip. Sementara Pak Made hanya mengulum senyum, mendengar ucapan pasangan yang sedang berbulan madu itu.


...****************...


Detik-detik menuju end nih🥺