Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Mine


"Aaaaa!!!!" Cinta berteriak.


Tidak, tidak, tidak! Ini tidak boleh! Ini salah!


Cinta mondar-mandir di depan cermin sembari menggigit ujung jarinya.


Aku belum punya ikatan apa pun dengannya, dan aku masih berstatus bersuami. Aarrgghhh! Dosa apa yang sudah aku perbuat?! Bisa-bisanya aku bertindak bodoh begini. Ini semua karena minuman terkutuk itu. Hahhh, apa yang harus aku lakukan sekarang?


Cinta menangkup dahinya dan juga menggigit bibir bawahnya. Dia cemas, bingung, marah, dan kecewa pada dirinya sendiri.


Tunggu dulu! Bukankah semalam aku mabuk, aku tidak sadarkan diri? Dia meniduriku dalam keadaan gak sadar, itu artinya dia sudah... dia artinya memperkosaku?! Huh, dasar pria mesum sialan! Dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


Tangan Cinta mengepal kuat. Dia mengeram kesal. Namun, di detik berikutnya raut wajahnya kembali berubah.


Bagaimana jika ternyata dia tidak memperkosaku tapi, aku yang menyerangnya duluan?


Wajah Cinta sedikit horor membayangkan dirinya sendiri menyerang pria lebih dulu.


"Tapi, bagaimana bisa aku ada di sini bersamanya? Bukankah aku sedang di pesta om Davin bersama Mario dan tunangannya. Bagaimana ceritanya dia bisa membawaku ke sini?" Cinta bertambah bingung dan panik.


"Aku harus memastikan ini pada om Davin." Cinta meraih handuk kimono yang tergantung di dekat shower dan mengenakannya. Dia bergegas keluar, bermaksud menghubungi Davin dan menanyakan prihal ini pada Mario.


Cinta keluar kamar mandi. Dengan memasang wajah cuek dia melewati Ben yang sedang duduk di sofa menonton televisi. Dia menuju nakas untuk mencari ponselnya tetapi, tidak menemukannya di sana. Dengan kesal dia mengobrak-abrik nakas juga tempat tidur demi menemukan ponselnya. Namun, usahanya sia-sia, ponselnya tidak ditemukan di mana pun.


Bagaimana ini? Apa aku tanya dia aja?


Cinta melirik Ben yang duduk santai seperti tidak terusik dengan apa yang dia lakukan barusan. Padahal Cinta sudah melempar bantal, menarik sprei demi mendapat perhatian Ben dan memancing Ben untuk memberitahu keberadaan ponselnya. Namun, yang terjadi tidak sesuai harapannya. Pria itu masih duduk santai dengan wajah datarnya di depan televisi.


Cinta mendengus kesal. Dia membuang semua egonya dan berjalan mendekati Ben.


"Mana ponselku?" tanya Cinta tanpa basa-basi dengan memasang wajah angkuh.


Ben menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu, Nona?"


"Sudah, jangan bikin drama lagi. Katakan, di mana kamu sembunyikan ponselku? Aku ingin menghubungi keluargaku untuk melaporkanmu."


"Melaporkanku? Kenapa?"


"Karena kamu sudah menculikku dan... dan kamu pasti sudah memperkosaku, 'kan?" tuduh Cinta dengan tatapan menantang Ben.


Seketika Ben bangkit dari duduknya dan mengaitkan kedua lengannya di depan dada. Wajahnya berubah dingin.



Apa?! Kaget Cinta. Bibirnya seketika bungkam setelahnya.



Tadi Ben menyebut namanya? Wajah tampan itu tampak mengeras, terlihat dingin, dan tanpa senyuman. Aura yang dia keluarkan tampak menusuk, Cinta dibuat takut dan ingin menangis.


Perih. Matanya terasa perih. Dia bahkan lupa melepas lensa kontaknya.


"Jika kamu tidak memperkosaku, lalu kenapa tanda ini bisa ada di seluruh tubuhku?" Tanpa sadar Cinta menyibak handuk kimononya di depan Ben, dan tanpa sengaja memperlihatkan bahu hingga belahan da*danya yang dipenuhi tanda kissmark.


"Ini lihat! Ini pasti perbuatanmu, 'kan?! Siapa lagi kalau bukan kamu." Cinta memberi statement nekat. Jelas bercak merah itu bukan gigitan nyamuk, melainkan bekas bibir dan gigitan seseorang. Dia mendekatkan bahu dan belahan da*danya ke wajah Ben. Seakan menantang pria itu.


Melihat tindakan Cinta seberani itu membuat Ben terkejut sekaligus kesal karena dengan berani memperlihatkan belahan da*danya. Jika saat ini pria yang bersamanya bukan Ben apa mungkin Cinta akan melakukan hal yang sama. Memikirkan hal itu seketika membuat darah Ben naik ke ubun-ubun.



Dengan kesal Ben melepas jasnya dan melemparnya asal.


"Semudah itu kamu menunjukkannya pada pria? Bahkan kita belum berkenalan. Apa seperti ini kebiasaanmu sekarang?!" Nadanya semakin meninggi. Rahangnya mengeras menahan amarah yang rasanya sudah di puncak.



"Apa kamu tidak bisa berpikir, jika pria itu bukan aku, apa yang akan dia lakukan padamu? Hah!" Ben mencengkram lengan kiri Cinta. Cukup keras hingga Cinta meringis.


"Aku bisa judo. Aku bisa menghadapi pria-pria seperti itu." Cinta memberanikan diri menjawab dengan suara lantang. Dia menatap Ben tidak kalah menantang.


Ben menaikkan sebelah alisnya, lalu menyunggingkan sudut bibirnya. "Cih! Sekarang saja kamu tidak bisa mengingat apa yang terjadi padamu, bagaimana kamu bisa melawan mereka dengan judomu? Hah!" Semakin kuat mencengkram lengan Cinta. Dia sudah terlalu emosi. Rasanya tidak rela jika Cinta memberi kesempatan pria lain untuk melihat bagian-bagian tubuh Cinta. Cinta adalah miliknya. Selamanya akan tetap seperti itu.


Cinta terhenyak mendengar ucapan Ben. Ya, Ben benar, bagaimana dia bisa melindungi dirinya sendiri jika dia sendiri tidak sadarkan diri.


Glek!


Cinta menelan ludahnya. "Lalu, bagaimana aku bisa ada di sini bersamamu? Juga semua tanda ini? Aku yakin, tidak mungkin ini perbuatan nyamuk. Ini bekas bibir." Cinta kembali memojokkan Ben tetapi, kali ini nadanya tidak setinggi tadi.


Ben mengerjap lalu memutar bola matanya. "Mana aku tau soal tanda itu. Aku menemukanmu di pesta Mario, kamu sudah tertidur di sofa dalam keadaan mabuk. Mario dan Chelsy sedang di atas panggung bersama om Davin."


"Hah? Tidak mungkin!"


"Kamu bisa tanyakan itu pada Mario." Ben melepaskan cengkraman tangannya. Dia menghindari tatapan mata Cinta, tidak ingin gadis itu mengetahui kebohongannya.


...****************...