Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Separuh Jiwaku Pergi


"Makasih," ucap Agnes yang langsung mengalungkan tangannya ke leher Rangga, juga mengecup pipi pria itu. Dia tersenyum manis.


Rangga yang baru menutup telepon dari Cinta sontak kaget dengan tindakan impulsif Agnes tadi. Lagi-lagi gadis itu melakukan hal yang tak terduga padanya.


"Makasih untuk apa ya, Nes?" Rangga menggeliat untuk menurunkan tangan Agnes yang merangkul lehernya secara perlahan agar gadis itu tidak tersinggung dengan tindakannya.


"Makasih untuk bantuan kamu hari ini. Aku gak bisa ngebayangin kalau tadi gak ada kamu mungkin Angga ...."


"Sudahlah Nes, jangan dibahas lagi. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa." Rangga tersenyum tulus.


"Iya tapi, tetep aja aku harus berterima kasih sama kamu."


"Hm tapi, aku minta jangan lakukan yang seperti tadi lagi. Aku ...."


"Ya, aku paham. Aku minta maaf," lirih Agnes. Detik itu juga wajahnya berubah murung. Kemudian, dia menunduk karena merasa malu atas teguran Rangga. "Aku hanya terlalu bahagia tadi. Aku tidak ada maksud apa-apa kok," gumamnya pelan.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung. Aku hanya tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi nantinya."


Agnes mengangguk, "Ya, aku mengerti. Sekali lagi makasih untuk semuanya." Kali ini mereka saling melempar senyum dan menatap mata satu sama lain.


"Oh ya, aku harus pulang secepatnya. Cinta sudah menelponku barusan," ucap Rangga sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Hati-hati," pesan Agnes. Dia sebenarnya tidak ikhlas melepas kepergian Rangga tetapi, dia punya hak apa melarang pria itu untuk kembali pada istri sahnya. Dia cukup sadar diri dengan posisinya yang sekarang.


"Makasih karena sudah mengijinkanku mengisi baterai ponselku," ucap Rangga yang disertai gurauan. Mereka pun akhirnya terkekeh bersama sebelum Rangga melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Agnes.


Tak berapa lama mobil Rangga sudah memasuki area apartemennya. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat mobil Gilang di parkiran dan pria itu sudah berdiri di sana dengan menyesap rokoknya. Perasaan tidak enak seketika menghampirinya karena tumben-tumbenan sahabatnya itu datang malam-malam tanpa mengabarinya terlebih dulu.


"Sedang apa loe di sini?" sapa Rangga setelah dirinya memarkir mobil.


Gilang yang mendengar suara Rangga segera mematikan rokoknya dan menatap kesal ke arah Rangga.


"Loe habis dari kutub mana sih? Berulang kali gue telpon kagak nyambung-nyambung." gerutunya.


"Sorry, ponsel gue tadi mati dan gue belum sempet ngecek," jawab Rangga santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Gilang hanya mendengus kesal.


"Woi, gue udah minta maaf. Beneran tadi ponsel gue kehabisan baterai." Rangga meraih ponselnya dari saku jasnya dan menunjukkannya pada Gilang. Gilang melirik sekilas. Benar, baterai ponsel Rangga memang isinya tinggal ujungnya aja.


"Aarrrggghh," teriak Gilang sembari mengacak rambutnya sendiri.


"Heh, loe kenapa sih?" Rangga semakin heran dengan kelakuan sahabatnya yang untuk pertama kalinya terlihat uring-uringan.


"Loe habis ketemu Agnes ya?" Pertanyaan Gilang sontak membuat Rangga terdiam untuk sesaat.


"Dari mana loe bisa tau?" Rangga celingukan melihat ke segala arah, takut jika ada yang mendengar ucapan Gilang barusan.


"Iya, loe ngomong jangan kenceng-kenceng napa, takutnya Cinta denger." Rangga melotot ke arah Gilang.


"Udah telat!"


"Maksud loe?"


"Barusan Cika nelpon gue, marah-marahin gue, maki-maki gue. Gue dituduh sekongkol ma loe buat nutupin hubungan gelap loe sama Agnes," semprot Gilang yang membuat Rangga terhenyak dan menyadari sesuatu. Ucapan terakhir Cinta di telepon barusan.


"Oh sial!" umpat Rangga yang langsung berlari masuk ke dalam apartemen miliknya. Tidak peduli jika orang-orang yang berada di lobby maupun yang berpapasan dengannya sedang menatapnya heran.


Rangga bergegas masuk ke dalam lift dan menekan nomor lantai kamarnya disusul Gilang yang tadi ikut berlari mengejarnya.


"Makanya, udah gue kasih peringatan jangan main api. Bandel sih loe," cibir Gilang yang tidak direspon oleh Rangga. Pria itu tengah bergelut dengan pikirannya sendiri.


Sial! Sial! Sial! umpatnya dalam hati. Rangga menangkup dahinya. Dia benar-benar takut jika Cinta melihat semuanya tadi. Melihat apa yang dia dan Agnes perbuat tadi. Kebersamaan mereka dan ... ciuman Agnes.


"Aarrrrggghhhh! Brengsek!" teriaknya tiba-tiba yang membuat Gilang terlonjak kaget dan menatapnya sinis.


Pintu lift terbuka, Rangga kembali berlari, begitu juga Gilang. Gilang kini merasa dirinya sedang beradegan dalam film adventure di mana dirinya sebagai tokoh figuran yang sedang berjuang membantu tokoh utama untuk menemukan pasangan hidupnya secepatnya, lalu menyatukan mereka kembali.


Sampai di depan kamarnya, Rangga dengan cepat menekan nomor password lalu bergegas masuk ke dalam.


"Cinta! Cinta!" panggil Rangga sembari berlari menuju kamar mereka. Hening. Tidak ada jawaban.


"Cinta! Cinta!" panggilnya lagi. Namun, masih tidak ada jawaban. Bahkan ranjangnya masih rapi. Tidak ada tanda-tanda ada yang sempat tidur di sana. Begitu juga dengan Cinta yang tidak ada di dalam kamar.


"Cinta! Aku pulang, Sayang. Kamu di mana?" Rangga melihat ke dalam kamar mandi tetapi Cinta juga tidak ada di dalam sana. Dia semakin cemas, pikirannya semakin kalut.


"Cinta, aku sudah pulang. Kamu bilang merindukanku tadi, 'kan?" Kali ini dia menuju kamar lagi satunya yang sempat ditempati Cinta saat ngambek karena ulahnya juga. Namun, lagi-lagi dia harus kecewa karena Cinta tidak ada di sana. Dia keluar lagi menuju dapur, mini bar, menyusuri semua celah yang ada di dalam apartemennya tetapi, dia tidak menemukan Cinta.


Sampai akhirnya Rangga merasa frustasi, "Cinta, kamu di mana?" Dengan langkah gontai dia berjalan menuju sofa, tempat Gilang sudah berdiri menunggunya.


"Cinta gak ada, Lang. Cinta udah pergi. Cinta ninggalin gue. Cinta ninggalin gue," ucapnya berulang dengan tersenyum miris. Dadanya terasa sesak. Hatinya hancur. Rasanya dia sudah kehilangan separuh jiwanya, dan itu karena kebodohannya sendiri.


Air mata Rangga menetes. Rangga menangis. Oh, So sad! Ini adalah pertama kalinya Rangga menangis karena wanita, dan wanita itu adalah Cinta.



...****************...


Gimana bang? Nyesek bang? Sedih bang? Kapookkk!!! Sukurin deh!!😜😜😜 Bandel sih dibilangin. Makanya jadi laki tuh yang tegas jangan plin-plan. Ditinggal baru tau rasa deh Lu🀭


Yuk ramaikan!!!🀣🀣🀣🀣