Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kei Dalam Bahaya


Hari ini Arlin datang kembali ke kampus untuk memastikan sesuatu dengan mantan sahabat Lili. Ia harus mencari beberapa bukti mengenai kecelakaan yang menimpanya dulu. Apalagi waktunya berada dalam raga Arlin itu tinggal sebentar lagi. Akan sangat susah baginya nanti untuk menguak mengenai kasus kecelakaan Lili jika sudah kembali pada tubuh aslinya.


Tanpa didampingi oleh Aldo dan hanya bersama dengan Kei juga sopir pribadinya. Namun ia sudah meminta ijin kepada mertuanya untuk menyusul suaminya ke kampus walaupun suaminya sendiri itu tidak mengetahui kedatangannya. Setelah sampai di halaman parkir, segera saja Arlin keluar dari mobilnya sendiri.


Arlin berjalan pelan dengan diikuti Kei dan sopirnya yang membawa kursi rodanya. Jika nanti kelelahan, Arlin akan menggunakan kursi rodanya itu. Mata Arlin mengedar untuk mencari seseorang yang tengah diincarnya.


"Mungkin dia ada di kantin jam pagi seperti ini. Atau mungkin ada jadwal kelas kuliah" gumamnya saat tak menemukan orang yang dicarinya.


"Ayo Kei... Kita ke kantin" ajaknya pada sang anak.


"Oke" jawab Kei dengan antusias.


Kei sangat antusias kalau diajak mamanya nongkrong ke kantin karena bisa makan makanan yang jarang ia makan. Kei mengikuti mamanya yang berjalan pelan dan tertatih-tatih itu hingga sampai di kantin. Suasana kantin terlihat sepi karena banyak yang masih ada jam kuliah.


Mereka segera saja duduk disana begitu juga dengan sopir yang mengikuti. Arlin memang meminta sopir itu untuk mengikutinya agar jika terjadi sesuatu, ada yang menjaganya. Beberapa cemilan dibeli untuk menemani kegiatan mereka.


"Itu mereka" gumamnya sambil melirik sinis kearah dua sejoli yang baru saja datang dan duduk didekat mejanya.


Mereka berdua yang masih tanpa merasa bersalahnya melakukan hal ini dibelakang Lili yang terbujur lemah diatas brankar rumah sakit. Apalagi Nada yang waktu itu sudah ia peringatkan saat bertemu namun sepertinya tak berpengaruh apapun. Mungkin keduanya memang manusia tak berhati.


Segera saja Arlin menyalakan ponselnya untuk merekam semua pembicaraan mereka. Ia yakin kalau pertemuan keduanya itu akan membahas tentang Lili yang dipindahkan ke rumah sakit lain. Apalagi kemarin Arlin sempat mendengar obrolan dari orangtua Lili mengenai dua orang sahabatnya yang mencari keberadaan gadis itu.


"Itu orangtua Lili kok ngeselin amat sih. Orang anaknya mau dijenguk kok malah nggak dikasih tahu dimana rumah sakitnya" kesal Nada, sahabat Lili yang baru saja duduk.


Benar dugaannya, kalau mereka pasti akan membahas mengenai Lili yang dipindahkan ke rumah sakit lain. Arlin tahu kalau orangtua Lili memindahkan anaknya bukan hanya karena fasilitasnya yang lebih bagus, namun demi keselamatannya juga.


Beberapa hari yang lalu, setelah Rio dan Nada menjenguk Lili ternyata sesuatu terjadi pada tubuh gadis itu. Bahkan Lili sempat kejang-kejang karena ada cairan yang dimasukkan dalam cairan infusnya. Menurut CCTV rumah sakit, orang yang terakhir kali masuk dalam ruangan itu adalah Rio dan Nada. Nantinya orangtua Lili juga akan menyelidiki hal ini setelah semua surat keterangan dokter sudah keluar.


"Jangan ngedumel mulu. Namanya juga anaknya habis kena masuk racun, pasti mereka langsung paranoid deh dan melarang semua orang untuk menjenguknya" ucap Rio menenangkan kekasihnya.


Arlin hanya bisa mengelus dadanya pelan karena mendengar ucapan itu. Tentunya fakta itu membuatnya terkejut karena kemarin orangtua Lili tidak membicarakan mengenai keracunan ini. Namun Arlin memahami karena tak mungkin juga kalau memberitahukan sesuatu yang sifatnya rahasia kepada orang asing.


Sepertinya Nada dan Rio belum mengetahui mengenai kehadiran Arlin. Arlin yang memang membelakangi keduanya bersama dengan Kei tentu tak membuat mereja curiga. Pasalnya yang mungkin mereka curigai kalau dirinya duduk menggunakan kursi roda.


"Nanti kita cari dimana rumah sakit yang berada disekitar tempat tinggalnya. Lagi pula kita harus ke rumah sakit yang kemarin untuk memeriksa CCTV disana. Jangan sampai ada yang tahu kalau kita sudah masuk di ruangan itu. Pasti mereka bisa curiga kalau kita pelakunya" ucap Rio dengan sedikit berbisik.


Walaupun hanya sebuah bisikan, namun Arlin masih bisa mendengarnya. Lagi pula di kantin ini sedang sepi pembeli karena belum ada pergantian jam kuliah. Namun entah mengapa, keduanya sudah nongkrong saja di kantin ini. Arlin segera menghubungi sahabat Papa Tito yang bekerja di rumah sakit lama tempat Lili dirawat agar bisa dimintai tolong mengamankan CCTV.


"Makanya jangan gegabah, kita lupa disana ada CCTV lagi. Kau sih nyuruh aku buru-buru" kesal Nada berulangkali menyalahkan Rio.


Mereka pun segera memakan makanannya setelah membahas mengenai Lili dan kejadian kemarin. Tentunya hal ini membuat Arlin segera mematikan rekaman pada ponselnya kemudian menyimpannya. Setidaknya dengan adanya bukti ini, ia bisa menyeret mereka masuk dalam penjara. Ia juga sudah mengirimkan video ini ke emailnya dulu agar saat kembali pada raga aslinya, dia masih bisa membukanya.


"Mama... Napa lamun-lamun telus dali adi? Adi Kei ajak nomong lho" kesal Kei yang merasa dicueki.


Sontak saja seruan Kei itu membuat Arlin langsung tersadar dari lamunannya. Ia menatap anaknya yang tengah memberengut kesal. Begitu juga dengan Rio dan Nada yang langsung melihat kearah meja dibelakangnya. Kedua matanya membulat saat melihat adanya sahabat Lili yang tadi sempat mereka bahas.


Keduanya tampak panik dan Arlin pun mencoba biasa saja, seperti tak terjadi apapun. Arlin sibuk bercengkerama dengan anaknya sedangkan kedua orang itu saling pandang seakan tengah merencanakan sesuatu. Arlin tentunya harus waspada karena perasaannya kini mulai tak enak.


Dari sudut mata Arlin, keduanya berdiri kemudian berjalan mendekat kearah meja mereka. Hal ini langsung membuatnya waspada terlebih sang sopir kini juga sudah mulai menatapnya dengan tanda tanya sambil mendekat kearah cucu majikannya.


"Kau... Orang yang mengaku sahabat Lili kan?" seru Nada dengan pandangan bertanya.


"Ya" jawan Arlin dengan singkat.


Mendengar jawaban singkat yang terlontar dari bibir Arlin, sontak saja membuat Nada sedikit tersinggung. Kini Nada langsung memberi kode pada Rio untuk melakukan sesuatu. Tentunya hal ini tertangkap dari sudut mata Arlin. Tiba-tiba saja Rio mendekat kearah Kei kemudian menarik kerah bajunya dari belakang hingga tubuh kecil bocah laki-laki itu terangkat.


"Hei... Lepaskan anakku" sentak Arlin sambil menunjuk kearah Kei.


Ia tak terima anaknya disangkut pautkan dengan masalahnya. Apalagi Kei yang tidak tahu apa-apa kini diperlakukan seperti hewan yang asal diangkat seperti itu. Bahkan sopir keluarganya itu segera saja ingin mendekat kearah Kei namun diancam oleh Rio.