Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Rencana


"Jadinya kamu mau langsung menemui pelaku itu? Sebaiknya langsung pecat saja dia dari rumah sakitmu itu. Kalau perlu, blacklist dia agar tak memasuki semua wilayah rumah sakit kita. Ajukan juga gugatan sama IDI biar surat ijin praktiknya dicabut," ucap Papa Tito yang kesal dengan tindakan Adnan itu.


Menurutnya, laki-laki itu sama sekali tak pantas menjadi seorang dokter. Attitudenya sama sekali tak bermoral. Papa Tito yakin kalau keluarga Lili juga akan ikut geram akibat dari anaknya yang sudah berulangkali sakit.


"Iya, pa. Ini nanti Aldo akan mengurusnya. Titip Lili dan Kei ya, pa. Aldo mau ke rumah sakit dulu untuk memberikan surat ijin kalau Lili untuk sementara tak melanjutkan praktik. Aldo juga mau mengadakan rapat dadakan" ucap Aldo meminta tolong pada papanya.


"Kamu tenang saja, Al. Papa akan jaga mereka. Selesaikan dulu urusanmu di luar. Kalau nanti Lili bertambah tinggi demamnya, papa akan langsung hubungi kamu atau pergi ke rumah sakit" ucap Papa Tito.


Aldo menganggukkan kepalanya mengerti. Sontak saja Aldo berdiri dari duduknya kemudian keluar dari rumah. Rencananya ia langsung akan ke rumah sakit untuk mengurus semuanya. Apalagi masalah ini jangan sampai berlarut-larut. Tak lupa kalau ia harus ke kantor polisi untuk membuat perhitungan.


***


"Lili..." panggil Mama Ningrum dan Papa Dedi sambil menatap sendu kearah anaknya itu.


Semenjak menikah, mereka jarang bertemu dengan Lili. Setiap bertemu, selalu saja melihat keadaannya anaknya yang sakit seperti ini. Mama Ningrum langsung duduk di samping Lili yang masih tertidur. Sedangkan Kei yang melihat neneknya sedih pun langsung mengelus lembut tangannya.


"Mamapin Kei yang ndak bica dagain mama ya, nek. Kei emang ndak becus" ucap Kei yang menyalahkan dirinya sendiri.


"Hei... Siapa yang bilang begitu? Nggak ada tuh yang nyalahin Kei. Yang penting Kei jadi anak baik biar nggak nyusahin mama, itu sudah cukup. Lagi pula ini bukan gara-gara Kei kok" ucap Mama Ningrum sambil membawa Kei dalam pangkuannya.


"Ciap, akek" seru Kei dengan antusias.


Kei begitu antusias dengan pembagian tugas ini. Itu artinya dia sangat dibutuhkan walaupun dirinya masihlah seorang anak kecil. Setelah perbincangan itu, Papa Dedi memutuskan keluar untuk menemui Papa Tito.


"Sabar ya, mbak. Dia itu memang laki-laki yang menyukai anakmu. Maklum fans garis keras yang ingin memiliki anakmu dengan segala cara. Tak peduli dengan bagaimana caranya yang penting berhasil" ucap Mama Nei dengan sedikit berbisik pada besannya itu.


"Namanya juga anakku cantik makanya pada terpesona gitu. Tapi kesal juga kalau pakai acara nyulik segala" ucap Mama Ningrum yang gemas dengan tingkah laku dari penculik Lili.


Keduanya terus saja berbincang namun dengan suara pelan. Pasalnya mereka tak mau kalau Kei sampai tahu pasti masalah yang dihadapi. Sepertinya memang harus ada menjaga Lili dan Kei saat diluar agar tak terjadi sesuatu lagi.


"Bodyguard di rumah ini pada kemana? Bukannya dulu selalu ada bodyguard" tanya Mama Ningrum tiba-tiba.


"Kemarin sempat ada masalah dengan agen bodyguard sebelumnya. Sekarang belum nemu yang cocok. Kalau ada rekomendasi, bilang saja" ucap Mama Nei sambol menghela nafasnya pasrah.


"Masalah apa?" tanya Mama Ningrum dengan tatapan penasarannya.