Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Hilang


Kei masuk dalam area sekolahnya dengan langkah yang malas. Bahkan ia sedari tadi hanya menatap lurus ke depan tanpa ada senyuman yang terpatri pada wajahnya. Bahkan matanya terlihat begitu sendu dengan tangan masih menggandeng papanya.


"Jadi laki-laki nggak boleh cengeng atau menye-menye, Kei. Tegakkan kepalamu, jangan bergantung sama perempuan itu" titah Aldo yang jengah dengan tingkah anaknya itu.


"Kei macih nanak tecil, wajal dong" ucap Kei.


Kei yang usianya masih kecil tentu membutuhkan dampingan dari sosok seorang ibu. Namun saat ini, oma yang biasanya mendampingi juga menyayanginya sedang tidak berada di sisinya. Apalagi Lili yang sosoknya begitu dekat dengannya juga malah meninggalkannya.


Ia butuh kasih sayang seorang ibu, bukan papa yang selalu sibuk bekerja. Ia ingin ada yang memperhatikannya dalam hal-hal kecil. Seperti menyiapkan seragam sekolah dan bekal makanan, tak lupa dengan mengantar jemputnya.


"Dulu papa seumuran kamu itu sudah mandiri, Kei. Kemana-mana sendiri, nggak perlu bawa bekal segala. Manja" ucap Aldo dengan ketus.


Mendengar ucapan ketus yang seakan meledek dirinya itu pun membuat Kei sedih. Bahkan kini Kei langsung berlari menuju kelasnya. Ia melepaskan paksa genggaman tangan papanya kemudian berlari pergi meninggalkan Aldo. Aldo yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafasnya kasar.


"Ah... Biarlah, entar juga ada gurunya yang nenangin" gumam Aldo acuh dengan keadaan anaknya itu.


Padahal saat moment seperti ini, seharusnya Aldo peduli dengan kondisi psikis Kei. Seharusnya Aldo malah membujuk Kei bukan meninggalkannya seperti ini. Sedangkan kini Aldo malah pergi dan menyerahkan semua pada gurunya itu.


Aldo pun lebih memilih meninggalkan area sekolah dan masuk mobilnya. Aldo melajukan mobilnya menuju ke kampus, tempatnya bekerja. Tanpa Aldo sadari, sebenarnya Kei tadi hanya merajuk dan ingin melihat seberapa kuat papanya itu membujuknya.


Bahkan kini Kei terlihat berdiri di balik pohon besar yang ada di dekat halaman sekolah. Ia melihat kepergian mobil Aldo dengan tatapan sendu. Ia sendirian, bahkan papanya tidak peduli terhadapnya. Kei pun langsung melihat kearah sekitar sekolah kemudian berlari keluar setelah merasa aman.


"Kei ndak mau cekolah. Kei mau temu Ante Lili caja. Papa ndak cayang cama Kei ladi" gumam Kei yang kini wajahnya sudah basah dengan air mata.


Bahkan Kei hanya asal berlari tanpa melihat kearah kanan kirinya. Padahal area sekitar itu banyak sekali orang-orang berlalu lalang dengan menatap aneh kearah Kei. Tanpa sadar, bukannya berlari kearah kampus namun jalan malah pada arah sebaliknya.


***


"Apa? Kei tidak masuk sekolah? Orang tadi saya yang mengantar dia sekolah. Bahkan saya melihat dia berlari masuk sekolah kok. Bagaimana bisa tidak masuk sekolah? Cek CCTV" seru Aldo yang kini berada di dalam ruangannya.


Aldo benar-benar terkejut saat mendapat kabar dari pihak sekolah Kei kalau anaknya itu tidak masuk kelasnya. Padahal ia tadi sudah melihat kalau Kei itu masuk area sekolah. Aldo mendengus kesal kemudian memilih memberikan tugas pada kelasnya.


Aldo langsung menuju sekolah setelah mendengar pernyataan dari salah satu guru di sana. Apalagi mereka mengatakan jika Kei keluar dari sekolah setelah dirinya pergi. Itu berarti Kei sudah pergi sejak satu jam yang lalu.


Dirinya sangat khawatir dengan keadaan anaknya. Apalagi Kei saat ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Saking tak fokusnya dengan jalan, Aldo sampai menabrak mahasiswanya sendiri yang tengah berjalan.


Brugh...


"Loe yang sialan. Jalan pakai mata dong" kesal mahasiswanya itu tanpa melihat siapa yang menabraknya.


Sontak saja mendengar suara dari mahasiswanya itu membuat Aldo menegakkan kepalanya. Tak kalah terkejutnya dari Aldo, mahasiswanya yang ternyata adalah Lili itu pun sama terkejut. Bahkan Aldo langsung menatap tajam pada Lili yang kini panik.


Lili bergegas untuk merapikan semua kertas yang terjatuh itu. Sedangkan Aldo kini malah langsung menarik tangan Lili agar ikut dengannya. Lili yang tak siap dengan tarikan tangan itu pun rasanya ingin terjungkal.


"Saya harus menemui Pak Sandy. Jangan asal tarik gini dong" protes Lili pada dosennya itu.


"Ketemu Pak Sandy itu nggak penting. Yang penting sekarang adalah kita harus cari Kei" seru Aldo.


Adegan tarik menarik antara dosen dan mahasiswanya itu sontak saja membuat heboh kampus. Apalagi beberapa mahasiswa langsung merekam adegan itu dan memasukkannya dalam forum kampus atau grup kelas. Lili sudah tak mempunyai muka lagi saat ini jika esok akan datang ke kampusnya.


"Memangnya Kei kenapa?" tanya Lili penasaran.


"Kei hilang gara-gara kamu. Masa iya dia pergi dari sekolah setelah saya antar. Pokoknya kamu harus tanggungjawab" seru Aldo.


Lili merasa bingung dan linglung sendiri dengan ucapan Aldo itu. Lili sedikit khawatir dengan Kei apabila apa yang diucapkan oleh Aldo itu benar adanya. Apalagi Kei yang pergi dari sekolah seharusnya bisa berjalan menuju kampusnya. Namun ini juga kenapa Aldo malah seakan menyalahkan dirinya yang tak tahu apa-apa.


Akhirnya Lili pasrah saja, dengan tarikan tangan Aldo. Aldo membawanya masuk dalam mobil kemudian laki-laki itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung Lili sudah bersiap dengan sabuk pengamannya. Kalau tidak, pasti traumanya akan kembali.


***


"Bagaimana bisa anak saya pergi? Apa kalian tidak mengawasinya. Kalian tahu kalau Kei sudah masuk area sekolah" kesal Aldo yang seakan menyalahkan pihak sekolah.


"Tapi ini bukan 100% kesalahan kami, pak. Seharusnya bapak memastikan kalau Kei sudah masuk dalam kelasnya" ucap salah guru itu tak mau kalah.


Tentu saja pihak sekolah yang merasa disudutkan oleh Aldo itu tak terima. Perdebatan terus terjadi antara Aldo dengan pihak sekolah. Sedangkan Lili hanya bisa diam dan geleng-geleng kepala sambil mencerna kejadian ini. Lili bingung harus berbuat apa, apalagi Aldo kini emosinya sedang tak terkendali.


"Daripada ribut dan saling menyalahkan seperti ini, lebih baik kita bagi tugas untuk mencari Kei. Apalagi ini Kei hilangnya sudah satu jam lebih. Bahaya kalau anak sekecil itu dibiarkan sendirian tanpa pengawasan orang dewasa" ucap Lili menyela perdebatan itu.


"Benar apa yang diucapkan oleh mbak ini. Kami dari pihak sekolah akan meminta beberapa orang untuk membantu mencari Kei" ucap kepala sekolah yang setuju dengan pendapat Lili.


"Memang harusnya begitu" sentak Aldo.


Bahkan Aldo langsung saja pergi dari ruang kepala sekolah. Lili menatap semua orang yang ada di sana dengan memberi kode berupa tangkupan tangan di depan dada. Lili minta maaf atas ucapan Aldo yang mungkin menyinggung mereka. Setelahnya Lili segera keluar dari ruangan itu saat melihat anggukan kepala dari mereka.