Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Serius


Kei menatap papanya dengan tatapan serius. Bahkan ia tak mengalihkan pandangannya sama sekali dari papanya. Kei curiga kalau papanya nanti akan melakukan sesuatu yang buruk pada Lili. Kei takkan terima jika terjadi sesuatu dengan Lili nantinya.


Apalagi kini papanya terlihat gugup saat berhadapan dengannya. Berulangkali mata Aldo itu melihat kearah sekitar kamar. Mungkin Aldo tak menyangka kalau Kei bisa mengetahui apa yang dipikirkannya. Bodohnya dia juga yang tak melihat keberadaan Kei di sampingnya.


"Jangan negatif thinking dulu sama papa, Kei. Orang papa memang kangen sama Mama Arlin kok. Mungkin Kei dengarnya jadi kaya Li gitu karena nama Mama Arlin juga hampir mirip kan?" ucap Aldo yang mencoba memberi alasan.


"Apa tuh netif tingting? Apa itu nama penani?" tanya Kei dengan penasaran.


Aldo hanya bisa menahan tawanya mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu. Belum tahu tentang hal seperti itu saja sudah sok berani mengajaknya serius berbincang. Sedangkan Kei masih menatap papanya dengan tatapan penasaran. Namun Aldo sepertinya sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan Kei.


"Sudah, ayo tidur. Ini sudah malam, mana besok kamu harus berangkat sekolah" ucap Aldo yang langsung mengajak anaknya tidur.


"Ish... Olang Kei macih nana kok. Papa mah nebelin, becok tana Ante Lili yang cantik tuh aja deh" ucap Kei yang sepertinya ngambek dengan papanya.


Aldo tak peduli dengan kekesalan dari Kei ini. Aldo langsung menepuk lembut punggung Kei agar bocah cilik itu segera tertidur. Kei pun tertidur karena usapan lembut itu. Aldo yang melihat anaknya sudah tertidur pulas pun hanya bisa menghela nafasnya lega.


"Kenapa kamu sekarang jadi anak kecil yang super kepo gini sih, Kei? Papa sampai nggak bisa berkata apa-apa lagi lho ini" ucap Aldo sambil terkekeh pelan.


Ia tak menyangka kalau anaknya bisa sepenasaran ini. Apalagi kini Kei sudah masuk sekolah. Ia seperti kalau selama ini belumlah menjadi seorang ayah yang baik. Tak bisa mendampingi Kei saat sekolah dan masa kecilnya. Terlalu singkat baginya mendampingi Kei kecil hingga ia sebesar ini.


***


Keesokan harinya, Lili dengan cepat berangkat pagi ke kampus. Hari ini ia tak ingin bertemu dengan Aldo karena kejadian kemarin. Walaupun ada kemungkinan besar bertemu di kampus, setidaknya ia harus terlihat sibuk. Apalagi hari ini ia harus mengurus beberapa syarat agar bisa mendaftar ujian skripsi.


Setidaknya ia tak bersama dengan Aldo dalam waktu yang cukup lama. Ia juga ingin menghindar dari bertemu Aldo saat mengantar Kei. Dia masih dilanda ketakutan dan kebingungan karena ucapan Aldo itu.


"Maafkan Tante Lili, Kei. Mungkin beberapa hari ke depan nggak bisa antar atau bawakan kamu bekal" gumam Lili yang kini langsung masuk dalam mobilnya.


Pak Yono yang melihat anak majikannya sudah masuk dalam mobil pun segera saja melajukan mobilnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Lili terus saja gelisah dalam duduknya. Bahkan sedari tadi terlihat melihat ke belakang karena khawatir jika Aldo mengikutinya.


Selang beberapa menit kendaraan Lili keluar dari halaman rumah, ada sebuah mobil memasuki area rumah gadis itu. Ternyata itu adalah mobil milik Aldo dengan Kei yang ingin diantar ke sekolah.


"Lho... Ini den Kei ngapain ke sini? Mbak Lili sudah berangkat ke kampus baru saja" ucap Mbok Nini yang merupakan salah satu ART di rumah Lili.


"Mbok Ni, Kei mau diantal cekolah cama Ante Lili. Macak iya Ante Lili nindalin Kei cendilian cih?" tanya Kei yang memang sudah akrab dengan salah satu ART di rumah Lili itu.


"Memangnya belum janjian sama Mbak Lili? Soalnya Mbak Lili baru saja diantar Pak Yono ke kampus. Buru-buru kayanya" ucap Mbok Nini.


Kei yang sudah keluar dari mobilnya pun segera saja masuk kembali. Bahunya luruh dan ia tak bersemangat untuk sekolah pagi ini. Sedangkan Aldo hanya bisa menghela nafasnya pasrah karena tahu alasan mengapa Lili berangkat lebih dulu. Ia yakin kalau karena kejadian kemarinlah membuat Lili menghindar darinya.


"Emm... Mbok, bisa minta tolong buatkan Kei bekal makanan untuk sekolahnya. Biasanya Lili yang buatkan tapi malah dianya sudah pergi. Kasihan juga Kei kalau saya belikan makanan tak sehat di luaran sana untuk bekalnya" ucap Aldo sambil menggaruk tengkuknya tak gatal.


Padahal Aldo tak cukup akrab dengan Mbok Nini ini namun malah baru pertama bertemu tapi sudah meminta tolong. Aldo juga langsung memberikan satu lembar uang kepada Mbok Nini untuk membuatkan makanan sehat bagi Kei. Mbok Nini pun menganggukkan kepalanya karena kasihan dengan Kei yang tak membawa bekal.


Mbok Nini langsung masuk ke dalam rumah dan meminta Aldo menunggu sebentar. Aldo melihat anaknya yang tampak sedih karena nantinya di sekolah tak ada yang menunggu. Aldo yang tak tega pun langsung menghubungi Lili. Beberapa kali Aldo menghubungi Lili namun tak diangkat oleh gadis itu.


"Awas saja kau. Sudah membuat anakku sedih kaya gini. Kau pikir siapa, berani-beraninya membuat anakku seperti ini" gumam Aldo yang kini kedua tangannya mengepal erat.


Tak berapa lama, Mbok Nini keluar dari rumah dengan membawa sebuah kotak bekal makanan. Mbok Nini segera menyerahkannya pada Aldo sekaligus uangnya. Apalagi ini semua bahan makanan memang ada di rumah ini, bukan dari membeli.


"Ini buat Mbok Nini saja. Buat beli sayur atau buah" ucap Aldo.


"Semua bahan makanan untuk bekal den Kei ini yang beli Mbak Lili sama Bu Ningrum. Jadi kalau mau bayar, mending langsung kasihkan mereka saja" ucap Mbok Nini.


"Baiklah. Terimakasih, Mbok. Saya dan Kei pamit berangkat dulu" ucap Aldo.


Mbok Nini menganggukkan kepalanya. Sedangkan Aldo segera saja masuk dalam mobil kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang. Kei masih terdiam dengan tatapan lurus ke depan, membuat suasana di dalam mobil itu begitu hening.


"Ante Lili tok ndak nunduin Kei cih?" gumam Kei dengan pandangan sendunya.


"Apa Kei nakal ya?" lanjutnya sambil menerawang kejadian kemarin.


Kei merasa tak ada yang salah dengan pertemuannya kemarin. Kei merasa bahwa hubungan Lili dan dia baik-baik saja. Namun Kei kini malah curiga dengan papanya. Apalagi semalam ia sempat mendengar kalau papanya berbicara pelan tentang Lili.


Kei langsung melirik kearah papanya yang tampak biasa saja. Sedari tadi Aldo sebenarnya tahu kalau Kei seperti mencurigainya. Namun ia lebih memilih diam dan tak menjelaskan apapun. Apalagi ini adalah urusan orang dewasa.