
"Cieee... Si duda lagi galau nih. Semalam nggak ada yang dipeluk. Eh ada ding, pelukan sama guling" ucap Mama Nei sambil tertawa.
Hahahaha...
Mama Nei yang melihat wajah kusut yang ditampilkan oleh Aldo saat masuk ruang makan itu langsung menjahilinya. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan Kei, pasti ada saja bahan pembicaraannya. Tak lupa dengan Papa Tito hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
Aldo yang malas menanggapi ucapan mamanya itu pun memilih untuk duduk di kursi makan. Aldo langsung menyiapkan piring dan mengambil makanan itu kemudian melahapnya dengan cepat. Bahkan Mama Nei dan Papa Tito masih saja tertawa namun sama sekali tak dihiraukan oleh Aldo.
"Ma, sudah berhenti tertawanya. Lihat anak kita itu, malah dengan santainya makan tanpa mempedulikan ocehan kita. Yang ada semua makanan dihabiskan oleh Aldo karena kita asyik bercanda" ucap Papa Tito dengan memberi kode istrinya sambil menunjuk kearah Aldo.
"Nggak baik bicara atau tertawa di depan makanan" ucap Aldo dengan sedikit menyindir kedua orangtuanya.
"Bodo amat" seru kedua orangtua Aldo.
Mama Nei dan Papa Tito pun segera saja makan dengan tenang. Sedangkan Aldo hanya bisa mengedikkan bahunya acuh karena orangtuanya yang sebal padanya itu. Setelah selesai makan, Aldo segera saja pergi. Aldo mencium kening mamanya untuk berpamitan dan segera menuju kampusnya.
"Anak kita tuh cueknya. Pantas saja Lili kadang sebal sama dia. Apalagi dia galak sekali lho kalau kasih bimbingan. Mama pun kalau jadi mahasiswanya dia sudah langsung kupukul itu kepalanya" ucap Mama Nei sambil geleng-geleng kepala.
Papa Tito pun juga heran dengan sifat Aldo itu. Anaknya itu tak mempunyai sifat yang menurun dari Mama Nei dan dirinya. Bahkan kedua orangtuanya saja mempunyai sifat ramah, walaupun pada waktu tertentu pasti akan keluar taringnya. Namun itu hanya saat-saat tertentu saja, terlebih ada yang mengganggunya.
"Nurun dari siapa sih sifatnya tuh, ma?" tanya Papa Tito dengan mengernyitkan dahinya heran.
"Mungkin dari orangtua kita dulu kali ya, pa. Kan orangtuanya papa itu kalau ngomong tegas dan irit bicara" ucap Mama Nei.
Papa Tito langsung mengingat mendiang orangtuanya yang sifatnya hampir sama seperti Aldo. Papa Tito kemudian menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan istrinya itu. Awalnya Papa Tito berpikir kalau Aldo itu anak tertukar karena sifatnya tidak mirip dengannya. Ternyata mirip kakek dan nenek dari Aldo sendiri.
***
"Saya mau kalau semua acara kegiatan di kampus termasuk bazar ini yang menjadi penanggungjawabnya adalah Pak Aldo. Beliau ini orangnya tegas, tentu saja semua orang akan disiplin dibawah kepemimpinannya. Tak lupa kalay panitia lain kalau bisa dipilih secara langsung oleh Pak Aldo" saran salah satu dosen.
Saat ini tengah berlangsung rapat tahunan demi memeriahkan hari Dies Natalis Fakultas Kedokteran. Ada banyak yang dibahas, terutama tentang kegiatan bazar yang memberikan kesempatan pada UMKM dan donor darah.
Bahkan nantinya juga akan dilaksanakan jalan sehat dan senam bersama dengan masyarakat umum. Rencananya pihak fakultas akan mengundang alumni yang bisa membantu memeriahkan acara ini. Puncak Dies Natalis ini nanti akan diadakannya malam amal. Semua hasil malam amal itu nantinya akan disumbangkan kepada pantiasuhan dan beberapa rumah sakit.
"Kami juga setuju. Lagi pula yang mempunyai banyak relasi di sini juga Pak Aldo. Itu akan semakin memudahkan kita untuk menarik orang-orang penting agar ikut berperan pada acara kita" ucap salah satu dosen dengan semangat.
Aldo yang mendengar alasan dari beberapa dosen yang menunjuknya itu hanya bisa mendengus kesal. Pasalnya mereka menunjuknya itu karena tak ingin susah-sudah dalam mencari relasi atau donatur untuk acara ini. Padahal seharusnya semua wajib membantu mencarikan donatur agar acara ini semakin besar.
"Saya tidak mau menjadi ketua atau penanggungjawab acara ini. Kalian tak bisa memanfaatkan satu orang saja. Semua harus bekerja dan saling membantu agar acara ini bisa berlangsung sukses. Kita cari saja ketua yang netral dan bagus dalam ide juga penyelesaian masalahnya" ucap Aldo yang langsung menolak usulan dari beberapa dosen.
"Saya tetap akan membantu demi kelancaran dan kesuksesan acara ini. Saya juga ikut mencari donatur untuk acara kampus ini. Tapi semuanya harus ikut turun, jangan cuma saya. Kalau sampai saya lihat banyak yang berpangku tangan, saya juga akan diam saja" lanjutnya dengan tegas.
Semua dosen yang ada di sana tentunya hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah. Berbeda dengan dosen-dosen yang netral tentu sangat setuju pada apa yang diusulkan oleh Aldo. Kasihan juga Aldo kalau sampai turun tangan sendirian.
"Saya setuju dengan apa yang diucapkan oleh Pak Aldo. Sebaiknya kita semua bekerja sama agar acara ini berlangsung meriah dan sukses. Jangan hanya mengandalkan satu orang saja. Kita kan juga dibantu oleh mahasiswa dan alumni, pasti dengan senang hati mereka mengusahakan yang terbaik untuk fakultasnya" ucap Pak Sandy.
Akhirnya setelah disepakati oleh semuanya, mereka menunjuk Pak Ervan sebagai ketua acara ini. Nantinya akan dibantu oleh beberapa mahasiswa terpilih pada setiap kelas. Pak Ervan begitu puas karena ucapan Aldo itu membuat semua yang ada di sini langsung mau berpikir keras.
***
"Mereka itu harus dikerasi, Pak Ervan. Kalau tidak, bisa semena-mena dan seenaknya nyuruh. Padahal mereka juga mempunyai potensi, hanya saja memilih ikut menjadi tim penyimak" ucap Aldo.
Setelah acara rapat selesai dengan disepakatinya beberapa poin mengenai acara yang akan berlangsung, semuanya keluar dari ruangan. Aldo berjalan bersama dengan Pak Ervan dan Pak Sandy keluar dari ruang rapat. Tentu saja mereka langsung membahas apa yang ada terjadi pada rapat tadi.
"Iya, Pak Ervan harus tegas. Jangan mau disetir, kalau bisa malah kita yang menyetir. Pak Ervan itu ketuanya, wajib sekali tuh bisa menegur anggotanya yang tidak benar" ucap Pak Sandy.
"Tolong bantu saya agar acara ini bisa berjalan dengan lancar. Kalau memang saya salah langkah atau mengambil keputusan, tolong diingatkan" ucap Pak Ervan.
Aldo dan Pak Sandy langsung menepuk bahu Pak Ervan secara bersamaan. Mereka akan selalu mendukung dan membantu demi kepentingan nama baik kampus. Apalagi acara ini diperuntukkan buat umum sehingga masyarakat juga bisa menilainta. Jangan sampai ada sesuatu yang malah membuat citra kampus dan fakultas menjadi tercoreng.
***
"Ante Lili, dangan ucilin Kei" ucap Kei sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
Kei yang setelah bangun dari tidurnya itu langsung saja duduk di atas karpet kamar Lili dengan membawa beberapa mainan milik gadis itu. Ada mainan bebek dan mobil-mobilan milik Lili yang dimainkan oleh Kei.
Namun saat Kei tengah bermain sendirian, Lili yang baru saja bangun tidur itu pun langsung menjahilinya dengan menciumi pipinya. Bahkan tangannya dengan usil menguyel-uyel pipinya itu. Hal itu tentu saja membuat Kei kesal bukan main.
"Habisnya pipi Kei ini kok kayanya minta dicium dan dicubitin terus ya" ucap Lili sambil terkekeh geli.
"Ante Lili bawu lho ni, mandi duyu cana. Talo Kei tan talo ndak andi tetap caja wani bayi" ucap Kei dengan percaya dirinya.
Lili tentu saja percaya dengan ucapan Kei itu. Kei akan tetap wangi walaupun tidak mandi. Namun Lili tak membiarkan Kei untuk tidak main. Bahkan kini Lili langsung saja menggendong tubuh Kei dan segera berlari kearah kamar mandi.
Aaaaaa....
Seruan Lili dan Kei itu membuat suasana pagi itu begitu ramai. Bahkan suaranya sampai keluar kamar membuat orangtua Lili hanya bisa geleng-geleng kepala. Baru hari ini suasana rumah ini begitu ramai di saat pagi. Padahal sebelumnya suasana rumah begitu sepi walaupun kadang ada celotehan Lili dan Mama Ningrum.