Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Diganggu Preman


Lili dan Fina hanya duduk saja di tepi jalan seperti orang tak jelas mau ngapain. Lili sedang sibuk dengan ponselnya begitu juga dengan Fina. Saat keduanya sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, tiba-tiba saja ada beberapa orang laki-laki berbadan besar dan berwajah sangar mendekati keduanya.


Lili dan Fina yang mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat kearah mereka pun sontak saja segera mengalihkan pandangannya. Mata keduanya membulat saat yang datang ternyata adalah preman yang memang biasa berada di sekitar jalanan itu. Lili dan Fina segera berdiri apalagi melihat empat orang preman itu seakan tengah menargetkan keduanya.


"Gimana nih, Fin? Gue nggak punya uang banyak lho. Kalau mereka malak kita terus nggak dikasih uang, bisa-bisa kita dibacok" ucap Lili yang sedikit panik.


Bahkan kini Lili langsung memeluk erat lengan tangan Fina. Fina yang melihat ketakutan yang ada pada raut wajah Lili pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia juga sedikit takut menghadapi para preman ini, namun seharusnya tak boleh menampakkannya di depan mereka.


"Jangan perlihatkan kepanikanmu itu. Yang ada mereka kaya senang gitu karena lawannya ketakutan" ucap Fina memperingati Lili.


Lili hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Segera saja Lili melepaskan pelukannya dari lengan tangan Fina kemudian berkacak pinggang. Apalagi kini empat orang preman itu sudah berada tepat di hadapan Lili dan Fina. Lili seakan menantang preman itu dengan memelototkan matanya tajam.


Fina yang melihat hal itu langsung menepuk dahinya pelan. Walaupun tidak terlihat panik, hanya saja apa yang dilakukan oleh Lili itu seakan menantang preman. Tentu saja preman itu semakin tertantang untuk menaklukkan kedua perempuan yang ada di hadapannya itu.


"Wah... Ada yang berani nantang kita nih, bos" ucap preman itu kepada bosnya.


Lebih tepatnya seperti sebuah sindiran yang ditujukan kepada Lili. Lili yang melihat respons dari preman itu seketika melirik kearah Fina yang menahan tawanya. Lili pikir dengan memelototinya dan berkacak pinggang itu akan membuat para preman takut. Namun ekspektasi ternyata tak sesuai dengan realita.


"Fin, gimana nih?" ucap Lili pelan sambil menyenggol lengan tangan Fina.


"Kalian mau ngapain sih? Kita di sini itu karena butuh bantuan. Bukan malah mau ngeladenin preman kaya kalian" seru Fina yang langsung ngegas tanpa mempedulikan ocehan dari Lili.


"Kita butuh uang. Serahkan sini uang kalian, barulah kami nggak gangguin" ucap salah satu preman yang ada.


Fina mendengus kesal. Ia memang tomboy, namun untuk urusan berantem atau bela diri itu ilmunya masihlah kurang. Apalagi harus menghadapi empat orang berbadan besar sekaligus. Tentu saja ia akan kalah karena kemampuan bela dirinya yang juga tak mumpuni.


"Kita nggak punya uang. Udah dibilang kan kalau kita di sini itu karena butuh bantuan. Kita aja belum kerja, mana bisa kasih uang sama kalian" seru Fina yang tak terima.


"Kalau gitu, hubungi orangtua kalian. Bilang sama mereka, minta uang untuk menebus kalian dari penculik" seru preman itu yang kekeh dengan keinginannya.


"Orangtua gue aja kerjanya cuma pengumpul sampah. Paling pol mentok nih, kalian cuma bakalan ditebus pakai uang 10 ribu" ucap Fina dengan menggelengkan kepalanya.


Para preman itu pun langsung saling pandang. Sepertinya kini mereka malah kebingungan karena ucapan dari Fina seperti orang yang ingin dikasihani. Tak berapa lama mereka berdiskusi, tiba-tiba saja mobil yang dikemudikan oleh Pak Yono datang dengan membunyikan sirine mobil polisi.


"Kabur..." seru para preman itu.


Pak Yono datang dengan membawa satu jerigen bensin untuk sepeda motor Lili. Bahkan Pak Yono tersenyum sambil menunjukkan layar ponselnya yang terhubung dengan speaker yang ada di mobil Lili. Fina dan Lili langsung paham kalau suara sirine mobil itu berasal dari speaker sehingga terdengar begitu jelas.


"Dasar preman bodoh. Bisa-bisanya dikibuli sama Pak Yono. Udah tahu ini mobil biasa, kok bisa-bisanya dengar suara sirine gitu aja langsung kabur" ucap Fina sambil terkekeh geli.


"Pikiran mereka hanya cuan doang. Makanya pas dengar kaya gitu langsung panik" ucap Lili yang ikut tertawa.


"Makasih, Pak Yono. Bapak memang luar biasa" lanjutnya sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah Pak Yono.


Tadi saat Pak Yono kembali ke tempat dimana anak majikan dan temannya berada, dari jauh terlihat kalau keduanya tengah diganggu oleh beberapa orang laki-laki. Sontak saja Pak Yono langsung memastikan kalau yang mengganggu keduanya itu adalah preman.


Pak Yono langsung memutar otaknya untuk mencari cara agar bisa menyelamatkan Lili dan Fina. Tentu saja bukan dengan cara kekerasan karena pasti ia akan kalah. Terlebih ia sudah tua dan tenaganya pasti kalah jauh dengan mereka yang berbadan besar.


Alhasil Pak Yono langsung menghubungkan ponselnya dengan speaker yang ada di mobil. Pak Yono mencari suara sirine mobil polisi dalam ponselnya kemudian menyetelnya dengan keras. Ia dengan santainya melajukan mobil mendekat kearah mereka agar para preman mendengar suara sirine itu.


"Ini bensinnya, nona" ucap Pak Yono sambil menyerahkan jerigen berisi bensin kearah Fina.


"Terimakasih, pak. Jadi enak saya dibeliin bensin gratis" ucap Fina sambil terkekeh pelan.


Fina segera saja mengambil jerigen itu kemudian memasukkan bensin ke dalam tangki motornya. Sedangkan Lili hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Fina yang malah melontarkan candaan ke Pak Yono.


Brum... Brum... Brum...


"Akhirnya bisa pulang juga" seru Fina dengan antusias saat sepeda motornya bisa menyala.


"Makanya besok lain kali kalau mau pergi kemana-mana itu diperiksa. Jangan asal main nyelonong, eh bensinnya nggak ada. Untung tadi aku lewat sini sama Pak Yono" ucap Lili yang langsung memberi pesan pada Fina.


"Ya maaf, namanya juga lupa" ucap Fina sambil cengengesan.


Lili hanya bisa geleng-geleng kepala kemudian berpamitan pada Fina untuk pulang ke rumah. Pak Yono dan Lili langsung masuk mobilnya kemudian pergi berlalu dari hadapan Fina. Fina melambaikan tangannya kearah temannya dan menyerukan terimakasih pada Lili.


"Terimakasih Lili sudah menemani di sini. Makasih juga Pak Yono atas bensinnya" seru Fina.


"Baik banget tuh Lili. Pantas saja bisa dimanfaatkan sama Nada dulu. Eits... Tapi aku bukan Nada. Aku adalah Fina yang takkan pernah memanfaatkan teman sendiri. Kecuali kalau kepepet gini nih" gumamnya yang berceloteh sendirian di jalanan sepi itu.