
"Bialin caja dong, opa. Opa ili ya cama Kei?" tanya Kei dengan tatapan julidnya.
"Ngapain iri sama kamu? Opa setiap hari tidur ada yang temani lho" ucap Papa Tito sambil terkekeh pelan.
Kei yang mendengar ucapan dari opanya pun langsung menatap julid pada pria paruh baya itu. Padahal dirinya itu ingin memamerkan kedekatannya dengan Lili, namun malah dibalik oleh Papa Tito. Bahkan kini Papa Tito semakin tersenyum penuh kemenangan karena berhasil lebih unggul dibandingkan Kei.
"Maafin Kei ya, Lili. Besok-besok kalau nyusahin kamu dan keluarga, jangan digubris saja dan nggak usah ditemuin lagi anaknya" ucap Papa Tito.
"Kei ndak nyucahin" sanggah Kei.
"Iya, pa. Kei nggak nyusahin Lili dan keluarga kok. Justru kita senang kalau di rumah ada Kei. Jadi ramai" ucap Lili sambil tersenyum.
Mama Ningrum yang mendengar panggilan anaknya pada Papa Tito pun sedikit terkejut. Sepertinya tadi saat masih di rumah dia juga sudah curiga pada anaknya yang memanggil Mama Nei dengan sebutan mama. Hal ini membuat Mama Ningrum penasaran dengan sejauh mana kedekatan hubungan keduanya itu.
Bahkan kini Mama Ningrum sedikit linglung dengan panggilan yang dilayangkan Lili pada Papa Tito. Padahal setahunya Lili ini tak mau terlalu dekat dengan keluarga ini namun malah panggilannya berbeda. Kalau dengan Kei, Mama Ningrum masih memakluminya karena memang anaknya dekat anak kecil.
"Tuh tan... Kei ndak nyucahin" ucap Kei tersenyum penuh kemenangan.
Mereka semua berbincang seru di ruang keluarga. Lebih tepatnya ledek-ledekan antara Papa Tito dan Kei yang membuat suasana menjadi riuh. Sedangkan Mama Ningrum dan Mama Nei memilih memasak bersama untuk makan malam nanti. Bahkan Mama Nei menyuruh teman barunya itu untuk menghubungi suaminya agar makan malam di mansion ini.
***
"Kei..." panggil Aldo yang melihat Kei kini sedang duduk di atas karpet ruang keluarga bersama papanya.
Saat Aldo pulang ke mansionnya dari bekerja, ternyata ia langsung disuguhi pemandangan anaknya yang telah kembali. Bahkan anaknya itu kini sedang fokus dengan tontonan TVnya bersama dengan opanya. Aldo begitu bahagia karena Kei akhirnya pulang dan dia bisa memeluk anaknya itu.
Lili memang sudah tak berada di ruang keluarga karena ikut menyiapkan makan malam di dapur. Seandainya saja Aldo tahu kalau ada Lili di rumah ini, sudah pasti raut wajah laki-laki itu takkan sesumringah ini. Raut wajah datar andalannya pasti akan langsung ia tunjukkan pada Lili.
"Papa napa tayak cenang ditu temu Kei?" tanya Kei penasaran setelah mengalihkan pandangannya kearah Aldo.
Kei yang melihat wajah sumringah dan penuh semangat dari Aldo pun langsung mengernyitkan dahinya heran. Tak biasanya papanya itu terlihat sumringah kalau bertemu dengannya. Apalagi kalau bertemu pasti sering berdebat dan tak ada yang mau mengalah.
"Memangnya kamu nggak senang kalau ketemu papa? Kalau papa sih jelas senang ketemu Kei. Kan Kei anak papa yang kemarin nggak pulang kini sudah kembali" ucap Aldo yang langsung duduk di sebelah Kei.
"Pati ada mauna nih talo bait-baitin Kei" ucap Kei dengan tatapan curiga.
Papa Tito hanya bisa terkekeh pelan melihat cucunya curiga pada papanya sendiri. Padahal dari raut wajah Aldo saja sudah kelihatan bahwa anaknya itu sangat tulus dalam merindukan Kei. Namun Kei malah mencurigainya seakan mempunyai rencana terselubung.
"Napa cucah-cucah cali duwit? Kei macih tecil lho, tan bica lancung minta cama opa yang rbih taya dalipada papa" ucap Kei yang seakan membandingkan papanya dengan sang opa.
Kei yang lebih memilih atau condong pada opanya pun membuat Papa Tito langsung melayangkan senyum penuh kemenangan. Apalagi dia ternyata lebih unggul dan kaya dibandingkan anaknya yang menyebalkan itu.
Walaupun sebenarnya semua usaha Aldo itu berasal dari kerja keras laki-laki itu sendiri. Bahkan kemungkinan uang Aldo jauh lebih banyak dibandingkan dirinya. Namun jika cucunya berpikiran ia yang mempunyai uang banyak, ia sungguh merasa bangga.
Aldo yang sudah malas dengan perdebatan ini pun memilih langsung pergi dari ruang keluarga. Ia sungguh sebal dengan anaknya yang tak ada pembelaan sama sekali padanya. Sedangkan kini Kei dan Papa Tito langsung melakukan tos ria karena berhasil membuat Aldo kalah dalam perdebatan.
"Tita ebat, opa. Bica talahin papa yang pintal bicala" ucap Kei sambil terkekeh geli.
"Kasihan papamu itu. Sukanya kok ngajak debat tapi kalau kalah langsung manyun" ucap Papa Tito sambil tertawa.
Kei juga ikut tertawa melihat papanya yang kalah debat. Bahkan papanya tak bisa berkutik sama sekali dan memilih pergi. Kei dan Papa Tito pun langsung saja menuju ke ruang makan. Tinggal menunggu Aldo yang tengah membersihkan diri saja lalu mereka akan makan malam bersama.
***
"Lho... Kok ada.."
Ucapan Aldo langsung terjeda setelah melihat tatapan horor dari mamanya itu. Aldo sangat terkejut melihat adanya Lili dan kedua orangtuanya tengah duduk di meja makan. Semuanya telah lengkap berada di sana, tinggal menunggu Aldo saja yang baru selesai membersihkan diri.
"Duduk, Al" perintah Papa Tito pada anaknya.
Papa Tito tahu kalau Aldo merasa tidak nyaman dengan kehadiran Lili dan kedua orangtuanya. Namun ia tak ingin kalau sampai tamunya ini merasa tidak disukai oleh anaknya. Terlebih yang mengajak Lili dan orangtuanya ke sini itu Kei juga Mama Nei.
Aldo pun langsung duduk di kursinya dan tak menampilkan ekspresinya sama sekali. Hal ini membuat suasana di ruang makan itu menjadi canggung. Apalagi Lili dan kedua orangtuanya merasa tidak diinginkan di sini. Namun mereka tak bisa berbuat banyak karena yang mengajak ketiganya makan bersama adalah Mama Nei sendiri.
"Ayo makan. Kok makanannya pada diemin sih" ucap Mama Nei sambil terkekeh pelan untuk mencairkan suasana.
Bahkan Mama Nei langsung mengawali mengambilkan makanan untuk suaminya terlebih dahulu. Walaupun sedikit tak bebas, namun Mama Ningrum juga langsung mengambilkan makanan untuk Papa Dedi. Lili mengambil makanannya sendiri dengan sedikit melirik kearah Aldo yang menatapnya sinis.
"Napa tuh bapak-bapak dosen satu itu? Ngelihatinnya kaya nggak suka gitu pas aku ambil makanan. Nggak akan aku habiskan juga nih makanannya" batin Lili yang langsung menggelengkan kepalanya.
Setelah mengambil makanan untuknya, Lili juga langsung menyuapi Kei. Dengan wajah cerianya, Kei makan makanannya lahap. Sedangkan Aldo yang diacuhkan seperti ini hanya bisa mendengus kesal. Aldo pun mengambil sedikit makanan untuknya.
"Ambil yang banyak, Al. Itu makanan hasil masakan dari calon mertuamu lho" ceplos Mama Nei membuat Aldo menghentikan gerakannya saat mengambil makanan.