Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Canggung


"Kerja dimana?" tanya Aldo tanpa mengalihkan perhatiannya kearah Ageng yang duduk di sampingnya.


Mereka masih dalam mobil dengan perjalanan menuju Panti Asuhan. Setelah membeli nasi padang, Aldo membawa Ageng ke supermarket terdekat. Mereka membeli beberapa bahan pokok, susu, dan cemilan untuk kebutuhan Panti Asuhan.


Ageng sangat berterimakasih kepada Aldo karena memberikan banyak makanan untuk kebutuhan saudara-saudaranya. Rezeki yang tak ia sangka-sangka hanya karena menolong anak kecil sedang dihadang preman. Ia malah diberikan banyak sekali keberkahan.


"Di cafe dekat Panti Asuhan, pak" ucap Ageng dengan pelan.


"Jadi apa?" tanya Aldo seperti tengah menginterogasi Ageng.


"Bersih-bersih, cleaning service" jawab Ageng.


Aldo menganggukkan kepalanya kemudian fokus dalam perjalanannya menuju Panti Asuhan. Bukan tak berpikir Aldo menanyakan hal itu, hanya saja ada beberapa hal yang sedikit mengganjal untuknya. Apalagi melihat Ageng yang perawakannya sudah besar, tentu laki-laki itu kemungkinan besar bekerja atau sedang kuliah.


Tak berapa lama, mobil milik Aldo memasuki area Panti Asuhan. Aldo menatap kearah sekelilingnya yang ternyata suasana di sana begitu nyaman. Apalagi halaman rumah yang ditumbuhi pepohonan rindang. Namun yang kini membuatnya tertegun adalah rumah yang menurutnya tak layak dihuni.


"Ayo, pak. Kita turun, anak-anak sudah menunggu. Pasti mereka sudah tidak sabar menyantap semuanya sama-sama" ucap Ageng dengan antusias.


Aldo hanya menganggukkan kepalanya setelah tertegun dengan rumah yang dihuni anak-anak Panti Asuhan itu. Aldo segera keluar dari mobil begitu pula dengan Ageng. Mereka masuk dalam rumah dengan membawa banyak sekali kantong plastik besar.


"Kak Ageng... Kenapa lama sekali beli makanannya? Harus antri ya di sana" tanya Seila, salah satu anak Panti Asuhan.


"Iya, tadi sedikit antri. Ini juga kakak sama bapak ini tadi mampir ke supermarket sebentar untuk beli susu dan cemilan kalian. Nanti kita bagi setelah makan bersama ya" ucap Ageng dengan lembut.


"Horeee...." seru anak-anak Panti Asuhan bersama.


Lili dan Kei masih sedikit terkejut dengan kehadiran Aldo yang berada di samping Ageng. Namun tak ayal keduanya senang karena Aldo masih mempunyai hati untuk membalas kebaikan Ageng. Ageng, Lili, dan Aldo segera membagikan nasi padang ke semuanya secara merata. Sedangkan pengelola Panti Asuhan membagikan air minum untuk semuanya.


"Kita berdo'a dulu ya" ajak Lili sambil tersenyum.


Semuanya sedikit menundukkan kepalanya untuk berdo'a. Setelah itu mereka makan sama-sama dengan Lili yang membantu menyuapi beberapa anak yang belum bisa makan sendirian. Tentunya Kei juga masih harus disuapi agar tak berantak makannya.


***


"Terimakasih Mbak Lili dan Pak Aldo atas bantuannya. Buat adik Kei, terimakasih juga atas semuanya. Kami tak tahu lagi harus mengatakan apa selain ucapan terimakasih pada kalian" ucap Nania, salah satu pengelola Panti Asuhan itu dengan mata berkaca-kaca.


"Kei yang telimatacih kalna Kak Ageng buat bantu atu adi," ucap Kei sambil tersenyum.


"Ageng, besok datanglah ke Rumah Sakit Cempaka Kasih. Di sana ada beberapa lowongan pekerjaan yang gajinya mungkin 3 kali lipat dari yang sekarang. Bukannya saya membandingkan dengan tempat kerjamu yang sekarang, hanya saja dalam kondisi seperti ini kamu harus mempunyai pekerjaan yang lebih dari itu" ucap Aldo memberikan penawaran.


"Tapi pendidikan saya, pak?" tanya Ageng dengan ragu.


"Kamu tak usah pikirkan itu. Biar nanti saya hubungi pihak HRD. Kalau kamu mau di bagian cleaning service lagi, tak masalah. Di sana juga membutuhkan itu dan gajinya juga lumayan. Tapi ingat, di sana pasti pekerjaannya lebih banyak" ucap Aldo.


Ageng menganggukkan kepalanya. Ia akan mengikuti seleksi karyawan di sana. Ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Apalagi ini Aldo sudah menjembataninya tanpa perlu memikirkan pendidikan terakhirnya. Terlebih gajinya di cafe juga tak bisa untuk memenuhi kebutuhan Panti Asuhan di sini.


"Saya juga akan membantu renovasi Panti Asuhan ini. Setidaknya agar anak-anak tak kehujanan saat musim hujan tiba. Ini tembok juga harus segera diperbaiki, bahaya kalau tiba-tiba roboh" lanjutnya.


Semua yang ada di sana bersyukur ada orang baik yang mau menyisihkan sedikit rejekinya untuk berbagi. Lili yang melihat sisi lain dari Aldo begitu terharu dan bangga. Ternyata di balik sifat cuek dan menyebalkannya ada sisi positifnya.


"Orangtua saya juga akan menjadi donatur tetap di sini. Setidaknya kami bisa membantu anak-anak di sini agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak" ucap Lili menyela obrolan itu.


"Anak-anak di sini banyak yang putus sekolah, mbak. Apa nggak banyak biaya yang harus dikeluarkan?" tanya Nania dengan tatapan khawatirnya.


"Mbak Nania nggak perlu khawatir. Kalau niatnya sudah mau membantu itu pasti rejekinya ada saja" ucap Lili sambil tersenyum menenangkan pengelola Panti Asuhan itu.


Setelah membahas beberapa hal dengan pengelolanya, ketiganya segera berpamitan pulang. Lili dan Kei berjanji akan sering datang main ke sana. Sekalian untuk melihat perkembangan Panti Asuhan. Lili takkan lepas tangan sampai Panti Asuhan ini berdiri dengan layak.


***


"Ternyata bapak nggak sejahat yang saya pikir" ucap Lili.


Kini ketiganya berada di dalam mobil dengan Kei yang tertidur dalam gendongan Lili. Aldo yang tengah mengemudikan mobilnya itu hanya mengalihkan pandangannya sekilas kearah Lili setelah mendengar ucapannya. Aldo menghela nafasnya pelan kemudian terkekeh geli seakan ucapan Lili itu lucu.


"Kau itu tak terlalu mengenalku tapi dengan beraninya sudah menilaiku. Asal kamu tahu, melihat kondisi rumah yang tak layak seperti itu hati mana yang tak terketuk? Sedangkan mansionku saja kalau ditinggali semua penghuni Panti Asuhan itu bisa untuk menampungnya dengan layak. Apalagi salah satu orang di sana sudah membantu anakku terhindar dari bahaya" ucap Aldo menjelaskan.


Lili hanya menganggukkan kepalanya. Ia tak boleh lagi menilai seseorang dengan asal. Apalagi tak tahu seluk beluknya sama sekali. Namun bukan tanpa alasan Lili menilai Aldo seperti. Lagi pula Lili melihat karena Aldo yang suka seenaknya sendiri dengannya.


"Ayo keluar" ajak Aldo.


Ternyata Lili tengah melamun hingga tak sadar kalau mereka sudah sampai di mansion Aldo. Lili segera membawa Kei masuk dalam kamar agar bocah kecil itu istirahat. Sedangkan Aldo hanya melihat saja perlakuan dari Lili pada anaknya itu.


"Manisnya. Sudah kaya ibu dan anak saja. Semoga Kei kelak juga mendapatkan ibu yang menyayangi dirinya" gumam Aldo sambil tersenyum tipis.