Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Jujur


Tanpa berlama-lama, Lili menganggukkan kepalanya. Tak ada lagi keraguan di mata Lili untuk menjalin hubungan lebih dari seorang dosen dengan mahasiswanya. Semalaman Lili memastikan bagaimana perasaannya kepada Aldo.


Ia memang tertarik dan merasa nyaman berada di dekat Aldo setelah kejadian Kei yang hilang kemarin. Aneh memang, padahal Aldo bersikap sedikit kasar kepadanya dengan menarik tangan Lili. Namun kejadian itu membuat ia sadar kalau sangat menyayangi Aldo dan Kei.


"Iya, ma. Lili menyayangi dan mencintai Pak Aldo, terutama Kei" ucap Lili dengan yakin.


Mama Nei mengusap wajahnya dengan kasar seperti tak terima dengan apa yang diucapkan oleh Lili. Beliau ingin sekali memberikan pelajaran pada Aldo agar anaknya itu berubah dulu barulah Lili bisa menerima lamarannya. Namun ternyata rencana yang ia susun tak dapat terjadi karena Lili sudah jatuh cinta pada Aldo.


"Baiklah... Mama terima keputusan kamu untuk menerima Aldo. Tapi kalau sampai anak itu berbuat ulah atau menyakiti kamu, langsung bilang mama. Biar mama bawa kamu pergi sejauh mungkin dari Aldo" ucap Mama Nei dengan tegasnya.


"Bawa peldina cama Kei duga ya, oma" ucap Kei tiba-tiba.


Bahkan dengan wajah sok tahunya itu, Kei datang mendekati keduanya yang tengah berbincang serius. Kei tadi hanya mendengar kalau omanya akan membawa pergi Lili dari sang papa. Tentu ia akan memilih untuk ikut Lili dibandingkan papanya.


"Pasti dong, oma akan bawa kamu dan Tante Lili ini pergi jalan-jalan jauh ke luar negeri sampai papamu nggak nemuin kalian" ucap Mama Nei yang kemudian menggendong cucunya itu.


Papa Tito yang melihat Lili terdiam pun langsung saja mengelus lembut punggungnya. Ia tahu pergolakan hati Lili yang seakan tak bisa kalau menyelesaikan masalah rumah tangga seperti itu. Apalagi harus langsung pergi meninggalkan Aldo, tanpa membicarakannya terlebih dahulu.


"Tenang saja. Mamamu itu juga nggak akan tega sama anaknya sampai jauhin kalian gitu. Itu hanya gertakan saja agar Aldo takkan menyakiti kamu" bisik Papa Tito pada calon menantunya itu.


Lili menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ternyata Papa Tito pikirannya jauh lebih terbuka daripada Mama Nei yang menggebu-gebu. Walaupun nanti mertuanya ikut campur dengan rumah tangganya, namun mereka pasti hanya akan memberikan solusi saja.


"Kei, kamu sudah yakin menerima Tante Lili jika nanti jadi mama barumu?" tanya Mama Nei tiba-tiba.


"Yatin dong, oma. Ladian Ante Lilu tuh baik, ndak tayak ibu tili yang ada di tipi-tipi" ucap Kei dengan yakin.


"Gimana kalau nanti sikap Tante Lili berubah karena kenakalan Kei?" tanya Mama Nei lagi.


"Kei halus minta mamap cama Ante Lili kalna Kei akal. Kei yang calah talo ditu, matana atu halus belubah dadi nanak baik" ucap Kei dengan serius.


Lili dan kedua orangtua Aldo sangat bangga dengan pemikiran Kei yang tak takut dengan cerita ibu tiri di luaran sana. Bahkan Kei sudah bisa menilai seseorang mana yang baik dan tidak. Apalagi Lili selama ini telah mencurahkan kasih sayangnya dengan tulus kepada Kei.


Lili mengambil Kei untuk dipangkunya. Lili langsung memeluk bocah cilik itu kemudian menciumi pipinya dengan lembut. Kei sangat bahagia karena sebentar lagi akan mempunyai orangtua lengkap seperti teman-temannya yang lain.


***


"Mama nggak pengaruhi kamu atau bilang jelek-jelek tentang aku kan?" tanya Aldo yang kini mengantar Lili pulang ke rumahnya.


"Enggak dong. Justru mama memberikan nasihat agar pernikahan atau rumah tangga kita langgeng. Apalagi menjelang lamaran atau pernikahan pasti ada saja halangannya" ucap Lili dengan sedikit berbohong.


"Masa sih mama nasihatin kaya gitu? Itu mamaku beneran atau habis kerasukan setan?" tanya Aldo dengan sedikit tak percaya.


"Hush... Ngomongnya. Justru ucapan orangtua seperti itulah yang benar. Kok malah dikira kerasukan setan. Jangan-jangan setannya malah kamu lagi" ceplos Lili membuat Aldo memelototkan matanya tak terima.


Ternyata malah kini Aldo yang menjadi pihak bersalah. Lili berada di pihak sang mama yang membuatnya sedikit kesal. Namun ia sedikit lega karena keduanya bisa akrab tak seperti hubungan menantu dan mertua yang ada di sinetron.


"Kamu udah bilang sama mama dan papamu kalau tiga hari lagi kami akan datang ke rumah?" tanya Aldo.


"Sudah, mereka kaget karena terlalu cepat dan dadakan. Sampai bingung harus mempersiapkan apa. Lagian mereka juga ingin baju seragaman gitu, tapi karena waktunya mepet jadi pakai pakaian yang lama" ucap Lili sambil terkekeh pelan.


Lili teringat kejadian semalam saat mamanya terus mengomelinya karena memberitahu berita ini secara dadakan. Apalagi mamanya yang super rempong dan ingin semuanya sempurna itu. Mamanya ingin sekali baju seragaman antara pihak perempuan dan laki-laki namun waktu tak memungkinkan.


"Astaga... Kenapa baru sekarang bilangnya sih, Li? Mama ingin baju seragam gitu, biar kelihatan kompak. Nggak mungkin juga penjahit kita suruh bikin baju banyak dalam waktu dua hari" oceh Mama Ningrum semalam saat Lili memberitahu tentang lamaran itu.


"Udahlah, ma. Pakai yang ada saja, toh ini baru lamaran. Baru besok waktu nikah itu kita seragaman dan semuanya sempurna" ucap Papa Dedi mencoba menenangkan istrinya yang terus saja memarahi Lili.


"Papa ini tahu apa sih. Lamaran sama nikahan, semuanya harus sempurna dan kelihatan kompak" ucap Mama Ningrum dengan ketus.


Papa Dedi dan Lili pun membiarkan saja Mama Ningrum terus mengoceh seperti itu. Hingga akhirnya Mama Ningrum memutuskan agar memakai baju lama yang dulu pernah dibuat. Beruntung itu juga belum pernah dipakai karena memang hubungan mereka tak seharmonis sekarang.


Mungkin nanti ada perombakan sedikit, apalagi bentuk dan berat badan mereka sudah berubah. Mama Ningrum dengan sigap menghubungi catering dan pihak dekorasi yang bisa dipesan dadakan. Walaupun harus mengeluarkan budget lebih, namun tak apa yang penting semuanya bahagia.


"Kamunya sih, lama sekali kasih kepastiannya. Padahal kalau dari dulu-dulu, pasti nggak akan seriweh itu" ucap Aldo dengan sedikit menyalahkan Lili.


"Habisnya bapak ngeselin. Tiap ketemu ngajak berantem, ya mana mau saya sama laki-laki kaya gitu" ucap Lili tak mau kalah.


"Dasar cewek, nggak mau ngaku kalau salah" gumam Aldo pelan.


"Apa kamu bilang?" seru Lili dengan mata melotot saat mendengar gumaman dari Aldo itu.


Aldo langsung kicep mendengar seruan dari Lili itu. Ia tak menyangka kalau Lili mempunyai pendengaran yang tajam. Padahal itu hanya gumaman pelan, namun terdengar juga.