
"Aku merasa telah mengenal kamu sebelum kejadian Arlin meninggal. Bahkan aku merasa kalau sebelumnya sudah pernah merasakan perhatian yang kamu berikan sebelum kita menikah. Kamu seperti sosok Arlin setelah sadar dari komanya" ucap Aldo menatap Lili.
Deg...
Jantung Lili berdegup kencang, bahkan kedua tangannya memegang erat selimutnya. Lili tak menyangka kalau Aldo akan membahas hal seperti ini. Lili pikir Aldo tak mengingat bagaimana sikapnya dulu saat bertransmigrasi ke tubuh Arlin.
Lili bingung apakah harus jujur dengan Aldo atau berpura-pura tidak tahu apa-apa. Namun ia tak ingin kalau kebohongannya nanti malah membuat rumah tangannya menjadi renggang. Lili menghela nafasnya pelan untuk menenangkan dirinya sejenak.
"Kamu yakin ingin mendengar kejujuranku? Jika aku jujur, apakah kamu akan percaya dengan ucapanku. Pasalnya apa yang akan aku ceritakan ini berada di luar nalar manusia" ucap Lili.
"Aku akan berusaha untuk menerima dan mempercayainya. Tapi aku minta untuk kamu jujur, setidaknya ini untuk membuat diriku lebih tenang" ucap Aldo.
Lili menganggukkan kepalanya mengerti. Ia akan jujur pada Aldo mengenai peristiwa yang dialaminya. Jika Aldo tak mempercayai dirinya dan malah membencinya, Lili tak mengapa. Yang terpenting dirinya bisa mengungkapkan apa yang disimpannya selama ini.
"Huft... Sebenarnya yang ada di tubuh Kak Arlin setelah koma itu adalah aku, Lilian. Aku memasuki tubuh Kak Arlin atau lebih tepatnya disebut transmigrasi. Perpindahan jiwa, waktu itu aku masih koma di rumah sakit dan jiwa Kak Arlin sudah tiada" ucap Lili membuat Aldo membesarkan matanya.
Bahkan Aldo langsung memundurkan tubuhnya dan menatap tak percaya kearah Lili. Ia tak bisa memungkiri kalau apa yang diucapkan oleh istrinya itu memang berada di luar nalar manusia. Namun ia adalah laki-laki yang berpikiran terbuka dan tahu kalau peristiwa itu memang ada.
"Lalu?" tanya Aldo yang masih penasaran dengan cerita Lili.
"Waktu itu Kak Arlin meminta Lili buat mencari tahu tentang penyebab kecelakaannya. Tak lupa ia juga memintaku agar menjaga Kei" ucap Lili.
"Setelah semua tugas Lili selesai, mengungkap penyebab kecelakaan Kak Arlin dan menyayangi Kei ya sudah. Lili kembali pada tubuh aslinya dan Kak Arlin meninggal. Jadi sebenarnya mau ada kecelakaan itu atau enggak, Kak Arlin tetaplah akan meninggal setelah jiwa Lili kembali" lanjutnya menceritakan permintaan Arlin.
Aldo hanya bisa terdiam mendengar cerita dari istrinya itu. Ada sedikit rasa tak terima pada dirinya jika saat itu dia ternyata tinggal dengan seorang perempuan yang bukan istrinya. Walaupun memang benar jika tubuh itu milik Arlin, namun jiwanya bukanlah sang istri.
Aldo meraup wajahnya dengan kasar karena fakta yang diungkapkan ini. Padahal ia sudah sangat bahagia dengan Arlin yang berubah, namun fakta menampar semuanya. Apalagi melihat wajah Lili yang terlihat begitu serius menceritakan kejadian itu.
"Jadi saat semuanya sudah selesai, kamu yang masih punya waktu berada di tubuh Arlin itu digunakan buat mencari tahu tentang sahabat dan pacarmu itu?" tanya Aldo.
"Iya. Kalau mencari tahu mengenai mereka dengan tubuh asliku, maka akan sulit ketahuannya. Maafkan aku karena kalian hanya bisa melihat tubuh Kak Arlin sebentar saja" ucap Lili dengan tatapan menyesalnya.
Aldo hanya menganggukkan kepalanya. Aldo yang tadinya duduk bersandar di atas ranjang pun segera merebahkan tubuhnya. Aldo langsung tidur dengan membelakangi Lili. Hal itu membuat Lili sedih.
"Mungkin kamu memang belum bisa menerima kejadian di luar nalar seperti itu. Tapi aku tak berbohong dan rasa cintaku sama kamu ini baru tumbuh setelah kita menjalin hubungan. Jadi ku harap kamu tak marah ataj menjauhi istrimu ini" ucap Lili mencoba mengajak berbincang Aldo.
Namun sepertinya Aldo memilih diam untuk mencerna semuanya. Lili pun membiarkan hal itu dengan memilih pergi keluar dari kamar. Lili segera saja membawa Baby Della juga menuju kamar Kei.
"Maafkan aku. Mungkin aku butuh waktu untuk menerima semua ini" gumam Aldo yang melihat kepergian Lili keluar dari kamar bersama Baby Della.
"Mama dan Baby Della mau tidul di kamalna Kei?" tanya Kei yang melihat Lili dan Baby Della memasuki kamarnya.
Kei yang tadinya ingin tidur pun langsung bangkit dari baringannya setelah melihat Lili masuk dalam kamarnya. Bahkan Lili langsung meletakkan tubuh Baby Della ke atas ranjangnya.
"Iya nih. Boleh kan kalau mama dan adek tidur di sini malam ini? Kami kangen dengan Kei" ucap Lili.
"Oleh dong. Kei duga cenang talo mama dan adit ada di cini temani tidul" ucap Kei dengan antusiasnya.
Lili segera saja mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu yang ada di atas nakas. Lili segera merebahkan badannya di atas kasur yang lumayan luas dengan Baby Della berada di tengah. Kei tersenyum dan langsung memejamkan matanya dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Celamat malam, mama" ucap Kei.
"Malam juga, Kei. Selamat tidur" ucap Lili sambil tersenyum.
Lili sama sekali tak bisa tidur dengan nyenyak. Padahal matanya sangat mengantuk, namun pikirannya masih ingin berkelana. Lili masih memikirkan Aldo yang sampai saat ini sepertinya kecewa padanya.
"Apa yang harus Lili lakukan? Apa Lili masih akan terus disalahkan karena meninggalnya Kak Arlin" gumam Lili yang meremas kedua tangannya.
Lili khawatir kalau kejujurannya ini malah membuat rumah tangannya renggang. Apalagi melihat respons Aldo yang tak bisa ditebak. Mata Lili memanas dan isakan lirih mulai terdengar pada keheningan malam di kamar Kei.
"Huft... Tenang Lili. Kamu harus bisa menyelesaikan semua masalah ini dengan kepala dingin. Apalagi ini adalah sebuah takdir yang tak bisa manusia ubah kembali" ucapnya mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Lili mencoba tidur walaupun hanya memejamkan matanya saja. Akhirnya Lili membuka matanya kembali saat mendengar pergerakan dari Baby Della. Beruntung Baby Della tidak menangis sehingga Kei tak terbangun.
"Anak mama bangun ya. Pasti mau minum cucu kan?" ucap Lili yang langsung duduk bersandar pada dashboard tempat tidurnya.
Lili segera menyusui anaknya itu hingga Baby Della tertidur. Karena tak bisa tidur lagi, Lili keluar dari kamar Kei untuk membuat minuman hangat. Ternyata jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Setelah memastikan Baby Della dan Kei aman, barulah ia bisa pergi.
"Siapa itu?" gumamnya pelan saat melihat siluet seseorang yang ada di dapur.
Bahkan terdengar suara seseorang yang tengah mengaduk minuman di gelas. Namun Lili bingung dengan siapa yang bangun jam 3 dini hari seperti ini. Untuk memastikannya, Lili segera mempercepat jalannya menuju dapur.
"Mas Aldo, pa..." panggil Lili yang memanggil suami dan mertuanya.
Pasalnya yang dilihatnya itu adalah siluet seorang laki-laki. Tentu saja itu membuat Lili berpikir yang ada di dapur itu adalah suami atau mertuanya.