
Mobil yang dikendarai oleh Aldo melaju menuju ke rumah sakit sesuai dengan alamat yang diucapkan oleh Pak Nono. Dalam perjalanan, Aldo terus berperang dengan hati dan pikirannya. Aldo semakin pusing karena memikirkan ucapan Kei yang mengatakan kalau dirinya adalah penyebab Lili masuk rumah sakit.
Rasa bersalahnya semakin menghantuinya hingga beberapa kali ia menghela nafasnya kasar. Dia tak menyangka kalau kejadian malam itu ternyataembuat Lili sakit. Walaupun sebenarnya ia belum tahu penyebab sebenarnya. Pasalnya malam itu dia hanya melihat Lili menangis saat mobil melaju dengan kencang.
"Kamu mikirin apa, Al? Kok kaya frustasi gitu. Padahal kita cuma mau ketemu sama Lili lho bukan hantu" ucap Mama Nei yang sedari tadi melihat gerak-gerik anaknya itu.
"Biaca, oma. Talo mau temu cama olang yang elah dicatiti tu ya tayak ditu. Inta mamap tan culit, oma. Dengsi dipelihala..." ucap Kei sambil menatap papanya kesal.
Aldo memilih diam saja daripada mengucapkan sesuatu yang membuat Kei dan Mama Nei bertambah julid kepadanya. Aldo memilih untuk fokus dengan jalanan yang ada di depannya itu hingga tak berapa lama, sampailah mereka di rumah sakit. Mobil sudah terparkir rapi di tempat parkir kendaraan kemudian ketiganya turun.
"Ayo kita langsung ke tempat resepsionisnya. Kita tanya dimana ruangannya Lili" ajak Mama Nei yang menggandeng tangan cucunya itu.
Tadi Kei yang ingin digendong oleh papanya itu memilih untuk bergandengan tangan dengan omanya. Kei masih merasa kalau penyebab sakitnya Lili karena ulah papanya. Aldo hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka berjalan masuk menuju area rumah sakit.
"Permisi... Dimana ruangan pasien atas nama Lilian?" tanya Aldo dengan wajah datarnya itu.
"Di ruang Merak 1, tuan" ucap resepsionis itu setelah memeriksa nama yang dimaksud.
Kebetulan sekali hanya ada satu nama Lilian yang berada di rumah sakit ini. Segera saja mereka bertiga berlalu menuju ruangan Lili setelah dijelaskan sedikit arahnya oleh resepsionis itu. Jantung Aldo semakin berdetak dengan kencang karena takut kalau kekhawatirannya terjadi.
Tak berapa lama, mereka menemukan ruangan dimana Lili berada. Aldo yang melihat ruangan di depannya itu seakan ragu-ragu untuk mengetuknya. Hingga akhirnya Mama Nei langsung menyuruhnya untuk segera mengetuk pintu ruangan itu.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi..." seru Mama Nei setelah Aldo mengetuk pintu ruangan itu.
Tak berapa lama terdengar suara ketukan sandal di lantai rumah sakit. Pintu pun terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya yang mengernyitkan dahinya bingung. Sesaat wanita paruh baya yang tak lain adalah Mama Ningrum itu pun menatap pada Aldo.
Mama Ningrum seperti mengenal Aldo yang dulunya pernah datang menjenguk Lili saat koma bersama dengan perempuan yang duduk di kursi roda. Namun Mama Ningrum seperti tak yakin dengan penglihatannya karena ia sudah sedikit lupa dengan wajah laki-laki itu.
"Tante pasti seperti pernah bertemu dengan saya? Saya pernah ke sini menjenguk Lili saat dia koma. Saat itu saya bersama Arlin, istri saya" ucap Aldo yang paham dengan tatapan dari Mama Ningrum.
Sontak saja Mama Ningrum langsung menghela nafasnya lega. Ternyata dugaannya itu benar, kalau memang orang yang saat itu menjenguk Lilo adalah benar laki-laki di depannya ini. Sedangkan Mama Nei dan Kei terkejut karena ternyata keduanya sudah saling mengenal.
Mama Ningrum pun langsung mengajak mereka masuk ke dalam. Ia tadinya sedikit terkejut karena Aldo tidak datang bersama dengan istrinya waktu itu. Malahan Aldo membawa anak dan ibunya ke rumah sakit ini. Mama Ningrum sedikit merasa aneh dengan kehadiran mereka. Padahal dulu hanya Arlin yang memperkenalkan diri sebagai teman anaknya.
"Sebenarnya ada apa ya ini? Kok nggak ajak Nak Arlin yang katanya dulu sahabatnya Lili. Dan setahu saya, anda ini dosennya Lili di kampus kan?" ucap Mama Ningrum setelah mereka masuk ke dalam ruang rawat inap Lili.
Mereka berempat berdiri di dekat brankar milik Lili untuk melihat keadaan gadis itu. Kei merasa sedih melihat tangan Lili yang ditusuk jarum infus. Bahkan wajahnya masih terlihat pucat dan kini Lili tengah memejamkan matanya karena sedang istirahat.
"Kami ke sini hanya untuk menjenguk Lili saja, tante. Masalah Arlin, istri saya itu sudah meninggal beberapa hari yang lalu" ucap Aldo dengan tersenyum miris.
Mama Ningrum langsung menutup mulutnya dengan tangan. Ia tak menyangka kalau orang yang menjenguk anaknya waktu itu ternyata sudah meninggal dunia. Ia jadi tak enak hati dengan Aldo karena sudah mengorek informasi duka itu.
"Maafkan saya karena tidak tahu tentang kabar duka ini. Saya dan keluarga turut berduka cita atas meninggalnya Nak Arlin" ucap Mama Ningrum dengan tak enak hati.
"Tidak apa, tante. Oh ya... Lili sakit apa ya? Soalnya di kampus juga tidak ada surat ijin dari Lili" tanya Aldo mengalihkan pembicaraan.
Walaupun mata kuliah Lili hanya tinggal skripsi dan beberapa yang harus diulang, namun wajib bagi mahasiswa untuk mengirimkan surat ijin jika tak masuk. Apalagi hari ini ada jadwal mata kuliah yang harus Lili hadiri. Mama Ningrum yang mendengar hal itu seketika menepuk dahinya pelan. Ia sampai lupa untuk mengirim surat ijin untuk anaknya itu.
"Maaf karena saya lupa mengirim surat ijin ke kampus. Kami terlalu panik hingga tak kepikiran sampai ke sana" ucap Mama Ningrum.
"Lili demam setelah semalam pulang. Kami juga tak tahu tentang penyebabnya apa karena dokter hanya bilang kalau Lili mengingat kejadian masa lalu lewat peristiwa yang baru dialami semalam. Kami pun masih mencari tahu kejadian semalam itu ada apa. Sampai sekarang pun Lili belum bisa dimintai penjelasan" lanjutnya sambil menatap anaknya sendu.
Aldo yang mendengar hal itu tentu ingatannya melayang pada kejadian semalam. Melihat Lili yang ketakutan saat mobil melaju kencang dengan tanpa sabuk pengaman. Bahkan Aldo juga ingat bagaimana dengan dia yang mengucapkan kalimat pedas pada Lili. Ada kemungkinan salah satu diantaranya itu adalah penyebabnya.
"Nenek, mamapkan papana Kei ya. Dia yang cudah buwat Ante Lili cakit. Putul atau tubit caja tu tananna talna akal cama Ante Lili" ucap Kei tiba-tiba.
Sontak saja Aldo yang mendengar hal itu segera memelototkan matanya. Padahal ia sedang mengorek informasi dari Mama Ningrum namun anaknya malah sudah mengucapkan hal itu. Mama Nei pun langsung menggendong cucunya itu agar tak mengucapkan hal aneh-aneh. Sedangkan Mama Ningrum langsung mengerutkan dahinya heran.
"Maksudnya bagaimana ya, nak?" tanya Mama Ningrum.
"Tu..."