Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Konsultasi 2


"Ngapain kamu di sini?" tanya Aldo yang melihat Lili tak beranjak dari hadapannya.


Bahkan Aldo masih saja fokus dengan tumpukan buku yang ada di depannya itu tanpa melihat kearah Lili. Lili pun yang mendengar pertanyaan dari Aldo itu segera saja menatap dosennya dengan tatapan tak percaya. Padahal Lili berada di sini karena menunggu dosennya itu memberi perintah.


"Emm... Saya nungguin bapak koreksi skripsi saya itu. Apa mau ditinggal saja? Tapi syaratnya harus langsung acc ya, pak" ucap Lili berceloteh.


Walaupun sebenarnya dalam hati Lili itu sangat kesal dengan dosennya itu, namun ia berusaha profesional dan sopan. Apalagi Aldo yang memang dosennya, tentu sekesal apapun dalam kehidupan pribadinya tak boleh mempengaruhi dalam urusan kampusnya.


"Nanti saya panggil kalau sudah selesai dikoreksi. Saya sedang sibuk" ketus Aldo.


"Kira-kira sampai jam berapa saya menunggunya, pak? Habis ini kan bapak ada jadwal mengajar juga" tanya Lili yang meminta kepastian di tengah kekesalannya itu.


"Ya tunggu saja" ucap Aldo dengan santai.


Lili yang sudah sangat kesal pun memilih keluar dari ruangan Aldo. Padahal ia hanya meminta kepastian tentang jam berapa ia dapat mengambil skripsinya ini. Ia juga tak mau menunggu di dekat ruangan dosen seharian sedangkan Aldo bahkan tidak tahu jam berapa selesai mengoreksinya.


Lili mendumel panjang pendek saat keluar dari ruangan Aldo. Lili yakin kalau Aldo itu tengah mengerjai dirinya karena kejadian kemarin yang mengusirnya dari rumahnya. Lili menilai kalau Aldo itu sangat tidak profesional dalam hal pekerjaan seperti ini. Padahal urusan pribadi berbeda dengan kepentingan kampus.


"Rasain... Salahnya siapa kemarin ngusir aku dari rumah terus nggak bantu bujukin Kei biar pulang" gumam Aldo yang melihat kepergian Lili dengan tersenyum penuh kemenangan.


Tentu saja Aldo masih kesal dengan tingkah Lili yang mengusir dan tak membantunya sama selali dalam membujuk Kei. Kini saat bertemu dengan Lili, tentu saja itu membuatnya memanfaatkan kesempatan. Ia mengerjai Lili agar bisa menunggunya lama untuk mendapatkan acc skripsinya. Sungguh kekanakan sekali sikap dari Aldo ini.


***


"Kok cemberut gitu mukanya?" tanya Fina yang melihat wajah temannya tampak kesal dan cemberut setelah keluar dari ruangan dosen.


Lili sama sekali tak menjawan pertanyaan dari Fina itu. Bahkan Lili segera saja pergi berlalu dari hadapan Fina yang tadi sedang menunggu dosennya. Fina pun hanya bisa menganga tak percaya melihat tingkah temannya itu.


Fina pun mengejar Lili yang berjalan pergi kearah kantin kampus. Lili bahkan memesan seblak level 10 karena kekesalannya itu. Hal itu tentu membuat Fina yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Perutnya bahkan sudah merasa mulas karena melihat kuah dari seblak yang dipesan oleh Lili terlihat sangat merah.


"Kalau lagi kesal sama seseorang itu jangan lampiasin ke kesehatan, Li. Entar masuk IGD, baru tahu rasa loe" ucap Fina yang memperingati sahabatnya itu.


"Bodo amat. Gue kesel banget tuh sama dosen wajah datar itu. Main usir tanpa kasih kepastian apa-apa" ucapnya mengadu pada Fina.


"Maksudnya nggak kasih kepastian tuh apa? Kepastian hubungan kalian gitu" tanya Fian dengan polosnya.


Lili yang mendengar hal itu langsung memelototkan matanya. Bahkan ia langsung menyuapkan satu sendok berisi seblak tepat pada mulut Fina. Fina pun hanya pasrah saja kemudian mengambil minuman yang ada di depannya untuk menetralkan rasa pedas dalam mulutnya.


Mulutnya terasa terbakar akibat makan seblak yang rasanya benar-benar pedas. Beruntung ia tak mempunyai penyakit lambung sehingga masih kuat jika harus makan makanan pedas. Sungguh ia mengutuk temannya itu yang seenak jidatnya malah memaksakan menyuapi seblak dalam mulutnya.


"Nggak tuh. Lihat nih gue... Sehat-sehat aja sampai sekarang walaupun udah sering makan seblak" ucap Lili tanpa merasa bersalah.


"Loe itu baru sembuh dari sakit, kalau ketahuan bokap atau nyokap loe pasti dimarahin habis-habisan. Masuk rumah sakit lagi, syukurin" ucap Fina.


Lili hanya mengedikkan bahunya acuh. Ia tak peduli dengan ucapan temannya itu. Yang terpentung ia bisa menyalurkan kemarahan dan kekesalannya itu lewat makanan ini. Kalaupun ia menangis, sudah pasti tak akan ada yang menyadarinya juga. Tentu saja mereka akan berpikir kalau ia menangis karena makan seblak yang pedas.


"Ante Lili..." seru seorang bocah kecil yang berlari kearah meja Lili dan Fina.


Lili dan Fina yang mendengar seruan itu segera saja mengalihkan pandangannya. Fina yang terkejut dengan kehadiran dari anak dosennya yang memanggil Lili, sedangkan temannya hanya melambaikan tangannya. Lili sudah tahu kalau Kei akan datang ke kampus karena kemarin bocah kecil itu sendiri yang mengutarakannya.


"Jangan lari-lari, Kei" seru Lili memperingati Kei.


Namun Kei sepertinya tidak mengindahkan sama sekali peringatannya itu. Bahkan Kei seakan senang bisa bertemu dengan Lili kembali. Tadinya Kei sudah berada di ruangan papanya bersama dengan sang oma, namun tak melihat adanya orang yang dia cari.


"Besok kalau mau cari Tante Lili di kampus, bisa langsung ke ruangan papa atau kantin ya. Pasti Tante Lili ada di salah satu tempat itu" ucap Lili kemarin pada Kei.


Mama Nei yang berlari mengejar cucunya dari belakang itu pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ia sangat khawatir kalau sampai Kei terjatuh nantinya. Namun Kei malah seakan happy saja dengan tingkahnya itu. Apalagi matanya berbinar cerah karena melihat orang dicarinya sudah berada di depan mata.


"Ante, Kei lali-lali caliin Ante Lili temana-mana lho. Adi di luangan papa ndak ada, telus Kei inat talo temalin ante ilang culuh ke tantin dika ndak temu" ucap Kei dengan antusiasnya.


Lili hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat mata berbinar dari Kei itu. Lili segera saja meraih tubuh Kei kemudian ia dudukkan dalam pangkuannya. Lili mengusap dahi Kei yang berkeringat dengan tisue. Kei bahkan langsung mengambil gelas berisi air putih yang baru saja diantarkan oleh pelayan kantin.


Glek... Glek... Glek...


Kei meminum air putih dalam gelas itu dengan brutal. Bahkan beberapanya sampai menetes atau keluar dari mulutnya. Fina yang tadinya memesan air putih itu seketika mulutnya menganga lebar. Ia tak menyangka kalau minuman yang dipesannya itu tandas diminum oleh Fina.


"Astaga... Minumanku" pekik Fina tertahan.


"Udahlah, ikhlasin saja. Mama, duduk dulu sini" ucap Lili yang telah menyadari kalau Mama Nei baru saja sampai setelah mengejar Kei.


Fina sedikit cemberut dengan apa yang diucapkan oleh Lili itu. Namun ia tak berani protes apalagi melihat ibu dari dosennya berada di sini. Yang ada nanti nasibnya akan di ujung tanduk kalau sampai berurusan dengan orang penting.