
Acara syukuran di persiapkan secara singkat. Mama Nei dan Mama Ningrum lebih memilih menggunakan jasa event organizer. Mereka tak ingin terlalu pusing karena memang badan memang sudah tua untuk menyiapkan hal seperti ini sendiri.
Catering juga bingkisan untuk para tamu yang datang juga telah dipesan. Mereka hanya mempersiapkan mental dan badan saja saat acara itu tiba. Apalagi Lili dan Aldo memang menginginkan acara sederhana.
"Kei, pakai baju kokonya itu yang rapi. Nanti ada banyak temannya lho di sana. Malu ih... Masa kelihatan kaos ********** gitu" ucap Lili.
"Gelah, mama. Kei patek kaos caja ya" ucap Kei dengan tatapan penuh harap.
"Nggak bisa gitu dong, Kei. Teman-temannya pada pakai baju rapi dan koko putih. Keluarga juga semuanya sama lho. Masa Kei malah pakai kaos. Ini juga acaranya di dalam rumah, ada AC. Nggak akan gerah" ucap Lili memberi pengertian.
Kei hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal karena permintaannya tak dituruti oleh mamanya. Lili segera saja memakaikan baju Kei dengan rapi walaupun anaknya itu sedang kesal. Melihat Kei sudah rapi, segera saja Lili menggandeng tangan anaknya keluar dari kamar.
"Senyum, Kei. Itu teman-temannya dah pada datang lho. Kita harus menyambutnya dengan tersenyum" ucap Lili.
"Iya nih. Cenum nih..." ucap Kei langsung memperlihatkan giginya yang rapi.
Lili hanya bisa terkekeh pelan melihat anaknya yang tersenyum paksa. Mereka segera bergabung dengan yang lainnya. Bahkan Kei langsung dengan 50 anak yatim piatu yang memang diundang dalam acara ini.
"Semuanya sudah siap, Li" ucap Mama Nei.
"Iya, ma. Ayo duduk" ajak Lili yang mengajak semuanya duduk.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema di rumah Aldo. Bahkan Kei yang tak paham pun mengikuti ucapan semua orang. Lili yang melihatnya hanya bisa tersenyum karena memang ia belum mengenalkan mengaji pada anaknya itu. Mungkin jika nanti anaknya sudah ada keinginan untuk belajar lebih.
Rambut baby perempuan yang merupakan anak dari Aldo dan Lili itu akhirnya dipotong. Bahkan langsung sekalian diberi nama pada acara itu. Namanya adalah Agestiara Fradella atau biasa dipanggil baby Della. Nama yang cantik untuk bayi perempuan yang menggemaskan.
***
Acara telah usai, ditutup dengan memberikan santunan kepada anak yatim piatu. Kei begitu bahagia karena bisa bermain dengan anak-anak kecil lainnya. Walaupun acara main itu hanyalah sebentar. Setelah acara selesai, Kei tertidur di atas karpet tanpa menggunakan atasan.
"Astaga... Baru pakai baju koko sebentar saja sudah dilepas sembarangan" ucap Mama Nei sambil geleng-geleng kepala.
"Tadi Kei lari-larian, ma. Makanya pasti gerah dan langsung lepas baju kokonya" ucap Lili.
"Angkat tuh, mas" lanjutnya menyuruh Aldo.
Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian membawa Kei dalam gendongannya. Anaknya itu terlalu lelah saat lari-larian bersama dengan teman sebayanya. Ruang tamu dan keluarga yang dipakai juga sudah dibersihkan. Semuanya masuk dalam kamar masing-masing untuk istirahat.
"Baby Della lucu sekali ya, pa. Nggak nyangka punya baby perempuan kaya gini. Padahal dulu aku berpikir jika anak kita itu laki-laki lagi" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
"Namanya juga kuasa Tuhan, sayang. Aku pikir juga gitu, apalagi kamu yang begitu tomboy saat hamil. Itu juga menguatkanku kalau anak kita akan laki-laki lagi" ucap Aldo sambil terkekeh pelan.
"Bagaimana dengan praktikmu di rumah sakit? Bukannya tinggal satu bulan lagi ya? Kamu hutang satu bulan lho karena cuti akan melahirkan" lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
Pasalnya Lili tak bisa memutuskan semua ini sendirian. Ia juga bingung apakah bisa melanjutkan atau tidak. Pasalnya sekarang ada Baby Della yang tak mungkin bisa ia tinggal saat usianya baru beberapa hari. Tentu ini membuat Lili begitu dilema.
"Kamu tetap lanjutkan, sayang. Rugi lho, tinggal hitungan minggu aja sih ini. Walaupun kamu harus menambah hari sesuai dengan masa cutimu" ucap Aldo memberikan masukan pada istrinya.
"Lalu Baby Della bagaimana?" tanya Lili yang khawatir dengan anaknya.
"Kita minta tolong sama mama dan papa buat jaga. Nanti setelah 40 hari, biar aku yang bawa ke kampus. Setidaknya Baby Della tetap dalam pengawasan kita. Lagian kamu cuma dua bulan kaya gini, setelahnya bisa fokus mengurus baby Della" ucap Aldo.
Lili menganggukkan kepalanya mengerti. Ia memang ingin tetap melanjutkan semuanya. Namun khawatir kalau Aldo tak menyetujui keinginannya. Apalagi sudah ada seorang anak yang baru saja lahir. Namun ternyata pikirannya itu salah karena Aldo mengerti keinginannya yang tetap ingin melanjutkan semuanya.
"Terimakasih sudah memberikanku kesempatan untuk kembali melanjutkan praktikku. Aku berjanji tidak akan pernah lupa akan kewajibanku sebagai istri dan ibu untuk kamu juga anak-anak. Tolong tegur aku jika salah" ucap Lili dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku takkan pernah melarangmu melanjutkan sekolah. Asalkan itu tak mengganggu kewajibanmu di rumah. Lagi pula anak-anak pasti juga mengerti jika orangtuanya sibuk bekerja demi mereka" ucap Aldo.
Lili menganggukkan kepalanya kemudian memeluk suaminya itu. Ternyata menikah dengan Aldo tak seburuk yang ia bayangkan. Padahal dari awal menikah saja sudah banyak perdebatan dan masalah yang menghadang. Terutama Lili yang memang belum mencintai Aldo waktu itu.
***
"Adit tecil, akhilna banun duga. Ayo cekolah cama Kak Kei" ajak Kei pada adiknya yang kini tengah berjemur di belakang rumah bersama dengan sang mama.
"Baby belum bica cekolah, Kak Kei. Umulna belum cukup" jawab Lili menggunakan suara bak anak kecil.
"Nemangna tapan adit tecil bica cekolahna, mama?" tanya Kei sambil menatap penasaran kearah Lili.
"Emm... Ya kaya umurnya Kei. Mungkin empat atau lima tahun lagi" ucap Lili.
"Lama cekali" ucap Kei sambil menggerutu kesal.
Lili hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar protes dari anaknya itu. Setelah dirasa cukup berjemurnya, Lili membawa baby Della dan Kei masuk dalam rumah. Mereka langsung ke ruang makan bersama.
"Kei, sarapan mau disuapi mama atau papa?" tanya Kei.
"Matan cendili caja, ma. Mama tan ladi dendong adit tecil" ucap Kei penuh perhatian.
"Pengertian sekali sih, anaknya mama ini. Dibantu sama oma ya, biar cepat dan nggak telat sekolahnya" ucap Lili saat mereka dalam perjalan menuju ruang makan.
Kei hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Sesampainya di sana, ternyata semuanya telah berkumpul. Lili segera saja duduk dengan baby Della dalam gendongannya. Kei disuapi oleh Mama Nei dan Aldo menyuapi Lili.
Adegan penuh kekeluargaan yang begitu hangat membuat semuanya bahagia. Apalagi kebahagiaan kini begitu lengkap dengan hadirnya Baby Della yang begitu lucu dan menggemaskan.