Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Terkejut


Semua orang kecuali Kei terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Mama Nei itu. Kei masih terus mengunyah makanan yang disuapkan kepadanya itu tanpa mempedulikan ucapan dari omanya. Sedangkan Aldo dan Lili langsung terdiam sambil saling menatap satu sama lain.


"Sudah... Sudah... Ayo makan semuanya. Ini sudah malam. Kalau kemalaman, nanti Lili dan orangtuanya pulangnya bisa sampai tengah malam. Kan bahaya di jalanan" ucap Papa Tito yang langsung mengalihkan pembicaraan.


Aldo terlihat menghela nafasnya kasar karena mendengar ucapan mamanya itu. Sepertinya Aldo harus sedikit tegas pada mamanya agar tak seenaknya berbicara seperti ini. Sedangkan Lili dan kedua orangtuanya hanya bisa tersenyum kikuk.


Aldo sudah tak lagi berselera untuk makan akibat dari ucapan mamanya itu. Namun untuk menghormati tamu yang datang, Aldo tetap makan makanannya. Papa Tito juga sudah memberi kode pada istrinya agar diam saja. Sebenarnya ia juga sedikit kesal dengan istrinya yang asal ceplos saja itu. Apalagi ini ada orangnya langsung yang menjadi tamu di sini.


"Ayo, Kei. Biar tante temani tidur sebentar. Tante juga dah mau pulang nih, soalnya dah malam sekali" ucap Lili yang langsung mengajak Kei agar masuk dalam kamar.


"Eh... Sebentar. Ngapain kamu mau temani anakku tidur? Biar aku saja yang menemaninya tidur. Dia anak saya dan yang berhak memasuki kamarnya itu hanya keluarganya saja" ucap Aldo dengan ketusnya.


Lili yang mendengar hal itu langsung menatap kedua orangtuanya. Sepertinya orangtua Lili sangat geram dengan tingkah laku Aldo. Apalagi ucapannya yang pedas hingga menyakiti hati mereka. Mama Nei pun langsung menatap anaknya. Ia merasa tak enak hati dengan ucapan pedas yang dilontarkan oleh Aldo.


"Itu yang minta ditemani tidur sama Lili itu Kei sendiri, Al. Kei juga ingin merasakan ditemani oleh seorang ibu saat mau tidur, Al" ucap Mama Nei memberi pengertian.


"Aldo bisa menemani Kei untuk tidur, tak perlu oranglain. Aldo bisa menjadi sosok ibu sekaligus ayah untuk Kei" ucap Aldo yang tak terima dengan ucapan mamanya.


Lili pun memilih untuk pergi dari ruang makan dengan menarik tangan kedua orangtuanya tanpa pamit pada pemilik mansion. Lili dan orangtuanya memilih pulang ke rumah dibandingkan mendapatkan penghinaan dari Aldo. Apalagi Aldo yang sama sekali tak memikirkan perasaan kedua orangtuanya.


"Ante... Ndak, angan peldi. Kei cuma mau ditemani tidul cama ante" seru Kei dengan histeris.


"Ante, unggu Kei" serunya sambil berlari mengejar Lili.


Aldo pun dengan sigap menggendong Kei kemudian membawanya keluar dari ruang makan. Walaupun Kei terus memberontak, namun Aldo tak membiarkan anaknya turun dari gendongannya. Sebelum keluar dari ruang makan, Aldo berhenti sebentar di depan pintu.


"Aldo rasa sikap mama kali ini keterlaluan. Jangan biarkan orang asing memasuki kamar Kei. Kei ini anaknya Aldo, apapun yang menyangkut Kei itu harus sesuai dengan apa yang aku putuskan. Tolong jangan lewati batasan mama atau tidak malah Aldo yang akan membawa Kei jauh dari kalian" ucap Aldo tanpa mengalihkan pandangannya.


Setelah mengucapkan kalimat itu, segera saja Aldo pergi membawa Kei yang masih menangis dalam gendongannya. Papa Tito hanya bisa menghela nafasnya lelah melihat anak dan istrinya yang sedari dulu memang tak sejalan. Namun ucapan istrinya yang selalu ceplas ceplos itu yang kadang membuat semuanya salah paham.


"Ma, sudahlah. Jangan berusaha jodoh-jodohin atau dekatkan Aldo dengan perempuan manapun. Kamu tahu sendiri kan kalau Aldo itu sama sekali tak suka dipaksa. Dia sudah dewasa dan bisa menentukan sendiri kebahagiannya. Kalau udah kaya gini, kita makin nggak enak sama Lili dan orangtuanya" ucap Papa Tito berusaha untuk menasihati istrinya itu.


"Ma, mama dengarin papa ngomong nggak sih?" seru Papa Tito setelah melihat istrinya hanya diam saja.


"Iya, pa. Mama dengar kok. Kalau gitu biar nanti mama yang minta maaf sama Lili dan keluarganya atas insiden ini. Apalagi ucapan Aldo itu lho pedasnya melebihi ayam geprek level 10" ucap Mama Nei dengan kesal.


Mama Nei tahu kalau semua masalah ini berawal dari dirinya. Terlebih ia yang memang suka asal ceplos saja kalau berucap. Tak lupa dengan kehaluannya untuk memaksa Aldo agar berjodoh dengan Lili itu. Walaupuan ia bersalah, tak seharusnya Aldo mau menjauhkannya dari Kei.


"Mama juga harus minta maaf sama Aldo. Nggak baik jodoh-jodohin orang, apalagi anaknya nggak mau. Malah bisa merusak silaturahmi yang sudah membaik nantinya" ucap Papa Tito yang memperingati istrinya.


Mama Nei hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah selesai dengan kegiatan makan malam dan perdebatan itu, keduanya segera masuk kamar. Mama Nei sudah mengirimkan pesan permintaan maaf pada Lili dan keluarganya. Namun sampai saat ia tertidur, pesan itu tak kunjung dibalas.


***


"Ingat ya, Kei. Mulai sekarang kamu nggak boleh ketemu lagi sama Tante Lili itu. Buat pengaruh buruk kamu aja" ucap Aldo.


Kini Aldo bersama Kei sudah berada di kamar. Kei masih menangis dan ngambek pada Aldo yang dengan seenaknya malah membawanya ke kamar. Ia ingin bersama dengan Lili karena hanya dia seorang yang membuatnya begitu tenang dan merasakan kasih sayang seorang ibu.


"Buluk apana cih, pa? Butina Kei cenang dan bahadia caja belcama Ante Lili. Dia tuh baik lho, bahtan cuka menghibul anak-anak kecil di lumah cakit. Papa ili ya talna ndak bica detat cama Ante Lili?" ucap Kei yang kini malah menuduh papanya.


"Dia baik sama anak kecil di rumah sakit itu karena pencitraan saja. Di sana juga ia karena ada sesuatu" ucap Aldo yang tak setuju dengan ucapan anaknya.


"Telcelah papa caja. Kei malas nomong cama papa yang nebelin" ucap Kei.


Bahkan kini Kei langsung membalikkan tubuhnya dengan memunggungi Aldo. Aldo yang melihat itu hanya bisa meraup wajahnya dengan kasar. Tak menyangka kalau pengaruh Lili pada anaknya itu begitu besar. Walaupun kesal dengan anaknya yang lebih dekat sama Lili, Aldo pun tetap memeluk Kei dari belakang.


"Jadi anak yang baik dan nurut sama papa, nak. Kita di sini hanya berdua. Mama sudah berada di surga. Kita harus saling menyayangi dan menjaga satu sama lain" ucap Aldo dengan berbisik tepat pada telinga anaknya yang tertidur.


Aldo pun langsung memejamkan matanya dan menyusul Kei menuju alam mimpinya. Tanpa Aldo sadari, Kei sama sekali belum tertidur pulas dan masih mendengar apa yang diucapkan papanya itu. Ada sedikit rasa kasihan pada papanya yang kini merasa kesepian semenjak ditinggal mamanya itu.