
"Tolong Nyonya Lilian diajak berbicara dan tetap dijaga kesadarannya ya, Pak Aldo" titah Dokter Anastasia menyuruh Aldo yang berdiri di samping wajah istrinya.
Terlihat sekali kalau wajah istrinya begitu pucat. Aldo langsung menggenggam tangan istrinya dan memberikan bisikan penenang untuk Lili. Aldo juga terus mengajak Lili berbincang sesuai dengan arahan Dokter Anastasia.
"Sayang, ingat nggak kalau Kei nungguin kita di luar sana dengan wajah kesal. Tadi oma dan neneknya berdebat membuat bocah itu ngomel" ucap Aldo sambil terkekeh pelan.
"Ternyata Kei pusing juga menghadapi oma dan neneknya yang sama-sama cerewet itu" ucap Lili sambil terkekeh geli.
Aldo senang karena Lili mau merespons ucapannya walaupun lirih. Bahkan wajah Lili tampak berseri-seri saat membayangkan perdebatan antara kedua mamanya itu. Aldo mengelus lembut kepala Lili dengan sayang.
Suara alat-alat medis yang digunakan untuk operasi sudah terdengar sedari tadi. Aldo berusaha untuk membuat Lili fokus terhadapnya tanpa peduli dengan suara alat medis itu. Tak berapa lama, suara bayi menangis terdengar membuat Lili dan Aldo menitikkan air mata haru.
Oeekkk... Oekkk...
"Alhamdulillah..." gumam Lili dan Aldo bersamaan.
"Terimakasih, sayang" bisik Aldo pada istrinya.
Lili hanya menganggukkan kepalanya. Ia begitu lega telah berhasil mengeluarkan anaknya. Perawat segera membersihkan bayi itu setelah memperlihatkan sekilas pada Aldo dan Lili.
"Selamat pak, nyonya. Telah lahir baby perempuan dengan berat 2,32 kg dengan sehat dan tanpa kekurangan satu apapun" ucap Dokter Anastasia.
"Kita dapat baby perempuan, mas" ucap Lili dengan lirih.
Bahkan matanya berkaca-kaca diikuti isakan lirihnya. Sedangkan Aldo merasa bahagia karena kini sudah mendapatkan anak sepasang. Apalagi Kei pasti bahagia nendapatkan adik seorang perempuan. Aldo keluar setelah memastikan jika prosedur operasi istrinya sudah sesuai.
***
Ceklek...
"Alhamdulillah... Lili sudah melahirkan dengan selamat. Anak perempuan yang sehat dan lengkap" ucap Aldo dengan wajah sumringah.
Aldo keluar dari ruang operasi untuk bertemu dengan keluarganya yang tengah menunggu. Bahkan Kei langsung berjalan mendekati papanya seakan meminta penjelasan. Setelah Aldo menjelaskan, Kei langsung memeluk papanya dengan erat.
Sedangkan anggota keluarganya yang lain terlihat sangat antusias. Apalagi mendapatkan anggota keluarga lagi seorang perempuan. Mama Nei bahkan ingin langsung menerobos masuk ke dalam ruangan untuk melihat cucunya namun ditahan oleh Papa Tito.
"Mama nih apa-apaan sih? Main nyelonong saja. Lili baru dibersihkan, babynya juga lho" tegur Papa Tito pada istrinya.
"Udah nggak sabar pengen ketemu cucu. Tahu sendiri kan kalau sedari dulu pengen sekali menimang bayi perempuan" ucap Mama Nei.
"Habis ini bakalan mama kuncir rambut panjangnya terus dikepang dan pakaiin bando lucu. Pokoknya semua keinginan cucuku ini pasti akan aku kabulkan" lanjutnya dengan antusias.
"Anak Aldo belum punya rambut, ma. Mana bisa dikuncir sih. Ah... Mending mama nggak usah dekat-dekat sama anakku. Nanti diajarin yang aneh-aneh lagi" ucap Aldo yang langsung melarang mamanya mendekati cucunya itu.
"Iya, oma ndak ucah detat-detat aditku. Ntal pati celewet tayak oma, Kei yang pucing" ucap Kei yang memang tak menginginkan Mama Nei mendekati adiknya.
"Kalian berdua menyebalkan. Awas saja nanti baby bakalan aku bawa masuk dalam kamar kami" ucap Mama Nei dengan sedikit memberikan ancaman.
Semua yang ada di sana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan keduanya. Aldo segera menggendong anaknya dan membawanya pergi. Ia disuruh menunggu di ruangan Lili karena baby akan dibawa ke sana.
***
"Lucunya, masyaAllah" ucap Mama Nei yang melihat cucu perempuannya.
Lili dan anaknya sudah dipindahkan di ruang rawat inap. Kini bayi perempuan itu tertidur pulas di dalam boxnya setelah mendapatkan ASI dari ibunya. Bahkan Lili juga ikut tidur karena masih lemas akibat proses melahirkan yang baru pertama kali ia alami.
"Aditna capa dulu dong? Aditna Kei tu" ucap Kei dengan percaya dirinya.
Kei berada dalam gendongan kakeknya untuk melihat wajah adik perempuannya yang sedang tertidur. Kei begitu terpukau melihat wajah adiknya yang cantik dan lucu dengan kedua pipi yang menggembung.
"Percaya diri sekali kau ini, Kei. Itu cucu oma lho" ucap Mama Nei.
"Iya, api tuh aditna Kei. Pototna talo mau denguk atau liat baby, halus minta ijin cama Kei" ucap Kei dengan posesifnya.
"Hati-hati, Al. Kalau anak perempuanmu besar nanti, bisa-bisa dikurung sama Kei biar nggak boleh keluar dari rumah" ucap Mama Nei dengan sedikit menyindir Kei.
Kei masa bodoh dengan ucapan omanya itu. Pasalnya ia memang seseorang yang posesif, apalagi ini sudah menyangkut dengan keluarganya. Kei mengelus lembut pipi adiknya membuat bayi perempuan itu menggeliat lucu.
"Ayo banun. Main lumah-lumahan cama aban Kei yuk" ucap Kei sambil menoel-noel pipi adiknya.
"Adiknya belum bisa diajak main, Kei. Itu juga pipinya jangan ditoel-toel gitu, kalau bangun nanti nangis lho" ucap Aldo menegur anaknya itu.
"Cilik... Papa cilik cama Kei. Papa ndak atan atu idinin main cama adit tecil" ucap Kei mengancam papanya itu.
Aldo tak menggubris sama sekali ucapan Kei. Ia lebih memilih menatap wajah anak perempuannya yang begitu menyejukkan hati. Bahkan Aldo rasanya seperti tak mau keluar rumah karena sudah ada bidadari lagi dalam kehidupannya.
***
"Mama, adit tok tidul mulu cih" protes Kei pada Lili yang kini sudah terbangun dari tidurnya.
Kei berbaring di samping Lili dan dielus kepalanya oleh perempuan itu. Lili tak menyangka jika Kei akan sangat menyayangi adiknya itu. Padahal awalnya Lili khawatir kalau Kei akan iri dan cemburu akan kasih sayang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya. Apalagi semuanya pasti terbagi dan membuat Kei merasa tersisihkan.
"Kan adik masih kecil dan pasti akan sering tidurnya, nak. Sabar ya, kalau sudah besar nanti pasti adik akan bisa diajak main" ucap Lili sambil mengelus lembut rambut anaknya itu.
"Emm... Namana capa, mama? Ndak muntin tan talo Kei mandil adit tecil telus" ucap Kei yang penasaran dengan nama adiknya.
"Mama belum tahu. Besok ya kalau adik dan mama sudah pulang ke rumah, kita adakan syukuran buat dia. Sekalian kasih nama adik" ucap Lili.
Kei menganggukkan kepalanya mengerti. Ia sudah tak sabar untuk membawa adiknya pulang ke rumah. Apalagi nama adiknya yang pasti akan lucu seperti wajahnya. Kei langsung memeluk mamanya itu dengan sayang.
"Telimatacih, mama. Cudah tacih Kei adit tecil yang lucu. Cemoga mama dan adit tecil celalu cehat juda bahadia celalu" ucap Kei penuh harap.
"Amin. Terimakasih, Abang Kei. Semoga abang bisa menjaga bunda, adik, dan keluarga kita ya. Kita harus saling menyayangi antar sesama" ucap Lili membuat Kei menganggukkan kepalanya.