Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Bekerja


Arlin hari ini langsung saja ke perusahaan mendiang mamanya dengan ditemani oleh Kei dan Aldo. Hari ini Aldo tak ada jadwal mengajar ke kampus membuatnya bisa dengan leluasa menemani sang istri. Lagi pula ia sekarang harus lebih waspada akibat tindakan yang sudah dilakukan oleh Arlin kemarin.


Papa Tito dan Mama Nei pun lebih memilih untuk di mansion saja. Ternyata Papa Tito kemarin setelah adu jotos dengan Pak Cipto sempat mengalami kram dan nyeri pada sekitar tangan hingga punggungnya. Arlin yang mengetahui hal itu merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada papa mertuanya itu.


"Maafkan Arlin, pa. Ini semua gara-gara Arlin yang belum bisa membela dan menjaga diri. Tak lupa kalau semua yang terjadi ini akibat dari masalah yang ada di perusahaan Arlin" ucap Arlin dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Kamu tak perlu minta maaf. Papa itu memang sudah tua, badannya sering encok dan kram. Papa aja yang suka nggak sadar diri kalau dirinya sudah tua" ucap Aldo dengan sedikit sinis.


Papa Tito hanya bisa mendengus kesal karena anaknya itu menistakan dirinya. Padahal dirinya itu hanya ingin dipuji mengenai kepiawaiannya dalam bela diri. Namun anaknya itu malah seakan mengejek dirinya sedangkan sang istri hanya bisa tertawa.


"Atek tebanakan alan-alan tap ulan matana unggungna entok" ucap Kei menambahi.


Arlin dan Aldo langsung mengacungkan kedua jempolnya karena ucapan anaknya yang memang benar adanya. Sedangkan Papa Tito yang memangku Kei itu langsung menciumi pipi cucunya hingga bocah kecil itu langsung saja memberontak.


"Ma, kalau liburan besok nggak usah ajak Kei deh. Ngeselin soalnya nih cucumu" ucap Papa Tito dengan bercanda.


"Kei uga ndak inat" ucap Kei sambil menggelengkan kepalanya.


Mereka hanya bisa tertawa dengan apa yang diucapkan oleh Kei itu. Terlebih melihat wajah cemberut yang ditampilkan oleh Papa Tito. Padahal tadi suasana terlihat sedih akibat ucapan permintaan maaf dari Arlin namun kini sudah lebih mencair.


***


Mobil yang dinaiki oleh Arlin, Aldo, dan Kei sudah melaju meninggalkan mansion setelah mereka berpamitan pada Mama Nei dan Papa Tito. Dengan kecepatan sedang, Aldo melajukan mobilnya sambil mendengar celotehan Kei. Sedangkan Arlin sendiri terlihat memejamkan matanya sambil mengingat jika dirinya sebentar lagi akan kembali ke raga aslinya.


"Mama, apek ya? Cini Kei ijit" ucap Kei sambil memijit tangan mamanya yang sedang memeluk perutnya itu.


Kei berpikir kalau Arlin memejamkan matanya karena terlalu kelelahan. Padahal dirinya hanya sedang mengingat tentang kehidupannya di raga Arlin asli dan masalah yang harus ia selesaikan sebelum itu terjadi. Arlin pun langsung saja membuka matanya kemudian menatap tangan kecil Kei yang berada pada lengannya.


Pijitannya sungguh tak berasa apa-apa bahkan hanya seperti sedang dielus saja. Namun ia begitu menghargai anaknya yang sangat perhatian kepadanya ini. Arlin tersenyum kemudian mengelus rambut anaknya yang terlihat basah itu kemudian mencium dahinya lama.


"Suatu saat nanti, mama akan merindukan pelukan dan ciuman ini" gumam Arlin pelan.


Aldo yang melihat hal itu sangat bahagia karena istrinya sudah bisa menerima kehadiran Kei. Gumaman Arlin tak terdengar siapapun sehingga Aldo tak marah. Arlin yakin kalau suaminya itu mendengar pasti akan menceramahinya panjang lebar. Tak hanya itu, Kei juga pasti akan langsung sedih mendengarnya.


***


Kini semua karyawan langsung saja menundukkan kepalanya dan menyapa Arlin yang datang setelah mengetahui siapa wanita itu sebenarnya. Walaupun begitu, Arlin tak mengubah pandangannya pada semua karyawannya. Baginya saat awal bertemu itu lah yang menjadi acuannya.


Arlin tak mau kalau sampai mereka hanya hormat pada orang yang jabatannya tinggi. Seharusnya sesama manusia harus saling menghargai dan menghormati. Namun tak ayal Arlin menganggukkan kepalanya untuk menanggapi sapaan mereka.


"Lihat mereka... Sudah tahu siapa kamu langsung pura-pura senyum. Padahal kelihatan sekali kalau senyumnya palsu" ucap Aldo sambil terkekeh.


Mereka kini semua sudah ada didalam lift sehingga pembicaraannya aman. Tak ada yang bisa mendengar ucapan mereka karena memang ini merupakan lift khusus. Bahkan hanya mereka berdua saja yang bisa menaikinya.


"Uka duwa" ucap Kei tiba-tiba.


Aldo dan Arlin yang mendengar celetukan dari Kei itu sontak saja tertawa. Keduanya tak menyangka kalau Kei paham dengan perbincangan yang dilakukan orangtuanya. Keduanya bahagia melihat perkembangan dan pertumbuhan Kei.


Tak berapa lama, pintu lift terbuka membuat beberapa orang yang berkerumun didekat meja sekretaris pun langsung saja berdiri tegap. Entah apa yang mereka bicarakan karena dari jarak lumayan jauh saja sudah terlihat begitu asyik dan seru. Aldo mendorong kursi roda Arlin mendekat kearah meja sekretaris itu.


"Kenapa kalian berkerumun disini? Ini sudah masuk jam kerja" ucap Arlin sambil bertanya.


"Emm... Ini bu, ada video viral mengenai ibu" ucap Gita dengan tersenyum canggung.


Gita pun langsung menyerahkan ponselnya kearah atasannya setelah melihat kode dari Arlin. Arlin melihat video yang ada di layar ponsel milik sekretarisnya itu, begitu juga dengan Aldo. Setelah melihatnya, kedua mata Arlin dan Aldo membulat seketika. Ia tak menyangka jika papanya bisa melakukan hal itu.


"Sejak kapan video ini ada?" tanya Aldo pada salah satu karyawannya.


"Sejak semalam, pak. Bahkan tadi pagi ada beberapa orang yang datang ke perusahaan dengan melempari batu dan memasang spanduk mengenai ini. Semuanya hujatan kepada Bu Arlin" jawab salah satu karyawan yang ada disana.


Kedua tangan Arlin dan Aldo mengepal dengan eratnya. Video viral yang sudah ditonton jutaan orang itu membuat dirinya kini dihujat di dunia maya. Bahkan mereka yang tak tahu apa-apa sudah mendatangi perusahaannya. Beruntung pihak keamanan dengan sigap membereskan semuanya sebelum Arlin datang.


Arlin dan Aldo memang sudah kebiasaan untuk tak melihat apa yang terjadi di media sosial karena ingin fokus memperbaiki rumah tangganya juga masalah lainnya. Sedangkan orangtua Aldo pasti juga belum mengetahui hal ini karena mereka tak bermain sosial media.


"Mama adi telkenal. Ndak apa, becok pati pidio tuh pilal di tv mama" ucap Kei sambil menganggukkan kepalanya.


"Benar, mamamu akan terkenal dan gajinya tambah banyak" ucap Aldo santai menanggapi semua itu.


Arlin yang melihat Aldo terlihat santai menanggapi ini pun segera saja mengembalikan ponsel Gita. Aldo langsung saja mendorong kursi roda Arlin untuk masuk dalam ruangannya tanpa peduli para karyawan yang terbengong.