Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Intimidasi


"Nggak usah natap kaya mau makan orang kaya gitu, Al. Kamu salahkan saja dirimu sendiri itu. Ngapain pakai lupa jemput Lili dan malah lembur di kampus? Lagian kamu itu kan nggak ikutan tim buat akreditasi" ucap Mama Nei dengan sedikit sinis.


"Ma, kita kan harus kerjasama. Kasihan dong sama tim intinya. Mereka bahkan sampai lembur berhari-hari lho demi hari ini. Sedangkan aku cuma bantu sehari saja. Setidaknya ini juga untuk kampus kita" ucap Aldo yang langsung melembutkan tatapannya.


Lili langsung mengelus lembut pergelangan tangan suaminya itu. Ia harus bisa menenangkan suaminya yang sangat lelah. Apalagi mendengar Mama Nei yang terus menceramahi dan menyindirnya. Pasti Aldo juga lelah dan bisa saja emosinya tersulut.


"Sudah, ma. Mas Aldo pasti kelelahan semalaman lembur bekerja dan tidur tak nyaman. Lebih baik Mas Aldo pulang dan istirahat saja" ucap Lili melerai perdebatan keduanya.


"Sama kamu ya, sayang. Biar Kei yang jaga mama saja. Lagian kamu hari ini libur praktik di rumah sakit kan?" tanya Aldo dengan tatapan penuh harap.


"Enak saja. Nanti anakmu ngambek kalau mamanya pas libur praktik di rumah sakit malah menemani papanya. Kei kan tadi pagi sudah meminta Lili menemaninya di sekolah" ucap Mama Nei menegur permintaan anaknya itu.


"Tapi kan Aldo juga ingin ditemani sama Lili, ma. Aldo kangen dipeluk dan dicium sama Lili lho ini" ucap Aldo yang merengek manja sambil memeluk lengan tangan Lili.


"Manja amat sih, Al. Udah sana buruan pergi dari sini sebelum mama muntah lihat kemanjaan kamu" ucap Mama Nei langsung beranjak pergi dari hadapan Lili dan Aldo.


Aldo sendiri hanya bisa terkekeh pelan mendengar apa yang diucapkan mamanya. Aldo langsung menarik pelan tangan Lili untuk segera pulang ke rumah. Aldo menganggap kalau mamanya itu telah menyetujui apa yang diinginkannya.


"Mas, tapi nanti kalau Kei ngambek sama aku gimana?" tanya Lili sedikit khawatir dengan keadaan Kei.


"Kamu tenang saja. Pasti mama bisa memberikan pengertian pada Kei" ucap Aldo menenangkan istrinya.


Lili hanya menganggukkan kepalanya walaupun ia ada sedikit kekhawatiran di sana. Ia sudah berjanji untuk menemani Kei untuk bersekolah hari ini. Apalagi hari ini adalah hari libur dirinya dari praktik di rumah sakit.


***


"Maaf ya, Li. Kemarin nggak jemput kamu di rumah sakit. Rencananya memang aku mau jemput kamu, tapi lihat banyak dosen yang lembur dan mengerjakan dokumen akreditasi membuatku tak enak jika pulang. Apalagi mereka sampai pusing dan lupa makan" ucap Aldo memberi penjelasan.


"Kamu sudah makan, mas? Apa kamu juga lupa makan kemarin?" tanya Lili dengan raut khawatirnya.


"Aku sudah makan kok. Kamu tenang saja ya" ucap Aldo yang sedikit berbohong kepada istrinya itu.


Lili menghela nafasnta lega dengan apa yang diucapkan oleh Aldo. Setidaknya Aldo itu tak lupa akan makan. Keduanya kini berada di gazebo halaman belakang mansion. Setidaknya mereka mempunyai waktu berdua seperti saat pacaran dahulu. Tanpa kehadiran pengganggu seperti Kei tentunya.


"Jaga kesehatan. Nanti kalau kamu sakit, aku bingung ngurusnya. Apalagi aku sedang hamil lho, nanti kalau aku terlalu kepikiran dan stress kan bisa berpengaruh dengan kehamilanku ini" ucap Lili memberi pesan pada Aldo.


"Maafkan aku ya. Nggak lagi deh aku lembur sampai melupakan keluarga kaya gini" ucap Aldo dengan tatapan bersalahnya.


"Setidaknya kamu menghubungiku atau mama dan papa. Biar kita yang di rumah juga tenang karena tahu kalau keadaanmu baik-baik saja" ucap Lili.


Aldo menganggukkan kepalanya. Ia jadi merasa bersalah karena membuat semua keluarganya khawatir akibat dirinya yang tak bisa dihubungi. Sampai siang keduanya terus berada di sana hingga Kei datang dengan wajah cemberutnya.


"Mama tutang boong tayak papa. Kei ndak cuka diboonin ya" seru Kei yang tiba-tiba datang mendekat kearah kedua orangtuanya.


Lili dan Aldo yang tengah tiduran sambil bercanda pun terkejut dengan seruan itu. Bahkan Kei sampai melempar tas sekolahnya kearah Aldo yang masih tiduran. Beruntung dengan sigapnya Aldo menangkap tas sekolah anaknya sebelum mendarat kearah wajahnya.


"Kei, jangan lempar-lempar tas sembarangan. Ini kalau kena muka papa, kegantengan papa langsung hilang lho ini" ucap Aldo yang kesal dengan tingkah anaknya itu.


"Cok kedantenan. Tetap danteng Kei dimana-mana" ucap Kei dengan sinisnya langsung berjalan kearah Lili.


"Mama ndak ucah detat papa. Papa tuh tutang culik mamana Kei" lanjutnya yang langsung mengajak Lili pergi.


"Hei... Mamamu ini istrinya papa lho. Enak aja mau dibawa pergi" ucap Aldo yang tak terima dengan ucapan anaknya itu.


Kei tak menggubris ucapan dari Aldo itu. Kei langsung memegang tangan mamanya itu dan menariknya lembut agar segera pergi dari sana. Lili menurut daripada nanti Kei malah ngambek kepadanya.


"Dasar pengganggu. Nggak tahu apa kalau papanya ino juga rindu sama istrinya. Main dibawa pergi saja itu istri orang" seru Aldo pada anaknya.


"Bialin. Citu caja tutang boong" seru Kei sambil menjulurkan lidahnya kearah Aldo.


Aldo mendengus kesal melihat tingkah anaknya yang menyebalkan itu. Ia memilih tak ikut masuk dan berbaring kembali di gazebo. Ia sedang malas pergi kemana-mana karena badannya masih lelah.


***


"Kei, mama nggak suka lho kalau Kei kasar sama papa. Mana tadi pakai lempar barang-barang lagi" ucap Lili menegur anaknya dengan lembut.


"Abina Kei kecal cama dan papa. Napa nindalin Kei di cekolah cendilian cih? Halusna mama tan temani Kei" ucap Kei melayangkan protesnya.


"Tapi kan tadi ada oma lho, nak. Papa tadi agak nggak enak badan karena semalam nggak tidur. Papa harus kerja semalaman jadi mama harus memeriksa keadaannya dulu. Kalau sakitnya parah, kan kasihan papa" ucap Lili memberi pengertian.


Mendengar apa yang diucapkan oleh mamanya itu sontak saja membuat Kei menatap Lili. Tatapannya berubah sendu dan merasa bersalah akan apa yang dilakukannya tadi. Mungkin nanti ia akan minta maaf pada papanya itu.


"Mamaptan Kei, mama. Tadi Kei malah-malah cama talian" ucap Kei.


"Nggak papa, tapi lain kali nggak boleh gitu lagi ya. Apalagi Kei nggak boleh kasar begitu" ucap Lili.


Kei menganggukkan kepalanya mengerti. Ia langsung memeluk mamanya dengan erat dan dibalas pelukan yang sama. Lili membawa Kei ke dalam kamar mandi dan menggantikannya pakaian santai. Setelah selesai, keduanya menuju ruang makan.


"Kita akan makan dulu. Habis itu temui papa ya buat minta maaf" ucap Lili.


"Ciap, mamatu yang tantik" ucap Kei dengan senyuman manisnya.


Lili menyuapi Kei dengan telaten. Keduanya berbincang seru dan bercerita mengenai kegiatan Kei hari ini di sekolah. Lili selalu membiasakan Kei agar selalu menceritakan kegiatannya di sekolah.