Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kejutan 2


"Jadi apa kejutannya?" tanya Aldo pada istrinya.


Kini semua anggota keluarga sudah berkumpul di halaman belakang rumah sesudah makan malam bersama. Bahkan Mama Ningrum dan Papa Dedi yang sudah penasaran pun sedari tadi memilih diam. Keduanya yakin kalau besannya sudah mengetahui apa kejutan yang akan diberikan oleh Lili.


"Iya, mama. Apa tejutanna? Wawas ya talo atu ndak teltejut" ucap Kei dengan sedikit mengancam Lili.


"Kalau nantinya Kei nggak terkejut, apa yang mau kamu lakuin sama mama?" tanya Lili sambil terkekeh geli.


"Kei batalan cium pipi mama telus-telusan. Danan lupa buat mama halus dikacih hutuman. Tidul cama Kei, itu hutumanna" ucap Kei dengan percaya dirinya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu sontak saja membuat mereka semua terkekeh geli. Berbeda dengan Aldo yang kesal dengan anaknya yang terkesan ingin memonopoli istrinya. Justru hukuman yang diucapkan oleh Kei itu malah terkesan menguntungkan anaknya.


"Dih... Itu mah maunya Kei saja. Kamu ingin tidur sama mama terus kan? Dasar manja dan tukang memonopoli mama" ucap Aldo dengan sedikit meledek anaknya.


"Mama, papa ili cama Kei tu" ucap Kei mengadu pada Lili.


Lili langsung membawa Kei ke dalam pangkuannya dan mengusap kepalanya lembut. Lili sangat gemas dengan tingkah Kei yang benar-benar lucu itu.


"Kalian ini kok malah rebutan perhatiannya Lili sih. Lebih baik kita dengarkan dan melihat kejutan yang akan disampaikan oleh Lili. Ayo Lili, mama dah nggak sabar nih" ucap Mama Ningrum pada anaknya itu.


"Baiklah... Jadi ini kejutannya" seru Lili yang langsung mengeluarkan sebuah benda dari saku jaketnya.


Sontak saja semua yang ada di sana kecuali Mama Nei dan Papa Tito langsung melihat benda yang ada di telapak tangan Lili. Mereka semua terkejut kecuali Kei yang tak paham dengan benda itu. Aldo menatap istrinya seakan meminta penjelasan dari apa yang dilihatnya.


"Kamu hamil? Kei bakalan punya adik?" tanya Aldo memastikan dugaannya.


"Iya. Aku hamil, di dalam perut ini ada adiknya Kei" ucap Lili mengumumkan berita kehamilannya.


Aldo segera memeluk Lili dari samping dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak menyangka diberi kepercayaan lagi oleh Tuhan untuk mendapatkan anak. Padahal ia belum bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk Kei.


"MasyaAllah... Selamat Lili. Mama dan papa punya cucu lagi. Kei, kamu akan jadi kakak" seru Mama Ningrum yang langsung mengambil alih Kei dari pangkuan anaknya.


Kei masih bingung dan sedikit terkejut dengan berita yang disampaikan oleh mamanya itu. Ia tak menyangka kalau akan menjadi seorang kakak. Apalagi neneknya langsung menyadarkan kalau informasi yang didengarnya itu tidak salah.


"Apa benar Kei mau jadi kakak?" tanya Kei dengan tatapan polosnya.


"Benar, Kei. Kamu sebentar lagi akan menjadi kakak. Jadi kakak yang baik ya, Kei" ucap Mama Nei menjawab pertanyaan dari cucunya itu.


Kei langsung memeluk Mama Ningrum saking bahagianya. Bahkan ia juga berdiri sambil loncat-loncat setelah memeluk neneknya itu. Ia sangat bahagia mendengar kabar kehamilan mamanya.


"Acik... Kei batalan puna adik. Becok di cekolah Kei batalan pamel cama Nanad bial dia penen duga" ucap Kei yang ingin memamerkan berita ini kepada Nadeline.


"Nanti kalau Nadeline pengen punya adik kaya Kei gimana?" tanya Lili.


"Bial papana nitah ladi telus puna adik di pelut mamana" ucap Kei dengan santainya.


Aldo langsung saja menarik Kei agar mendekat kearahnya. Pintar sekali anaknya ini kalau sudah membahas tentang adiknya. Aldo dan Lili memeluk anak sulungnya itu dengan sayang.


"Kei, di perut mama sekarang ada adik kecil kamu. Ikut jaga mama dan adik kecil ya biar nanti sehat sampai keluar dari perut mama. Pokoknya kalau mama bandel, kamu marahin ya" ucap Aldo berpesan pada Kei.


"Ciap, papa. Kei batalan daga mama dan adik di dalam pelut ini. Talo mama lomat-lomat dan akal, batal Kei malahin" ucap Kei berjanji pada papanya sambil mengelus lembut perut Lili.


Lili hanya bisa terkekeh geli mendengar perjanjian keduanya itu. Mereka terlihat begitu kompak kalau sudah berurusan untuk menjaga Lili. Para orangtua yang melihatnya pun begitu terharu. Mereka juga akan ikut menjaga Lili sebalik mungkin agar semuanya sehat.


***


Malam ini Kei tidur bersama oma dan opanya karena takut jika berada di dekat Lili. Sebenarnya ia takut karena tidurnya yang suka berantakan sehingga khawatir mengenai perut Lili.


"Kamu tenang saja. Kasih sayangku sama Kei tetap besar sama seperti saat ini. Aku juga takkan pernah membeda-bedakan Kei dengan adiknya ini. Keduanya sama-sama anakku, jadi tolong tegur aku jika sudah mulai lalai" ucap Lili dengan tatapan penuh harap.


"Kita saling mengingatkan. Aku juga akan memberikan kasih sayang yang sama besarnya untuk mereka. Jadi kamu harus begitu juga" ucap Aldo.


Lili menganggukkan kepalanya kemudian memeluk suaminya itu dari samping. Ia masih tak menyangka kalau Lili hamil dalam waktu dekat ini. Kebahagiaan dalam hidupnya semakin bertambah dan dia harus bekerja lebih keras lagi.


"Ayo istirahat. Besok kalau kamu masih lemas, nggak usah praktik ke rumah sakit dulu. Biar aku yang urus surat ijinmu" ucap Aldo yang langsung memperbaiki posisi Lili tidur.


"Aku sudah baik-baik saja. Lagi pula kalau mual dan muntah saat pagi waktu hamil itu normal saja kata dokter. Aku juga sudah diberi obat anti mual sama dokter" ucap Lili yang tetap menginginkan untuk datang ke rumah sakit.


"Baiklah, asalkan kamu tak lelah-lelah di sana. Lagi pula besok akan ada tiga dokter yang masuk untuk membantu tim medis yang kuwalahan" ucap Aldo memberitahu.


"Benarkah? Sudah kamu pastijan benar kan? Sehat jasmani dan rohaninya? Kalau bisa jangan yang umurnya terlalu tua, kasihan beliau. Kalau memang sudah usia di atas 60 tahun, pasiennya harus dibagi dengan dokter lain" ucap Lili.


Aldo hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Aldo yang memastikan sendiri kalau dokter yang masuk kali ini sudah lulus seleksi sehat jasmani dan rohaninya. Bahkan Aldo menggandeng dokter khusus agar tak ada yang bisa memanipulasi data.


***


"Masih mual?" tanya Aldo yang melihat istrinya sudah bangun dan duduk di kursi sofa.


Melihat istrinya yang tampak lemas itu membuat Aldo menduga jika istrinya habis muntah di kamar mandi. Bahkan kepala Lili terus bersandar pada bantalan sofa. Aldo langsung saja mendekati istrinya itu dan mengelus lembut kepalanya.


"Sedikit. Nanti siang juga sudah pulih seperti biasanya" jawab Lili dengan pelan.


Aldo segera saja mengambil air hangat untuk istrinya itu. Ia juga membantu Lili minum air hangat itu agar perutnya terasa lebih enak. Bahkan Aldo memijat pelipis Lili agar istrinya itu kembali tidur lagi.


"Terimakasih" ucap Lili di sela-sela pijatan tangan Aldo.


"Jangan mengucapkan terimakasih. Ini sudah tugasku, apalagi kamu juga sedang mengandung" ucap Aldo sambil tersenyum.


Brakkk...


"Mama..." seru seorang anak kecil dengan wajah bangun tidurnya.


Saat keduanya tengah dilanda keheningan, tiba-tiba saja pintu kamar mereka didobrak oleh Kei. Ini juga akibat Aldo yang tak menutup pintunya dengan rapat sehabis mengambil air minum tadi. Mereka sampai mengelus dadanya sabar karena begitu terkejut dengan suara dobrakan itu.


"Astaga, Kei. Kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu atau ucap salam" tegur Aldo pada anaknya itu.


"Mamap, papa. Kei cudah ndak cabal temu mama dan adit tecil" ucap Kei dengan gemasnya.


"Adiknya belum bangun, Kei" ucap Aldo yang hanya bisa mendengus kesal.


"Macak cih? Biacana talo Kei atang tuh adit pati cudah angun. Tan adi duga ada cuala besal watu Kei buta pitu" ucap Kei yang kini kebingungan dengan ucapan papanya.


"Sudah sini, Kei. Nggak usah dengarkan apa kata papamu itu" ucap Lili yang langsung melambaikan tangannya kearah Kei.


Kei pun segera mendekat kearah Lili dengan wajah antusiasnya. Bahkan ia menatap sinis kearah Aldo yang membohonginya. Kei langsung duduk di samping Lili dan mengelus lembut perut mamanya.


"Celamat padi adit tecil. Cepat becal ya bial bica main cama abang. Dangan juda dadi tutang boong tayak papana tita" ucap Kei yang kemudian mencium perut mamanya.


Aldo dibuat kesal dengan ucapan anaknya itu. Sedangkan Lili sudah terkekeh geli mendengar dan melihatnya. Apalagi raut wajah Aldo yang ingin sekali menjitak Kei yang seenaknya ngomong kalau dia tukang bohong.