Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Insiden


Lili kesal sekali dengan Fina yang seakan meledek dirinya. Padahal ini semua berawal dari insiden keduanya yang ceroboh. Ia tak menyangka kalau akibat insiden kemarin membuatnya menjadi bahan olok-olokan. Satu kampus...


"Mending kita ke sekolah Kei saja daripada wajahmu kaya memerah menahan kentut itu," ucap Fina yang langsung menarik tangan sahabatnya.


Beberapa mahasiswa masih terus melihat kearah Lili dengan tatapan menggoda gadis itu. Apalagi Lili yang wajahnya sudah memerah karena menahan malu. Lili hanya mampu menundukkan kepalanya di belakang Fina yang menarik tangannya.


Ciee...


Lili sama Pak Aldo...


Cie... Cie...


Walaupun Lili ingin sekali menjitak temannya itu karena meledek wajahnya seperti menahan kentut. Kalau sedang tidak dalam kondisi seperti ini, sudah habis Fina di tangannya. Tak berapa lama, keduanya sampai di luar kampus.


"Akhirnya... Telingaku nggak panas lagi karena mendengar sorakan-sorakan menyebalkan itu," dengus Lili sambil menghela nafasnya lega.


"Makanya kalau mau bertindak sesuatu itu lihat-lihat situasi dan kondisi," ucap Fina.


"Hah... Padahal sudah jelas kalau itu bukanlah salahnya aku. Tahu sendiri kalau itu adalah ulah Pak Aldo," kesal Lili.


Setelah mengucapkan hal itu, Lili segera saja pergi berjalan kaki menuju sekolah Kei. Begitu pula dengan Fina yang mengikutinya dari belakang. Lili tampak menggerutu terus menerus karena terlalu kesal.


Sesampainya di sekolah Kei, Lili melihat beberapa siswa sudah mulai berdatangan. Lili yang memang tadi berangkatnya pagi sekali akibat kertas skripsinya, membuat ia bisa menyambut Kei di sekolahnya.


"Mana tuh anak loe?" tanya Fina sambil mengedarkan pandangannya kearah seluruh penjuru sekolah.


"Nggak tahu, mungkin belum datang. Tadi sih Pak Aldo bilangnya suruh tunggu di sekolah saja" jawab Lili.


Fina yang mendengar pernyataan dari Lili pun sontak saja memelototkan matanya. Ia tak menyangka jika hubungan Lili dan Aldo sudah sedekat itu. Bahkan sudah sampai saling bertukar pesan, walaupun mungkin baru dalam tahap berbincang tentang Kei.


"Cieee... Ternyata dah akrab nih. Kok sekarang kompak banget janjian di sekolahnya Kei. Kalau bahas anak pasti harus kompak kan ya?" ledek Fina pada sahabatnya itu.


"Apaan sih? Ini soalnya Kei nggak ada yang jaga dan nungguin di sekolah. Pak Aldo nggak suka kalau ART atau babysitter yang menjaga Kei" ucap Lili sambil menghela nafasnya kasar.


"Sama aja" ucap Fina yang tak mau kalah.


Biarlah... Lili membiarkan sahabatnya itu meledek dirinya. Lili pun segera saja mencari keberadaan Kei. Melihat semua area sekolah belum ada tanda-tanda Kei, membuat ia segera saja duduk di dekat pohon.


"Ante Lili..." seru Kei sambil melambaikan tangannya.


Lili dan Fina yang tadinya sibuk dengan ponselnya pun langsung saja mengalihkan pandangannya. Ternyata di sana ada Kei yang tengah digandeng oleh Aldo tengah berjalan menuju kearah keduanya. Wajah Kei pun terlihat cerah dan senyumnya begitu mengembang.


"Jangan lari-lari, Kei" tegur Lili saat melihat Kei kini malah melepas pegangan tangannya dari Aldo dan berlari kearahnya.


Namun Kei sama sekali tak menggubris seruan dan teguran dari Lili itu. Kei terus saja berlari kemudian memeluk kedua kaki Lili. Lili pun langsung menggendong Kei dan menciumi pipinya.


"Nakal ya, dibilangin jangan lari" ucap Lili sambil terus menciumi pipi Kei.


Kei hanya bisa terkekeh geli saat pipinya seperti basah karena ciuman bertubi-tubi itu. Sedangkan Fina yang melihat pemandangan antara Lili dan Kei itu sungguh takjub. Tak menyangka kalau sahabatnya itu sudah seperti seorang ibu.


"Ehemm... Banyak nyamuk ya di sini" celetuk Fina yang sedari tadi hanya diam.


"Mana namukna?" tanya Kei yang langsung mengalihkan pandangannya.


"Nyamuknya sudah dimakan sama Tante Pinpin" ucap Lili sambil terkekeh geli.


"Ante Pinpin lapal? Campe matan namuk cegala. Matan tuh dading yayam" ucap Kei dengan polosnya.


Fina hanya bisa mendengus kesal mendengar ledekan dari Lili itu. Sedangkan Aldo sedari tadi memilih diam dan mengamati kegiatan mereka.


"Pamit sama papa, Kei" ucap Lili memberi perintah pada Kei.


"Kei cekolah dulu, papa" ucap Kei sambil tersenyum.


"Belajar yang rajin ya, nak. Jangan lupa makan siang" ucap Aldo dengan senyuman tipisnya.


Kei hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Kei segera mencium punggung tangan Aldo. Sedangkan Aldo langsung mendekatkan wajahnya dekat dengan telinga Lili.


"Jaga anak kita baik-baik" ucap Aldo dengan seringaian menggodanya.


Cup...


Bahkan tanpa aba-aba, Aldo langsung mencium dahi Lili. Tanpa rasa bersalah, Aldo langsung saja pergi meninggalkan Lili, Kei, dan Fina. Sedangkan Lili masih linglung, ia seakan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Fina pun sama terkejutnya dengan Lili.


"Astaga... Dahi loe dah nggak suci. Dicium sama duda, pacaran loe ya?" tuduh Fina pada sahabatnya itu.


Tidak mungkin kalau keduanya tak mempunyai hubungan apapun. Apalagi Aldo yang sudah berani mencium dahi Lili. Di hadapan Kei, Fina, dan beberapa ibu-ibu yang ada di sekolah itu. Bahkan ibu-ibu yang waktu itu menuduhnya sebagai perebut itu pun langsung berbisik-bisik.


"Jangan ngarang. Menyebalkan sekali itu duda, main nyosor aja. Malu... Di kampus malu, di sekolah ini juga" kesalnya.


Rasanya Lili ingin sekali menenggelamkan wajahnya pada air. Ia sungguh malu berada di dua tempat yang sering ia kunjungi itu. Lili mengumpati Aldo dalam hatinya karena telah membuatnya malu dan mati kutu seperti ini.


"Ante Lili ndak ucah malah-malah. Itu altina papa cayang cama Ante Lili talo patek cium-cium" ucap Kei menenangkan Lili.


"Benar yang dikatakan oleh Kei itu. Itu tandanya pak duda sayang sama loe" ucap Fina sambil terkekeh geli.


Lili hanya bisa mendengus kesal. Ia melihat kearah orang-orang yang yang kini melayangkan tatapan merendahkan. Terutama ibu-ibu yang kemarin berkata judes tentangnya. Lili pun segera membawa Kei masuk dalam kelasnya daripada meladeni ibu-ibu itu.


"Kei, ini bekalnya tante masukin dalam tas ya. Kalau misalnya nanti waktu istirahat mau makan di luar, bawa lagi tasnya keluar. Kita makan bersama" ucap Lili memberi pesan.


"Ciap, ante" jawab Lili dengan antusias.


Kei pun segera saja masuk dalam kelasnya. Lili melihat kearah Kei yang kini sudah duduk di kursinya. Setelah merasa kalau Kei aman, Lili dan Fina segera pergi mencari tempat duduk. Tentunya bukan duduk di dekat ibu-ibu kepo.


"Li, loe udah kaya ibu-ibu yang lagi antar dan nungguin anak sekolah" bisik Fina.