
"Oh... Jadi kalian sembunyi di sini ternyata" ucap Aldo tiba-tiba.
Aldo kini tengah berdiri dengan menyandar pada pintu warung sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Semua orang yang ada di warung itu langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu. Lili, Fina, dan Kei langsung membulatkan matanya karena melihat Aldo tengah menatap ketiganya tajam.
"Hole... Papa belhacil nemuin tita. Anti tita dantian buwat jadana ya, pa" ucap Kei dengan berseru senang.
Semua hanya bisa menganga tak percaya dengan ucapan Kei itu. Pasalnya Kei berpikir kalau tengah bermain petak umpet dengan Aldo. Bahkan Aldo hanya bisa menepuk dahinya pelan kemudian mendekat kearah Kei. Ketika hendak mengambil Kei dari sebelah Lili dan akan mengomeli gadis itu, tiba-tiba saja...
Hap...
Lili langsung memasukkan sepotong pisang goreng ke dalam mulut Aldo. Pisang goreng sisa dari Kei yang baru setengah memakannya. Mata Aldo langsung memelotot tak terima sambil mulutnya mengunyah pisang goreng itu.
"Gimana? Enak kan pisang gorengnya. Mau nambah, pak? Daripada ngomel, mending makan pisang goreng ini. Kei aja sudah habis 3 lho" ucap Lili sambil tersenyum.
Sepertinya Aldo hanya bisa menghela nafasnya sabar kali ini karena selalu saja kalah dari Lili. Tentu saja gadis itu malas untuk berdebat dengan Aldo yang membuatnya pusing. Lebih baik ia terus saja menyuapi Aldo pisang goreng agar laki-laki itu diam.
"Berhenti menyuapi saya pisang goreng. Saya ke sini untuk mengambil anakku yang diculik oleh gadis di depan saya ini" ucap Aldo dengan sinis.
"Mana mungkin orang mau culik anak kok dibawanya ke warung. Mana ini dikasih makan pisang goreng lagi" ucap Lili sambil geleng-geleng kepala.
Pak Yono masih waspada melihat perdebatan keduanya ini. Tentu saja ia sudah diberitahu oleh kedua orangtua Lili kalau harus setia menjaga anak majikannya. Terutama dari seorang laki-laki yang membawa anak. Karena Pak Yono hanya tahu kalau yang sering membawa anak dan dekat dengan Lili itu Kei juga Aldo, makanya sekarang ia harus waspada.
"Bisa saja disenang-senangin dulu baru nanti dijual" ucap Aldo tak mau kalah.
"Dikira barang rongsokan, main jual-jual aja" ucap Lili tak kalah sinisnya.
Fina yang melihat perdebatan keduanya kini malah langsung mengajak ngobrol Kei. Apalagi kini Kei sudah kembali duduk di tempatnya setelah tadi Aldo hampir saja menggendongnya. Namun karena Lili terus mengajaknya berdebat, membuat Aldo melupakan tujuannya datang ke warung.
"Bapak Aldo yang terhormat dan Ibu Lili yang cantik, jangan berdebat terus. Nanti takutnya malah jodoh lho" ucap Fina tiba-tiba menyela perdebatan itu.
"Nggak mungkin" seru Lili dan Aldo secara bersamaan.
Fina sampai terkejut dengan seruan itu. Bahkan Kei juga langsung menatap horor kearah Lili dan Aldo. Melihat tatapan tajam Lili dan Aldo, membuat Fina merasa canggung sendiri. Bahkan kini Fina langsung menggendong Kei dan membawanya pergi.
"Dah kalian debat terus saja biar Kei sama aku pergi jalan-jalan" ucap Fina yang langsung membawa Kei pergi.
Lili dan Aldo langsung berhenti berdebat kemudian melihat kearah Fina yang sudah membawa Kei pergi. Mereka melihat kearah Kei yang malah melambaikan tangannya pada Lili dan Aldo dengan senyuman manisnya. Sungguh keduanya tak menyangka kalau Fina berani membawa Kei pergi.
Melihat Kei sudah pergi menjauh bersama Fina, Lili pun kini menatap tajam pada Aldo. Aldo menaikkan sebelah alisnya karena heran melihat tatapan tajam itu. Padahal di sini ia tak bersalah sama sekali namun Lili malah menatapnya tajam.
Dugh...
Arghhhh...
Aldo memekik kesakitan setelah kakinya diinjak oleh Lili. Ia tak menyangka kalau Lili sekarang berani melakukan itu padanya. Aldo sudah mengetahui kalau Lili mendapatkan dosen pembimbing skripsi yang baru. Namun tak menyangka juga kalau langsung berani pada dosennya sendiri seperti ini.
"Hei... Walaupun saya ini bukan dosen pembimbing skripsimu lagi, tapi kamu harus menghormati saya. Ingat... Saat sidang nanti, bisa saja kalau aku malah jadi salah satu dosen yang akan menjadi pengujimu" ucap Aldo memperingatkan.
Lili menepuk dahinya pelan dan meringis kecil. Ia tentunya tak bisa memilih nanti akan diuji oleh siapa. Ia sedikit menyesal dengan keputusannya berganti dosen pembimbing. Pasalnya kalau saat sidang skripsi, pasti pembimbingnya akan membantu dia. Walaupun waktu bimbingan susah, namun saat ujian sidang skripsi itulah biasanya akan dibantu.
"Gimana? Ciut kan sekarang? Berdo'a saja semoga tidak mendapatkan saya saat sidang skripsimu nanti. Kalau dapat saya, jangan harap saya akan memudahkanmu" ucapnya penuh peringatan.
"Biasa aja tuh. Saya akan belajar dengan giat agar siapapun nanti pengujinya, saya bisa menjawab semua pertanyaan dengan tepat dan benar" ucap Lili penuh keyakinan.
Lili pun segera beranjak pergi dari warung setelah mengatakan itu. Lili langsung memberi kode pada Pak Yono untuk menunggunya karena dia akan masuk ke area kampus lagi. Sedangkan Aldo masih menatap kesal kepergian Lili itu.
"Hei... Anakku bagaimana? Kok malah dibawa pergi sama temanmu itu" seru Aldo.
"Biarkan saja, nanti juga balik sendiri. Mending bapak fokus ngajar aja. Kei nggak bakalan kenapa-napa" jawab Lili dengan santainya tanpa mengalihkan pandangannya.
Kini Lili terus berjalan menuju area kampus untuk mulai bimbingan pertamanya kepada Pak Sandy. Sedangkan untuk Kei sendiri masih bersama dengan Fina di taman kampus. Biarlah untuk sementara Kei dijaga oleh Fina sebelum nantinya bergantian dengan dirinya.
***
Aldo keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa. Ia mendapatkan kabar mengenai mantan mertuanya yaitu orangtua Arlin yang dikabarkan sakit. Ah... Lebih tepatnya papa kandung Arlin, Papa Madin yang sakit di dalam penjara.
Aldo harus segera menuju penjara karena tak ingin kecolongan. Apalagi bisa saja itu Papa Madin hanya berakting saja demi mendapatkan kebebasan. Setelah waktu itu diputuskan mendapatkan hukuman 12 tahun penjara, Aldo memang tak pernah mengunjungi mantan mertuanya itu.
"Hei gadis bengal... Aku harus pergi. Jaga Kei dulu, jangan sampai meninggalkannya. Hubungi saya kalau ada apa-apa. Saya sedang ada sesuatu penting yang harus diselesaikan dan tak bisa membawa Kei" seru Aldo saat melihat Lili duduk di taman sendirian.
Lili yang merasa kalau sedang diajak bicara pun langsung saja mengalihkan pandangannya. Ia menghela nafasnya karena harus melihat Aldo lagi. Bahkan menyuruhnya tanpa ucapan minta tolong kepadanya.
Namun melihat raut wajah Aldo yang kelihatan panik dan khawatir membuat Lili menganggukkan kepala. Melihat anggukkan Lili, Aldo langsung pergi menuju parkir mobil. Lili tak mau tahu mengenai urusan penting Aldo, yang penting Kei aman dengannya. Fina tengah membawa Kei pergi ke kantin karena gadis itu kelaparan.