
"Permisi, Pak Aldo. Saya ingin bicara sebentar dengan anda. Apa boleh saya masuk?" tanya Bu Rahma yang kini berada di depan pintu ruangan Aldo.
Pintu ruangan Aldo kini sudah terbuka lebar karena tadi laki-laki itu baru saja kembali dari kelas setelah mengajar. Setelah mengajar, Aldo berniat untuk pulang sehingga tak lagi menutup pintu ruangannya. Apalagi ia hanya meletakkan buku materi ajarnya saja di ruangan ini.
Namun saat dirinya tengah fokus mengembalikan bukunya pada rak yang ada di sana, tiba-tiba saja ada seseorang yang menemui dirinya. Aldo langsung mengalihkan pandangannya kearah seorang wanita paruh baya yang masih berdiri di depan pintu ruangannya. Ternyata ada Bu Rahma selaku salah satu dosen pembimbing akademik kelas.
"Silahkan masuk, bu. Kita bisa bicara di dalam" ucap Aldo mempersilahkan Bu Rahma untuk masuk.
Bu Rahma pun masuk dalam ruangan Aldo dengan pintu yang masih terbuka lebar. Bu Rahma duduk di depan meja kerja Aldo. Sedangkan Aldo yang tadinya masih berdiri langsung saja mendudukkan dirinya di kursi.
"Ada apa ya, bu? Tumben sekali menemui saya" tanyanya sambil tersenyum tipis.
"Ini, pak. Ada masalah dengan salah satu mahasiswa saya. Lilian yang sekarang tengah menempuh skripsi di bawah bimbingan Pak Aldo" ucap Bu Rahma mulai menjelaskan.
Tentu saja Aldo langsung mengernyitkan dahinya heran dengan apa yang diucapkan oleh Bu Rahma. Masalah? Perasaan dia tak mempunyai masalah apa-apa dengan mahasiswanya satu itu. Kecuali masalah pribadi yang malam itu terjadi di mansionnya. Aldo pikir bahwa Lili telah mengadu tentang permasalahan pribadi itu pada Bu Rahma.
"Masalah apa ya, bu? Apa mungkin Lilian bercerita tentang masalah pribadinya?" tanya Aldo dengan hati-hati.
"Saya juga kurang tahu masalahnya apa sehingga Lilian mengambil keputusan ini. Saya pun ke sini karena ingin bertanya pada Pak Aldo. Apakah selama bimbingan skripsi dengan Pak Aldo, Lilian itu ada masalah? Ini kok dia nggak mau lagi mengerjakan skripsi di bawah bimbingan Pak Aldo. Malahan Lilian mau mengajukan penggantian dosen pembimbing skripsi dan mulai lagi dari awal semester depan" jelas Bu Rahma.
Aldo tak lagi terkejut dengan apa yang diungkapkan oleh Bu Rahma. Apalagi setelah Bu Rahma mengatakan tentang keinginan Lili mengganti dosen pembimbingnya. Bukankah dulu Lili sempat mengutarakan niatnya itu kepadanya? Itulah yang membuat Aldo tak terkejut.
Saya juga bingung harus menanggapi seperti apa. Saya pikir kalau Lilian itu masih labil, bu. Mungkin ada perkataan saya yang menyinggung dia ketika bimbingan sehingga memilih untuknya berganti dosen pembimbing. Apalagi Bu Rahma tahu sendiri, saya ini tipe yang keras dan disiplin apalagi tentang skripsi" ucap Aldo membela diri.
Bu Rahma menganggukkan kepalanya mengerti. Wanita paruh baya yang lebih mengenal karakter Aldo yang memang disiplin dan keras memang agak susah menyatu dengan mahasiswanya. Apalagi ada beberapa mahasiswa yang dibentak sedikit saja langsung ketakutan.
"Lalu gimana ya ini, pak? Maksud saya, tak apa kan ya kalau saya menyetujui keinginan Lilian untuk berganti dosen pembimbing? Ini karena saya tak mau Lilian tertekan. Apalagi dia baru sembuh dan sadar dari komanya itu" ucap Bu Rahma mengutarakan sedikit kekhawatirannya.
"Turuti saja kemauan Lilian, bu. Lagi pula sistem dosen pembimbing skripsi ini kan cara memilihnya juga sesuai aturan di kampus. Apalagi memang penelitian yang Lilian ambil itu sesuai dengan bidang saya makanya dia mendapatkan dosen pembimbingnya saya. Kita lihat saja ke depannya seperti apa" ucap Aldo sambil tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa, bu" ucap Aldo memaklumi.
Bu Rahma pun undur diri dari ruangan Aldo. Setelah melihat Bu Rahma pergi, Aldo langsung menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya. Aldo menghela nafasnya kasar karena masalah tak terduga ini. Walaupun terlihat tenang, namun dalam hati Aldo sudah kesal bukan kepalang.
"Ada-ada aja tuh bocah. Menyangkutpautkan masalah pribadi ke pendidikan. Padahal aku nggak acc tuh skripsi karena banyak kesalahan yang ada di isinya itu" kesalnya.
Aldo yang kini tengah menggerutu kesal pun langsung saja beranjak dari duduknya. Bahkan Aldo segera saja keluar dari ruangannya dan menutup pintunya. Aldo akan pulang ke rumah untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Saat berada di tempat parkir, ia melihat Lili sedang berdiri menunggu di dekat mobil. Sepertinya gadis itu tengah menunggu jemputannya atau sang sopir yang sedang pergi. Memang benar, Lili tengah menunggu Pak Yono yang tadi pamit ke kamar mandi sebentar.
Aldo memilih untuk mendekati gadis itu. Tentu saja untuk membuat jengkel Lili. Lili yang merasa ada seseorang yang melangkah mendekatinya pun langsung mengalihkan pandangannya. Mata Lili membulat karena melihat adanya Aldo di depannya.
"Ngapain bapak ke sini? Mau buat masalah lagi sama saya?" tanya Lili dengan sinisnya.
"Dasar kekanak-kanakan. Mana ada mencampuradukkan masalah kuliah dengan pribadi. Kalau memang ada masalah pribadi dengan saya, nggak usah bawa-bawa status saya sebagai dosen pembimbing skripsi. Dipikir saya yang salah kan" kesal Aldo.
Lili menganga tak percaya dengan ucapan Aldo itu. Tentu ia paham dengan arah pembicaraan Aldo yang seakan dirinya membawa masalah pribadi dalam skripsinya. Padahal masalah ini juga berkaitan dengan skripsinya, maka dari itu ia lebih memilih mundur.
"Yang kekanakan di sini itu bapak. Masa menuduh saya mencari dan memanfaatkan Kei juga Mama Nei untuk memperlancar skripsi. Padahal saya sudah sebaik mungkin untuk membuatnya. Semua yang salah saya perbaiki tapi anda mempersulit semuanya" ucap Lili menyampaikan unek-uneknya.
Aldo hanya bisa mendengus sebal dengan tingkah Lili. Apalagi keduanya yang sama-sama keras kepala tentu saja ini membuat masalah semakin rumit. Sepertinya memang jalan satu-satunya adalah segera menyelesaikan semuanya. Tentu saja dengan tidak perlu berhubungan lagi agar tidak ada perdebatan seperti ini.
"Sudah... Kita damai. Saya tak mau jika nantinya Kei melihat saya berdebat dengan perempuan. Yang ada dia malah menirunya kelak di masa depan" putus Aldo yang langsung berlalu pergi.
Lili yang ditinggal begitu saja masih menganga tak percaya. Pasalnya semudah itu Aldo mengucapkan kata damai padahal dia dan kedua orangtuanya masih merasa sakit hati dengan ucapannya. Kini Lili langsung masuk dalam mobilnya karena malas melihat Aldo yang berwajah menyebalkan itu.
Apalagi selalu mengaitkan semuanya dengan Kei. Yang tak habis Lili pikir, Aldo sama sekali tak meminta maaf padanya. Padahal sudah menyakiti perasaan kedua orangtuanya.