
"Li, aku salut banget sama kepintaranmu buat membujuk pasien itu biar makan. Nggak perlu marah-marah dan pakai kekerasan. Cukup berakting saja sudah lancar jaya" ucap Mega sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah Lili.
"Biasa aja kali, Me. Lagian semua dokter atau perawat juga akan berusaha membujuk pasiennya agar mau makan" ucap Lili mencoba untuk tak sombong dengan apa yang dilakukannya.
"Ini mah luar biasa kali. Eh... Tapi kamu ini sebenarnya sedang hamil atau tidak?" tanya Mega yang langsung mengalihkan pembicaraan setelah mengingat apa yang ingin ia bahas.
Lili hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia sebenarnya tak ingin yang namanya mengumbar tentang kehamilannya ini. Apalagi usia kehamilannya masih muda, pamali kalau mengumbarnya ke oranglain. Namun Mega sudah terlanjur mendengar mengenai berita kehamilannya.
"Sttt... Iya, aku sedang hamil. Jangan kau sebarkan ini pada oranglain. Soalnya nggak baik, pamali kalau kata orang dulu. Setidaknya nanti kalau sudah perutnya kelihatan membesar, barulah ada pengumuman resmi" ucap Lili dengan pelan.
Mega hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia sangat bahagia dengan berita kehamilan Lili ini. Ia juga akan berusaha menjaga temannya saat melaksanakan praktik di rumah sakit.
***
"Jadinya gimana, Li? Apa Pak Aldo sudah bisa dihubungi?" tanya Mega pada temannya itu.
Kini mereka sudah ada di area parkir rumah sakit setelah selesai dari praktik. Sudah setengah jam mereka menunggu di dekat parkiran, namun Aldo belum juga datang. Bukan belum datang, namun memang Aldo sama sekali tak bisa dihubungi.
Mega sudah dijemput oleh sopirnya sehingga sedikit tak enak jika harus meninggalkan Lili. Padahal Lili sudah meminta Mega agar segera pulang, tanpa menunggu dirinya. Namun Mega juga khawatir apabila meninggalkan Lili sendiri.
"Mending kamu ikut sama aku aja, Li. Lagian rumah kita searah lho. Kamu hubungi saja orang rumah yang lain, bilang kalau pulang sama aku" ucap Mega mencoba membujuk temannya itu.
"Aku khawatir kalau kamu diculik lagi. Apalagi kamu lagi hamil kaya gini" lanjutnya berbisik tepat pada telinga Lili.
Lili bingung harus melakukan apa. Pasalnya Aldo saat mengantarnya tadi meminta dia agar menunggunya datang. Ia khawatir kalau Aldo malah menjemputnya ke rumah sakit di saat tidak bisa dihubungi seperti ini.
"15 menit lagi ya. Kalau Aldo nggak datang, aku nebeng kamu" ucap Lili dengan tatapan penuh harap.
Mega menganggukkan kepalanya mengerti. Mega segera saja berjalan kearah mobilnya dan memberitahu sopirnya untuk menunggu. Sedangkan Lili mencoba menghubungi mertuanya untuk membantunya terhubung dengan Aldo.
15 menit berlalu dan Aldo sama sekali belum datang. Bahkan mertuanya juga sudah menghubunginya kalau ia diminta ikut dengan teman saja pulangnya. Pasalnya mereka juga tengah mencari keberadaan Aldo yang sama sekali tak bisa dihubungi.
"Maaf ya, pak. Nungguin saya lama sekali dan harus mengantar ke rumah" ucap Lili yang tak enak hati dengan sopir keluarga Mega.
"Nggak apa-apa, mbak. Lagian ini juga jalannya searah" ucap sopir itu dengan sopan.
Lili memilih diam setelah menganggukkan kepalanya. Ia masih menerka-nerka mengenai suaminya yang tiba-tiba tidak ada kabar. Padahal suaminya itu yang mewajibkan dirinya selalu memberi kabar.
"Makasih ya, Me. Sudah mengantar sampai rumah" ucap Lili setelah mobil memasuki halaman mansion keluarga Aldo.
"Sama-sama. Kalau gitu aku duluan ya. Sampai jumpa besok di rumah sakit" seru Mega sambil melambaikan tangannya kearah Lili.
"Mama pulang cama capa? Papa ndak demput ya? Emang tuh papa ndak ciaga cama itlina cendili" ucap Kei sambil geleng-geleng kepala.
"Iya, tadi mama barengan sama teman. Ayo masuk, Kei pasti juga belum mandi kan?" ucap Lili dengan mengajak Kei segera masuk ke dalam.
Kei hanya bisa cengengesan mendengar apa yang diucapkan oleh Lili itu. Lili segera menggandeng tangan Kei memasuki ruang keluarga. Di sana ada Mama Nei yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Apa Mas Aldo sudah ada kabar, ma?" tanya Lili pada mertuanya itu.
"Belum, nak. Papa baru mencari keluar. Kemungkinan Aldo itu ada di kampus dan ponselnya nggak aktif" ucap Mama Nei yang sedikit terkejut dengan kehadiran menantunya itu.
Lili hanya nenganggukkan kepalanya mengerti. Walaupun Lili sendiri merasa khawatir karena Aldo belum ada kabar. Ia memilih membawa Kei masuk dalam kamarnya untuk membantunya membersihkan diri.
***
Brakk...
"Aldo, apa kamu lupa untuk menjemput istrimu di rumah sakit?" seru seorang pria paruh baya pada anaknya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Pintu ruangan Aldo yang ada di kampus tempatnya bekerja didobrak paksa. Padahal pintu itu sama sekali tak dikunci. Tentu saja Aldo yang berada di dalam ruangan itu menatap kearah seseorang yang mendobrak pintu.
Aldo begitu terkejut dengan kehadiran papanya dan ucapannya itu. Sontak saja Aldo langsung berdiri kemudian mengambil ponselnya yang masih ia colokkan pada charger. Ponselnya memang mati dan ia lupa untuk mengaktifkannya karena sibuk dengan pekerjaannya.
"Astaga... Aku lupa, pa. Seharusnya aku jemput Lili. Bagaimana ini? Aduh... Kok hpnya lemot sekali sih ini nyalanya" ucap Aldo yang raut wajahnya begitu panik.
Ternyata seseorang yang mendobrak pintu ruangannya itu adalah Papa Tito. Pria paruh baya itu tampak biasa saja menanggapi kepanikan dari anaknya. Aldo yang melihat jam yang ada di tangannya pun membuatnya bertambah panik.
"Bisa-bisanya lupa sama jemput istri sendiri. Kalau istrinya dibawa lari sama oranglain, papa syukurin" ucap Papa Tito.
"Jangan gitu dong, pa. Aldo tuh saking sibuknya menyelesaikan bahan untuk akreditasi prodi jadi kelupaan" ucap Aldo memberi alasan.
"Alasan saja kamu itu, Al. Istrimu sudah pulang diantar sama temannya. Hubungi Lili, dia sangat khawatir karena kamu nggak bisa dihubungi. Jangan sampai Lili stress karena tingkahmu ini ya, Al. Ingat dia sedang hamil" ucap Papa Tito penuh peringatan.
Aldo tak menggubris ucapan dari papanya itu. Ia terus saja menghubungi Lili namun tak diangkat. Tak putus asa, Aldo langsung menghubungi mamanya untuk mengetahui kondisi mamanya. Beruntung mamanya mengangkat telfonnya walaupun harus mendengar omelannya.
"Lili sudah pulang ke rumah dengan selamat, kata mama. Papa pulanglah dulu sana. Bilang sama Lili kalau aku baik-baik saja dan ini harus lembur. Deadlinenya besok siang dan ini semua dosen pada lembur" ucap Aldo.
Papa Tito hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Tanpa pamit, Papa Tito langsung saja pergi dari ruangan Aldo untuk pulang ke rumah. Papa Tito akan membeli makanan dulu sebelum pulang. Ia akan mengadakan pesta kecil-kecilan tanpa mengajak Aldo yang sok sibuk.