
"Wah... Kau sangat beruntung mendapatkan dosen pembimbing seperti Pak Aldo itu. Aku baru ingat sekarang dengan nama dokter yang ku ceritakan tadi, beruntung Dokter Yuni mengenalinya. Pak Aldo itu sangat cerdas dalam ilmu kedokteran, aku saja mau kalau harus diajarkan oleh beliau" ucap Dokter Fadly dengan antusias.
Lili hanya meringis tak percaya mendengar pujian yang dilontarkan oleh Dokter Fadly. Lili akui kalau Aldo itu cerdas dalam ilmu kesehatan terutama tentang kedokteran. Tak mungkin juga kalau tak cerdas dan pintar bisa mendapatkan posisi salah satu dosen terbaik di kampusnya. Apalagi beberapa kali Aldo diusulkan agar menjabat jabatan dekan atau kaprodi, namun laki-laki itu menolaknya.
Namun untuk belajar menyeluruh atau diajar oleh Aldo itu menurut Lili tidak seberuntung itu. Mendapatkan dosen seperti Aldo itu seperti mendapatkan tantangan. Ia harus sabar menghadapi Aldo yang galak dan seperti tak manusiawi dalam bimbingannya.
"Beruntung ya? Mungkin" ucap Lili sambil tersenyum miris.
Dokter Fadly hanya menganggukkan kepalanya sebagai respons dari ucapan Lili. Ketiganya pun memilih keluar dari kantin setelah menyelesaikan kegiatan makannya. Ternyata saat mereka berjalan menuju ruangannya, tiba-tiba adalah satu perawat yang memanggil Dokter Yuni.
"Dokter Yuni" panggil perawat itu sambil berlari tergopoh-gopoh menuju ketiganya.
Ketiganya pun langsung menghentikan jalannya. Mereka mengalihkan pandangannya kearah perawat yang kini sedang ngos-ngosan karena berlari dengan tergesa-gesa. Apalagi apa yang ia ingin sampaikan ini adalah berita penting.
"Kenapa, Nin? Kok lari-lari gitu" tanya Dokter Yuni pada perawat yang bernama Nina.
"Itu, dok. Kita disuruh untuk berkumpul di ruang rapat. Katanya pemilik rumah sakit datang dan meminta laporan dari beberapa kepala masing-masing divisi" jawab Nina setelah berhasil menetralkan nafasnya.
Dokter Yuni tak tampak terkejut atau khawatir sama sekali. Ia sudah menduga kalau kedatangan Aldo ke rumah sakit ini tentunya tak jauh-jauh dari memeriksa segala manajemen yang dijalankan oleh intansi ini. Beruntung ia tadi sudah melihat kedatangan Aldo sehingga dalam otaknya telah mengingat dimana meletakkan file laporannya.
Dokter Yuni yang juga sebagai penanggungjawab salah satu divisi khusus pun harus menyiapkan semua laporannya. Laporan yang wajib ia selesaikan setiap bulannya sehingga kalau sekarang tiba-tiba diminta ya harus siap.
"Biar saya ke ruangan dulu, Nin. Saya mau ambil laporan bulan ini" ucap Dokter Yuni.
"Eh... Dok, tunggu dulu. Bukan hanya bulan ini yang diminta. Tapi 3 bulan kemarinnya juga. Semua divisi pada kelimpungan karena berpikir tak perlu lagi membuat laporan saat pemilik rumah sakit jarang berkunjung" ucap Nina dengan sedikit panik.
Pasalnya yang ia dengar adalah pemilik rumah sakit ini sangat kejam dan tegas mengenai hal-hal mengenai laporan. Tak ada toleransi bagi siapapun yang menyalahgunakan kekuasaannya demi menghindar dari laporan yang ada.
"Apa sih? Ya kan kalau laporan itu memang sudah hal wajib dan biasa dilakukan untuk setiap penanggungjawab. Kalau memang tak mengerjakan laporan ya itu sudah konsekuensinya masing-masing. Pemilik rumah sakit memberikan hak pekerjanya, namun para pekerja cuma buat laporan aja nggak dilaksanakan. Berarti selama ini pekerjanya pada makan gaji buta?" ucap Dokter Yuni yang santai dengan apa yang diberitahukan oleh Nina.
Nina yang melihat ketenangan dari raut wajah Dokter Yuni pun langsung menyimpulkan bahwa kepala penanggungjawab yang satu ini sudah membuat laporannya. Setidaknya, ia dan beberapa teman sejawatnya yang berada di bawah beliau merasa beruntung memiliki penanggungjawab seperti Dokter Yuni.
Namun entahlah untuk yang lainnya karena pasti akan ada konsekuensinya atas pekerjaan mereka. Apalagi tadi ia sempat mendengar kalau mereka panik dan takut dengan adanya rapat kali ini. Tentu saja itu tak jauh-jauh dari mereka yang tak membuat laporan dengan benar.
Mereka segera saja menuju ruangan Dokter Yuni. Tentu saja Lili takkan datang atau ikut acara rapat itu. Pasalnya ia bukanlah salah satu dari karyawan di sini. Ia memutuskan untuk pulang karena beberapa data sudah ia dapatkan dari Dokter Yuni.
Dari percakapan Dokter Yuni dan perawat tadi, Lili dapat menyimpulkan kalau sedang bekerja itu harus rajin juga sungguh-sungguh. Jalankan pekerjaan sesuai prosedurnya walaupun tak diawasi atau pemimpinnya sedang tak ada di tempat. Pasti kelak pemimpin itu juga akan mengevaluasi kinerja karyawannya.
***
"Muka-mukanya pada tegang amat ya. Kayanya Pak Aldo itu malah kaya malaikat kematian aja deh" gumam Lili sambil geleng-geleng kepala.
Lili sedang berjalan di lorong rumah sakit sendirian setelah berpamitan pada Dokter Yuni dan Dokter Fadly untuk pulang. Lili melihat wajah-wajah tegang tergambar dari hampir semua perawat dan orang-orang berseragam berbeda.
Lili yakin kalau ini ada hubungannya dengan Aldo yang meminta laporan itu sesuai apa yang diperbincangkan oleh Dokter Yuni dan Nina. Lili hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kepanikan mereka. Bahkan ada juga yang berkerumun untuk mendiskusikan langkah yang seharusnya diambil.
"Amira..." gumamnya pelan sambil menutup mulutnya tiba-tiba.
Ternyata saat Lili sedang memandang area taman, tiba-tiba saja ia melihat bayangan Amira. Lili langsung menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahkan terlihat Amira yang sedang berlarian mengejar kupu-kupu dengan memakai baju putih.
Lili yang penasaran pun segera saja berjalan mendekat kearah taman itu. Lili seakan tak mengingat kalau Amira sudah meninggal sehingga tetap terus mendekat kearah taman. Beberapa orang yang melihat Lili yang berpandangan linglung pun langsung menghentikan kegiatannya.
"Amira" serunya sambil melambaikan tangannya.
Namun Amira seakan tak mendengar seruan itu. Lili yang melihat hal itu tentunya kesal bukan main. Bahkan Lili langsung mempercepat langkahnya membuat orang-orang yang ada di sekitar sana kebingungan. Pasalnya arah pandangan Lili yang memandang tempat duduk taman namun memanggil seseorang itu membuatnya terlihat aneh.
Di sana tidak ada siapapun bahkan kursinya juga kosong. Langsung saja mereka malah bergidik ngeri dan mengelus lembut tengkuk kepalanya. Mereka takut kalau Lili ini merupakan seseorang yang bisa melihat hal-hal berbau mistis.
"Mbak, mau ngapain ke sana? Di sana tidak ada siapa-siapa lho. Mending sini aja, main sama kita" seru salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
Pasalnya Lili menuju kearah kursi taman yang berada di dekat pohon besar. Tentu saja semua yang ada di sana langsung mengaitkan hal ini dengan aroma mistis. Bahkan kini Lili sama sekali tak menggubris seruan dari ibu-ibu itu. Hingga beberapa saat Lili seperti dikuasai oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Puk...