
Sudah satu minggu Lili menjadi seorang istri dari Aldo. Tingkah suaminya yang manja itu sangat kelihatan. Bahkan sering dibuat uring-uringan kalau Kei menempel terus pada Lili. Namun Lili selalu berusaha menenangkan suaminya agar tak iri dengan Kei yang memang sedari kecil tak merasakan kasih sayang seorang ibu.
Beruntung juga Lili merasakan kasih sayang dari seorang Aldo yang kalau di luar rumah sangat cuek. Sedangkan ketika berada di rumah, Aldo selalu meluapkan kasih sayangnya kepada sang istri. Apapun yang bisa dibantu, pasti Aldo akan membantu hingga Lili tak perlu kecapekan.
"Sayang, udah nggak usah masak. Biar mama sama yang lainnya aja yang masak. Kamu mah cukup duduk saja di sini" ucap Aldo melarang istrinya memasak.
"Nggak enak dong, mas. Masa iya mama dan lainnya sibuk tapi aku cuma duduk" ucap Lili geleng-geleng kepala mendengar perintah suaminya.
"Ya dienakin aja dong. Pokoknya di sini saja. Lagian hari ini kamu harus ke rumah sakit kan buat lihat kondisi tempat praktikmu? Aku nggak mau kamu sakit lho kalau capek-capek. Mending main saja sama Kei" ucap Aldo.
Akhirnya Lili hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah. Lili mengajak Kei bermain setelah memandikan bocah cilik itu. Sedangkan Aldo bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Aldo memang masih ingin bekerja sebagai dosen di kampus itu walaupun punya rumah sakit yang butuh dikelolanya.
***
"Hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku" ucap Aldo memberi pesan pada istrinya setelah mengantar Lili ke sebuah rumah sakit.
Di sana sudah ada beberapa mahasiswa lainnya yang juga telah datang. Mereka akan bersama-sama melakukan praktik dengan pengawasan dokter ahli selama beberapa bulan ke depan. Aldo segera saja melajukan mobilnya setelah melihat anggukan dari sang istri.
Kei sendiri hari ini tetap masuk sekolah dengan ditunggu oleh Mama Ningrum. Kedua nenek dari Kei itu berbagi tugas menjaga Kei di sekolah di saat Lili sedang tak bisa menemani anaknya. Tentu saja Kei sekarang sudah bisa ditinggal oleh Lili karena ada yang lainnya menemani.
"Wah... Pengantin baru" ucap Mega, salah satu mahasiswa yang juga praktik di sana.
"Iya, masih anget-angetnya. Eh... Tapi enak nggak sih suaminya itu dosen sendiri? Mana Pak Aldo itu kalau ngajar seram dan pelit nilai lagi. Kalau di rumah, pelit uang belanja nggak?" tanya Rani, ysng juga mahasiswa dan teman sekampus Lili.
"Enggaklah. Kalau uang belanja pelit, berarti suami juga harus makan irit dong. Eh... Kenapa jadi bahas pernikahan? Ayo kita masuk. Dah ditungguin dokter senior lho, nggam enak kalau terlambat" ucap Lili mengajak semuanya segera masuk area rumah sakit.
Semua mahasiswa dan dosen di kampus khususnya fakultas kedokteran memang sudah mengetahui kalau Aldo menikah dengan Lili. Walaupun tak semua diundang, namun informasi seperti itu sangat cepat beredar. Apalagi foto-foto yang dikirim pada grup mahasiswa dan dosen. Mereka turut berbahagia, walaupun ada yang iri dan merasa patah hati.
***
"Baiklah karena kalian semua sudah datang, kita akan pembagian tugas untuk jaga. Setiap perawatan atau divisi, akan ada empat orang yang jaga. Ini ada 12 mahasiswa atau calon dokter, berarti kita akan bagi ke tiga divisi. Divisi rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Masing-masing empat mahasiswa. Dua shift pagi dan sebagiannya malam. Ganti-gantian" ucap dokter pembimbing itu.
Mereka sudah dibagi dan ditunjuk dalam masing-masing divisi. Segera saja mereka bersama-sama menuju ruangan masing-masing. Untuk hari pertama, hanya perkenalan dan arahan saja. Sedangkan mereka akan mulai praktik lusa karena memang dokter dari masing-masing divisi mulai datang pada hari itu.
"Baru pembekalan, perkenalan, dan aturan kerja saja sudah lelah. Gimana ini kalau dapat shift malam? Pasti kerjanya sampai jam 10-an. Mana nggak ada yang jemput lagi" ucap Dela yang malah menggerutu.
"Resiko jadi dokter ya gitu. Harus siap siaga demi nyawa" ucap Mega memberitahu.
"Semoga aja nggak ada yang sakit, biar kita sedikit santai" ucap Dela menginginkan jika semua orang sehat.
"Amin. Walaupun semua orang sehat dan nggak ada yang berobat ke rumah sakit, kita masih bertugas cek rekam medis pasien lho. Jangan dipikir bisa leha-leha" ucap Lili.
Dela hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Benar juga apa yang dikatakan oleh Lili itu. Menjadi dokter tak semudah memeriksa asal. Ada nyawa dan pekerjaan lainnya yang tentu akan memudahkan dalam mengerjakan sesuatu. Apalagi jika ada kondisi darurat yang memang sebagai dokter harus siap siaga.
"Guys... Aku pulang dulu ya. Sampai ketemu esok lusa. Jangan lupa pakaian dan segala macamnya. Besok aku sama Dela yang shift malam kan? Kalian siang. Semangat..." seru Lili berpamitan.
"Hati-hati" seru Mega, Dela, dan Rani yang memang keluar bersamaan dengan Lili karena berada dalam sati divisi yang sama.
Lili segera masuk dalam mobil yang menjemputnya. Ini adalah mobil yang diberikan Aldo pada istrinya untuk akomodasi pulang pergi. Bahkan Lili juga disediakan sopir pribadi. Kecuali jika nanti Aldo bisa mengantar dan menjemputnya, tentu takkan sopir yang datang.
***
Ternyata Mama Ningrum sedang berada di mansion Aldo setelah menemani Kei di sekolah. Niat Mama Ningrum singgah sebentar setelah mengantar Kei pulang itu untuk bertemu dengan Lili. Sudah beberapa hari keduanya tak mengobrol bersama, hal itu membuat Mama Ningrum sedikit rindu
"Anak mama yang manja ini ternyata baru pulang. Bersih-bersih dulu sana. Habis dari rumah sakit kan?" tanya Mama Ningrum.
"Iya, ma. Ini mau bersih-bersih dulu. Pelukannya nanti ya" ucap Lili yang langsung berlari menuju kamarnya.
Lili segera membersihkan diri kemudian kembali lagi ke ruang tamu. Ternyata di sana juga ada Kei yang tengah makan biskuit hingga pipinya belepotan. Lili terkekeh pelan melihat wajah cemong dan lucu anaknya itu. Lili langsung memeluk mamanya dan Mama Nei, kemudian mencium pipi anaknya.
"Anak mama yang tampan ini tadi kemana? Kok pas mama pulang, nggak ada" tanya Lili menanyakan keberadaan anaknya.
"Kei cibuk di dapul cali matanan. Adana cuma bituit. Beliin Kei es klim, mama" ucap Kei sambil menunjukkan biskuit yang ada di tangannya itu.
"Ternyata cari makanan itu kesibukan ya. Baiklah, nanti kita beli es krim dan buah ya" ucap Lili sambil mengelus rambut anaknya itu.
Melihat interaksi keduanya itu membuat Mama Nei dan Mama Ningrum begitu bahagia. Di usia tua keduanya, mereka melihat anak dan cucunya sangat bahagia seperti tak ada beban.
***
"Bagaimana dengan kegiatan hari ini? Apa ada yang gangguin kamu saat di rumah sakit?" tanya Aldo.
Kini keduanya berada di kamar berdua. Sedangkan Kei sendiri tengah diungsikan di rumah Mama Ningrum. Tadi Mama Ningrum menjanjikannya pergi ke pasar malam sehingga Kei yang tertarik langsung ikut. Bahkan Kei juga memintanya membawakan seragam untuk sekolahnya besok.
Besok adalah jadwal bagi Mama Nei yang akan menjaga Kei di sekolah. Sehingga Mama Ningrum akan mengantarkan Kei terlebih dahulu ke rumah selanjutnya bocah kecil itu bersama Mama Nei. Agak ribet sebenarnya, namun ini dilakukan Mama Ningrum agar Lili dan Aldo mempunyai waktu berduaan.
"Ya belum gimana-gimana. Kan baru juga pembekalan. Belum kenal sama yang senior-senior karena masih pada berangkat. Lusa aku dapat jadwal shift malam. Mungkin jam 10 atau 11 baru pulang" ucap Lili menceritakan semua yang dialaminya hari ini.
"Tak apa. Nanti biar aku yang jemput. Cukup nikmati saja prosesnya. Lagi pula kamu akan menemukan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan pengalaman kelak kalau sudah menjadi dokter. Yang penting jangan sampai tergoda sama dokter atau petugas muda-muda ya. Aku nggak rela" ucap Aldo dengan nada posesifnya.
Lili hanya terkekeh pelan mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Ia tak menyangka bisa sebahagia ini dicintai oleh Aldo. Walaupun sedikit posesif, manja, dan suka merengek namun dia sangat menyukai sikap Aldo ini.
"Ya lihat saja nanti. Kan kita nggak tahu kalau tiba-tiba tergoda" ucap Lili dengan jahilnya malah menggoda Aldo.
"Aku ikat tangan dan kaki kamu pakai rantai. Jangan lupa ikatannya menyatu denganku. Biar seluruh isi dunia tahu kalau kamu punya aku" ucap Aldo dengan tegas.
"Percaya... Percaya... Lili yang cantik ini memang hanya punya Bapak Aldo terhormat. Eh salah... Punyanya si kecil Kei yang tampan" ucap Lili.
Aldo mendengus kesal saat istrinya sudah menyebut nama Kei. Saingan terbesarnya untuk mendapatkan perhatian dari Lili adalah Kei. Bahkan bocah kecil itu selalu berhasil membuatnya gagal berduaan dengan istrinya.
"Baiklah, karena Kei malam ini tak berada di rumah berarti kamu adalah milik seorang Aldo. Hanya Aldo, bukan Kei menyebalkan itu. Jadi saatnya kita menikmati moment ini dengan memulai malam pertama kita yang tertunda, sayang" ucap Aldo dengan berbisik pada Lili.
Sontak saja Lili merasa merinding dengan ucapan yang dibisikkan oleh Aldo itu. Apalagi suaranya yang serak basah dan hembusan nafas Aldo yang mengenai tengkuk belakang telinganya. Lili merasa kalau malam ini takkan bisa tidur nyenyak karena sudah satu minggu tapi Aldo belum mendapatkan haknya.
"Jadi, siapkah kamu menjadi istriku yang seutuhnya?" tanyanya dengan tatapan yang sulit diperhatikan.
Sejenak Lili menatap Aldo yang juga memandangnya penuh arti. Lili menganggukkan kepalanya yakin saat tatapan mata Aldo itu menyihirnya. Aldo tersenyum melihat anggukan kepala dari istrinya itu.
"Jangan menyesal sudah menyerahkan semuanya padaku. Akan ku buat kau melayang dan merasakan surga dunia yang belum pernah kau rasakan" ucap Aldo dengan nada suara seksinya.
Lili hanya terdiam, sedangkan Aldo mulai bermain-main dengan tubuhnya. Pikirannya kosong dan seakan terhipnotis dengan apa yang dilakukan oleh Aldo pada malam yang cerah namun panas ini. Bahkan Lili hanya memejamkan mata dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Aldo.