Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Penyesalan


Arlin masih tak menyangka kalau ketiga orang itu dengan mudahnya bisa lolos. Bahkan Melinda yang ada didalam mobil itu begitu nekat dengan ingin menabrak semua orang yang ada disana. Tentunya jika tertangkap, sudah pasti akan menjadi bulan-bulanan orang banyak. Apalagi kemarin massa itu sudah bersikap brutal untuk memberikan pelajaran kepada Papa Madin dan Mama Irene.


Arlin dan Aldo sangat yakin kalau yang ada didalam mobil itu adalah Melinda, pasalnya tadi mereka sempat melihat sekilas dari bentuk wajahnya. Mereka tak sengaja melihat Melinda tengah bersolek didalam mobil dengan masker yang sudah terlepas. Walaupun hanya sekilas, namun Arlin tentu tahu kebiasaan mereka yang mobilnya tak boleh dinaiki oleh oranglain.


"Memang kamu sudah tahu dalangnya?" tanya Arlin pada suaminya.


"Sudah. Sekarang dalang dari sandiwara ini sudah ditangkap malah. Dia sudah masuk ke penjara" ucap Aldo sambil terkekeh.


Arlin sungguh penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Aldo. Pasalnya pengacaranya belum memberitahu mereka namun Aldo sudah mengetahuinya sendiri. Namun biarlah, Arlin tak ingin pusing memikirkan itu. Ia hanya bersyukur saja kalau memang dalang dari ide sandiwara ini sudan tertangkap.


Mobil yang dikendarai oleh Aldo sudah berhenti didepan mansion. Keluarganya juga sudah pulang ke mansion setelah melihat pemberitaan yang sedang ramai diperbincangkan itu. Tentunya mereka dari perusahaan langsung saja pulang ke mansion untuk menghindari nantinya akan ada massa yang datang ke kantor dan mansion.


"Mama, papa, Kei..." panggil Arlin dengan suara keras.


"Kami di ruang keluarga, nak" seru Mama Nei.


Aldo yang mendorong kursi roda istrinya itu hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar teriakan dari Arlin dan Mama Nei. Mereka pun segera menyusul ke ruang keluarga dengan senyum bahagia. Kei pun langsung menyambut kedua orangtuanya setelah melihat kehadiran mereka.


"Ugh... Anak mama ini. Mama kangen banget lho sama Kei" ucap Arlin sambil terkekeh.


"Cama. Kei uga tangen tama mama. Balu bebelapa jam ndak temu caja cudah wuwat atu lindu cetengah ati" ucap Kei mendramatisir.


Hahahaha...


Mendengar ucapan lebay dari Kei itu pun malah membuat semua orang tertawa. Mereka begitu bahagia karena Kei sudah mau bicara panjang lebar kepada orangtuanya. Bahkan kini sudah mau menyapa duluan walaupun raut wajah kedua orangtuanya terlihat lelah dan sediki memerah karena amarah. Biasanya kalau sudah menampakkan wajah seperti itu langsung saja Kei takkan berani menunjukkan batang hidungnya.


Mereka pun segera bergabung bersama dengan orangtua Aldo yang tersenyum lebar. Arlin langsung saja memeluk Mama Nei dengan manja seakan ingin merasakan pelukan seorang ibu. Begitu juga dengan Kei yang kini sudah menyempilkan badannya ditengah-tengah pelukan dua wanita itu.


"Enak ya Kei. Punya badan kecil, bisa nyempil biar dipeluk" sindir Aldo.


"Iya dong. Toba papa alik agi adi tecil, pati cenang cekali bica dieluk tayak dini" ucap Kei dengan nada sombongnya.


Papa Tito yang mendengar perdebatan keduanya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tak menyangka jika keduanya malah bertingkah aneh seperti ini. Padahal dulunya mereka tak sedekat itu untuk hubungan anak dan ayah. Namun kini mereka merasa beruntung karena dengan perubahan Arlin itu membuat Aldo juga mengubah sifatnya.


***


"Pak, lepaskan saya. Saya tidak bersalah. Atas dasar apa anda ini menangkap saya?" teriak seorang laki-laki paruh baya didalam sel penjara.


Tadi seorang laki-laki itu tiba-tiba saja ditangkap di rumahnya saat ia tengah bersantai bersama istrinya di ruang keluarga. Bahkan pihak yang berwajib langsung saja menangkapnya tanpa menjelaskan apapun permasalahannya.


Dia tadi sudah memberontak dan istrinya berteriak meminta tolong namun tak ada yang menolonya. Pasalnya kebanyakan tetangga rumah yang ada di area tempat tinggal itu masih bekerja. Kalaupun ada orang, mereka takkan berani mendekat karena banyak pihak kepolisian disana.


"Diam kau sutradara dramanya Pak Madin dan Bu Irene. Walaupun anda tidak terlibat langsung, namun kau yang memberikan ide itu" sentak salah satu polisi yang geram akibat teriakan dari laki-kaki itu.


Sontak saja laki-laki paruh baya itu langsung terdiam dan memelototkan matanya. Ia tak menyangka, hanya sebagai pemberi ide saja bisa masuk dalam penjara seperti ini. Kini wajahnya pucat pasi karena mungkin sebentar lagi dia akan berada di penjara cukup lama. Apalagi ia pernah melihat di TV kalau sebagai dalang suatu kejadian itu bisa dipenjara 15 tahun.


Laki-laki yang kini tertunduk lesu itu adalah Pak Cipto. Dia adalah orang yang selalu membantu dan bekerjasama dengan Papa Madin untuk menguras habis uang perusahaan. Setelah kejadian waktu itu ia yang dipukuli hingga babak belur oleh Papa Tito, ia segera menemui Papa Madin dan mengutarakan idenya.


Baru beberapa hari, ia sudah mendapatkan uang dari sandiwara itu yang langsung ditransfer oleh Papa Madin. Namun baru sehari ia menikmatinya, tiba-tiba ia sudah ditangkap polisi. Bahkan beberapa polisi menggeledah ponsel dan mencetak rekening koran milik Pak Cipto. Pak Cipto kini hanya bisa menyesali perbuatannya.


"Astaga... Gimana ini nasib istri dan anak-anakku kalau aku ada disini. Ini semua gara-gara uang yang ku berikan berasal dari pekerjaan yang tidak baik sehingga langsung hilang, tanpa bisa menikmatinya" gumam Pak Cipto sambil mengacak rambutnya frustasi.


Pak Cipto kini hanya berharap kalau ada yang bisa menyelamatkan dan mengeluarkannya dari penjara. Ia tak mungkin bergantung pada Papa Madin karena pasti laki-laki paruh baya itu sedang menjadi buronan pihak yang berwajib. Kini Pak Cipto terduduk lesu di ruangan sempit dan lantai yang dingin ini.


Bahkan pandangannya menuju kearah semua penghuni sel ini yang kelihatannya menikmati hidup disini. Membayangkan dirinya yang akan dipenjara lama itu sudah membuatnya bergidik ngeri sendiri. Ia kini tengah mencari cara agar bisa bebas dari sini namun yang tak beresiko.


"Apa aku minta maaf saja sama Bu Arlin? Siapa tahu dia akan memaafkanku" gumamnya dengan serius.


"Tapi gimana caranya aku menemui dia?" lanjutnya.


Akan sangat susah bagi dirinya untuk nanti akan menemui Arlin atau Aldo kalau disini. Kemungkinan ia akan meminta istrinya untuk bertandang ke rumah Aldo dan Arlin agar mau memaafkan juga mencabut laporannya. Tanpa ia tahu, Arlin tidak pernah melaporkan Pak Cipto tentang kasus dalang ini melainkan Aldo dan Pak Lion yang mengurus semua ini.