
Lili terus saja diam saat dalam perjalanan menuju rumahnya. Sepertinya gadis itu ngambek pada Aldo yang mengatainya nggak pernah mau mengaku salah. Sedari tadi, Aldo melirik kearah Lili yang memilih melihat kearah luar.
"Kamu ngambek?" tanya Aldo dengan hati-hati.
"Nggak" ucap Lili dengan singkat tanpa mengalihkan pandangannya kearah Aldo.
"Huft... Pasti ngambek nih. Kalau perempuan bilang tidak itu artinya iya" gumam Aldo dengam sedikit melirik kearah Lili.
"Lagi bulanan ya?" tanya Aldo lagi.
Hmm...
Deheman Lili ini membuat Aldo tahu kalau calon istrinya sedang dalam keadaan sensitif. Ia tak boleh yang namanya asal ngomong saja karena bisa saja nanti Lili akan berubah menjadi macan. Aldo memilih diam saja sampai mobilnya berhenti di depan rumah Lili.
"Segera masuk dan membersihkan diri. Jangan lupa makan lalu istirahat" ucap Aldo memberi pesan pada Lili sebelum gadis itu keluar dari mobilnya.
"Iya. Mau masuk dulu?" tawar Lili pada Aldo.
"Tidak. Kita akan bertemu dengan orangtuamu nanti saat lamaran tiba" ucap Aldo sambil tersenyum.
Lili menganggukkan kepalanya kemudian turun dari mobil milik Aldo. Sebelum Lili masuk ke rumah, Aldo memanggilnya untuk mendekat kearahnya.
"Apa lagi?" tanya Lili yang sedang dalam keadaan yang baik-baik saja.
Cup...
Saat Lili mendekatkan wajahnya kearah jendela kaca mobil yang dibuka oleh Aldo, tiba-tiba saja laki-laki itu memberikan kecupan singkat pada gadis itu. Sontak saja Lili hanya bisa membungkukkan kepalanya dan tubuhnya mematung. Lili sedikit aneh karena sikap Aldo yang terkesan romantis ini. Padahal setiap bertemu, hanya perdebatan saja yang terlihat.
"Main nyosor aja sih, pak. Nanti kalau mama dan papa lihat, langsung dinikahin sekarang juga lho" gerutu Lili setelah tersadar dari rasa terkejutnya.
"Wah... Kalau gitu, sini tak sosor lagi. Biar cepet dinikahin" ucap Aldo membuat Lili memelototkan matanya.
Brummm...
Aldo langsung saja melajukan mobilnya setelah Lili berkacak pinggang dan posisinya terkesan aman. Ia harus segera pergi sebelum Lili mengomelinya dan menampar pipinya. Sedangkan Lili yang melihat kepergian Aldo itu hanya bisa mendengus kesal.
"Dasar bebek. Main nyosor mulu. Jangan-jangan sama cewek lain juga gitu lagi" gumam Lili yang langsung sebal saat membayangkannya.
Lili pun segera saja masuk dalam rumahnya. Kondisi rumah sangat sepi karena kedua orangtuanya sedang melakukan test food di sebuah catering. Bahkan acara lamaran besok akan mengundang beberapa tetangga dan saudara dekat. Sehingga makanan dan dekorasi harus sempurna.
***
"Riko, apa ada karyawan baru interview langsung disuruh kerja hari ini?" tanya Aldo pada kepala HRD di rumah sakit miliknya.
Saat ini Aldo langsung pergi ke rumah sakit untuk memeriksa sesuatu. Apalagi waktu itu sedang ada PHK massal akibat laporan yang tak sesuai. Aldo juga membuka lowongan pekerjaan namun dengan sistem seleksi yang ketat.
"Iya, pak. Tadi memang ada wawancara dengan beberapa calon karyawan dan mereka langsung bekerja. Saya melihat kalau mereka sudah cocok langsung bekerja. Apalagi yang namanya Ageng, pak. Walaupun belum bekerja, ia sudah sigap membantu pekerja di sini yang kelihatan kuwalahan" ucap Riko memberi penjelasan.
"Memangnya orang-orang cleaning service pada kuwalahan karena apa? Bukannya jumlah sudah banyak" tanya Aldo.
"Beberapa ada yang ikut andil dalam masalah waktu itu, pak. Makanya kami melakukan perombakan total atas persetujuan Pak Tito. Kami sudah menghubungi anda namun sama sekali tak direspons. Akhirnya kami menghubungi Pak Tito dan mendapatkan persetujuan" ucap Riko menjelaskan.
Aldo menepuk dahinya pelan karena terlalu abai dengan masalah rumah sakitnya itu. Setelah kejadian itu, memang Aldo jarang lagi mendatangi rumah sakit. Apalagi ia sudah menyerahkan tugas itu pada orang kepercayaannya di rumah sakit. Ia juga jarang memegang ponsel khusus untuk pekerjaannya di rumah sakit.
"Jadi papa saya sudah menyetujuinya?" tanya Aldo.
"Sudah, pak. Ada daftar namanya juga yang telah kami serahkan pada Pak Tito. Kalau penggantinya, masih kami rekap karena ada beberapa orang yang masih dipertimbangkan" ucap Riko.
Aldo menganggukkan kepalanya mengerti. Ia yakin kalau Riko bisa mengatasi masalah ini dan menentukan yang terbaik untuk rumah sakitnya. Apalagi Riko dulu adalah seseorang yang ia tunjuk secara langsung. Setelah selesai mendengar penjelasan Riko, Aldo memeriksa daftar karyawan yang baru saja masuk.
"Ageng masih di sini?" tanya Aldo.
"Sepertinya masih, pak. Terakhir saya bertemu tadi, dia sedang istirahat di taman" ucap Riko.
Aldo menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari ruangan Riko. Ia akan menemui Ageng secara langsung untuk memastikan kenyamanan laki-laki itu. Apalagi pekerjaan ini, ia sendiri yang merekomendasikannya.
Ageng yang tengah menyapu lantai di dekat pintu masuk pun langsung mengalihkan pandangannya. Ageng tersenyum dan sedikit menundukkan kepala saat melihat adanya Aldo di sana. Aldo mendekat kearah Ageng kemudian memintanya mengikuti dirinya.
"Ada apa, pak? Ini masih jam kerja saya. Nanti saya bisa dimarahi atau lebih parahnya dipecat kalau pergi seenaknya" ucap Ageng dengan sedikit takut.
"Nggak ada yang berani marahi atau pecat kamu. Ini kan rumah sakit saya" ucap Aldo yang kini langsung menarik tangan Ageng.
Ageng hanya pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh Aldo. Aldo mengajak Ageng menuju angkringan yang ada di depan rumah sakit. Banyak orang yang melihat keduanya dengan aneh, apalagi Ageng masih membawa sapu.
"Kamu ngapain bawa sapu kaya gini?" tanya Aldo yang baru sadar jika Ageng masih membawa sapu rumah sakit.
"Saya nggak sempat naruh ini sapu, pak. Kalau taruh sembarangan, bisa-bisa nanti malah hilang. Kan saya jadi bingung gantinya kalau sampai hilang" ucap Ageng dengan polosnya.
Aldo hanya bisa menepuk dahinya pelan melihat kepolosan dari Ageng. Akhirnya Aldo membiarkan saja Ageng membawa sapu rumah sakit itu. Setelah sampai di angkringan, keduanya langsung duduk kemudian Aldo memilih beberapa makanan.
"Kamu nyaman tidak? Bekerja di rumah sakit ini" tanya Aldo yang kemudian juga mengambilkan makanan untuk Ageng.
"Nyaman, pak. Orang-orangnya baik dan mau saling membantu. Bahkan ini tadi juga Ageng diajarin biar kerjanya nggak terlalu lelah" ucap Ageng.
"Baguslah jika kau nyaman bekerja di sini. Saya ingatkan sekali lagi jika kau bekerja di rumah sakit ini. Jangan terlalu polos dengan asal membantu orang. Apalagi kalau membantunya dalam hal kejahatan. Kamu akan tahu akibatnya" ucap Aldo memberi peringatan.
"Contohnya seperti apa, pak?" tanya Ageng.
"Contohnya kamu disuruh memalsukan tandatangan atau memberikan makanan dari orang asing untuk orang-orang di sini. Jadi berhati-hatilah" ucap Aldo.
Ageng menganggukkan kepalanya mengerti. Ageng akan berusaha semaksimal mungkin untuk jujur dan takkan berbuat jahat. Kalau ada orang yang ingin memanfaatkan kepolosannya, ia akan bertanya terlebih dahulu pada Aldo yang lebih paham tentang hal seperti ini.
***
Persiapan lamaran sudah usai dilakukan. Hari esok, mereka akan melaksanakan lamaran. Bahkan rumah keluarga Lili sudah dipasang tenda juga bunga-bunga segar. Terlihat begitu ramai karena acara akan diadakan di halaman rumah.
"Wah... Ini baru dipasang setengahnya saja sudah bagus sekali. Apalagi nanti malam bunga-bunganya juga akan dipasang lengkap" ucap Lili sambil menganggukkan kepalanya puas.
"Iya dong. Gimana pilihan mama? Sesuai kan sama keinginan dan selera kamu?" tanya Mama Ningrum pada anaknya yang ada di sampingnya itu.
"Iya, ma. Ini bagus sekali. Kok bisa sih dalam waktu 2 harian dapat orang yang mau menerima dekorasi gini? Biasanya kan harus booking jauh-jauh hari" ucap Lili.
"Mama gitu lho. Ini harus bayar dua kali lipatnya biar mereka mau. Mama sih bodo amat, mau mahal atau enggak yang penting semua terlaksana dengan baik" ucap Mama Ningrum dengan santai.
Lili hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar apa yang diucapkan oleh mamanya itu. Ia yakin kalau papanya sudah mengeluarkan budget lebih banyak hanya demi keinginan sang mama. Sebenarnya ia ingin kalau acaranya sederhana saja, namun mamanya tak setuju. Apalagi Lili adalah anak satu-satunya.
***
"Ma, itu yang buat hantaran besok sudah siap semua belum? Kok ini belum ada di mansion" seru Aldo menanyakan perihal barang-barang yang akan diberikan pada Lili saat acara lamaran besok.
"Haduh... Mama lupa kalau belum diambil. Biar mama hubungi pihak sana buat diantar saja" seru Mama Nei.
Sedangkan di kediaman mansion Aldo, terjadi sedikit keributan. Hal ini diakibatkan oleh Mama Nei yang lupa mengambil barang-barang yang telah dihias. Akhirnya Mama Nei langsung menghubungi pihak sana untuk mengantarkannya.
Bisa diomeli dirinya oleh Aldo kalau sampai tak membawa semua itu besok. Apalagi di aana juga ada cincin yang akan disematkan oleh Aldo pada Lili. Terlalu banyak yang dipersiapkan Mama Nei hingga lupa kalau semua barang yang akan dibawa belum diambil.
"Oma cudah tuwa, didina tindal duwa" ucap Kei seperti meledek Mama Nei.
"Oma belum tua ya, Kei. Masih mudan cantik gini kok" ucap Mama Nei tak terima dengan ledekan dari cucunya itu.
"Kalau masih muda kok jadi pelupa gini sih, ma" ucap Aldo yang setuju dengan ucapan Kei.
"Mama ini lagi sibuk. Bingung nih harus pakai perhiasan yang mana biar kelihatan elegant dan mewah" seru Mama Nei sambil memperlihatkan perhiasannya pada anak dan cucunya.
Kei dan Aldo langsung melengos juga pergi saja dari ruang keluarga. Kalau terus saja ngobrol dengan Mama Nei, pasti akan disuruh memilihkan barang mana yang dipakai. Apalagi Mama Nei itu rempong, sudah dipilihkan namun tetap tak menerima.
"Hei... Bantuin pilihin ini dong" seru Mama Nei.
"Dasar, cucu sama anak kaya gitu. Apalagi kalau minta tolong papa, pasti ada saja alasannya. Memang ya kalau di rumah cuma ada perempuan satu dan lainnya laki tuh nggak ada yang bisa diajak diskusi tentang ginian. Beruntung bentar lagi ada Lili. Akan aku ajarkan caranya beli perhiasan yang banyak" ucapnya sambil tersenyum-senyum sendiri.