Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Menginap 2


Mama Ningrum langsung memeluk Kei yang sudah dianggap cucunya itu dengan erat. Bahkan setelah melepaskan pelukannya, Mama Ningrum mengecupi kening dan pipi Kei berulangkali. Hal ini membuat Kei hanya bisa pasrah saja. Walaupun dalam hatinya, ia merasa senang karena merasa kehadirannya diharapkan oleh keluarga Lili.


"Ma, kasihan tuh Kei. Masa mama ciumin sampai lipstiknya pada nempel di wajahnya. Itu juga masakan mama kayanya gosong deh, coba cek tadi udah dimatiin belum kompornya itu" ucap Lili yang langsung menggendong Kei.


Mama Ningrum yang mendengar ucapan Lili pun langsung menghentikan kegiatannya. Mama Ningrum langsung melihat kearah wajan penggorengan yang menampilkan ayam gorengnya yang gosong. Bahkan bau menyengat mulai masuk dalam indra penciumannya.


"Oh my God... Ayam gorengku" seru Mama Ningrum yang langsung berlari mendekat kearah kompornya.


"Makanya dimatiin dulu kompornya, ma. Jangan sampai santai malah dapur ini yang kebakaran" seru Lili.


Lili langsung saja berlari menuju kamarnya sambil membawa Kei dan barang-barang milik bocah kecil itu. Lili membersihkan dirinya dan membantu Kei mandi. Sedangkan Mama Ningrum menggerutu kesal karena seruan dari anaknya itu.


Seharusnya anaknya itu membantu dia untuk membereskan kekacauan ini. Malah langsung masuk dalam kamarnya. Mama Ningrum harus menggoreng lagi ayam goreng untuk mereka nanti makan malam.


***


"Papa, cucu kita datang lho ini. Ayo buruan papa bersih-bersih dulu, baru nanti main sama Kei" seru Mama Ningrum yang begitu heboh saat menyambut suaminya itu.


Papa Dedi yang baru pulang dari bekerja pun mengernyitkan dahinya heran. Pasalnya ia belum memiliki cucu karena Lili belumlah menikah. Namun ini istrinya menyambut dengan mengatakan kalau cucunya datang.


"Cucu siapa? Kei juga siapa?" tanya Papa Dedi dengan raut penasarannya.


Sepertinya Papa Dedi melupakan pembahasan semalam mengenai Kei. Hal itu membuat Mama Ningrum yang sudah bersemangat malah kesal. Mama Ningrum pun menatap suaminya itu dengan sinis karena Papa Dedi ternyata sudah menjadi pelupa.


"Aduh... Itu lho yang semalam kita bahas. Anak dosennya Lili" ucap Mama Ningrum.


Papa Dedi hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala. Kini ia mengerti dengan apa yang diucapkan oleh istrinya itu. Papa Dedi pun langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Ia juga sudah tak sabar untuk bermain dengan Kei walaupun wajahnya tetap biasa saja.


"Punya suami kok pelupa gitu sama nama orang" gumam Mama Ningrum dengan kesal.


Mama Ningrum segera saja menyusul suaminya menuju kamar. Ia menyiapkan semua keperluan dan pakaian suaminya. Walaupun sedang kesal, namun Mama Ningrum masih mau menyiapkan semuanya. Lagi pula itu hanyalah masalah sepele saja.


***


"Oh... Jadi ini yang namanya Kei? Kenapa pipinya itu mau tumpah-tumpah ya?" ucap Papa Dedi setelah bertemu dengan Kei di ruang makan.


Saat memasuki jam makan malam, mereka semua kini sudah berada di ruang makan. Papa Dedi yang melihat Kei secara lebih dekat begitu kagum dengan ketampanan dan kegemasan bocah laki-laki itu. Pasalnya pipi Kei yang gembul itu membuat Papa Dedi ingin sekali menguyel-uyelnya.


"Itu bukan pipi, pa. Tapi bakpao, nanti kalau dipencet keluar cokelatnya" ucap Mama Ningrum sambil terkekeh geli.


Papa Dedi yang mendengar candaan dari Mama Ningrum langsung tertawa renyah. Sedangkan sang empu nama yang dijadikan bahan candaan itu sudah memberengut kesal. Walaupun dalam lubuk hatinya ada sedikit rasa senang karena Papa Dedi mau menerimanya di rumah ini.


"Ni pipi, ukan bapo. Pipina Kei ndak bica dimatan tayak bapo" ucap Kei yang tak terima.


"Jangan jahili Kei dong ma, pa. Oh ya... Nanti Kei akan menginap di sini. Mama dan papa nggak keberatan kan?" tanya Lili.


Pasalnya Lili belum meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk Kei yang mengunap di rumah. Mereka hanya tahu kalau Kei akan bermain di sini, namun untuk menginap belum. Oleh karena itu Lili memilih untuk meminta ijin kepada orangtuanya itu.


"Kalau kami sih boleh saja Kei menginap di sini. Tapi nanti itu papanya gimana? Apa dia sudah mengijinkan? Jangan sampai kita dikira menyembunyikan atau menculik Kei karena menginap di sini" ucap Mama Ningrum.


"Itu urusannya Mama Nei. Beliau yang akan memintakan ijin kepada Pak Aldo" ucap Lili sambil tersenyum.


"Iya, oma yang batalan ulus cemuwa tu" ucap Kei dengan semangat.


Kei sangat yakin kalau omanya itu bisa meyakinkan papanya agar bisa menginap di rumah Lili. Mama Ningrum dan Papa Dedi pun hanya menganggukkan kepalanya. Lagi pula mereka tak masalah kalau memang Kei mau menginap di rumah ini.


Akhirnya mereka pun makan malam bersama dengan tenang. Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Suasana ruang keluarga itu begitu hangat dan ramai dengan celotehan Kei.


***


"Mama tuh kenapa sih? Kenapa ngijinin Kei menginap di rumah orang asing?" kesal Aldo yang langsung marah-marah pada mamanya karena mengijinkan Kei menginap di rumah Lili.


Baru saja dirinya pulang dan membawakan donat kesukaan anaknya, namun malah menemukan fakta kalau Kei tak berada di rumah. Terlebih Mama Nei langsung mengungkapkan kalau Kei itu akan menginap di rumah Lili.


Tentu saja hal itu membuat Aldo kesal karena memutuskan begitu saja tanpa memberitahunya. Ia ingin sekali memukul itu mamanya karena kekesalannya. Namun Papa Tito yang berada di sampingnya sudah memelototinya dengan tajam.


"Habisnya mama kasihan sama Kei. Dia ingin sekali menginap di rumah Lili. Bahkan dia nggak mau melepaskan pelukannya dari Lili lho" ucap Mama Nei memberi alasan.


"Lagi pula Lili itu bukan orang asing, dia sahabatnya istrimu lho. Dia juga terlihat sangat menyayangi Kei" ucap Papa Tito yang membela keputusan istrinya.


Mama Nei tersenyum penuh kemenangan karena mendapatkan pembelaan dari suaminya. Tentu saja mereka setuju dengan Kei yang menginap di rumah Lili. Pasalnya di sana Kei bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang tak didapatkannya di rumah ini.


"Dia itu baik sama Kei dan kita karena ada maunya. Contohnya kemarin yang baik sama mama biar skripsinya diluluskan dengan cepat" kesal Aldo yang masih belum menerima keputusan dari orangtuanya itu.


"Suudzon mulu sih kamu, Al. Ayo pa, kita ke kamar aja. Biarin dia di sini sendirian" ajak Mama Nei pada suaminya.


Bahkan Mama Nei langsung menggandeng tangan Papa Tito agar mengikutinya pergi ke kamar. Sedangkan Aldo yang melihat hal itu menatap sinis kearah kedua orangtuanya. Aldo selalu saja kalah kalau sudah berdebat dengan kedua orangtuanya itu.


Aldo pun meletakkan asal satu box berisi donat yang dibawanya itu kemudian memilih masuk dalam kamarnya. Ia benar-benar frustasi karena rindu untuk tidur dengan anaknya. Namun malah anaknya itu tak berada di rumah.