Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Ikut


"Iya, net. Tapi ada calatna" seru Kei dengan senyumannya.


Sontak saja hal itu membuat Mama Ningrum, Mama Nei, dan Lili mengernyitkan dahinya heran. Mereka sudah sangat senang dengan Kei yang menyetujui untuk pulang. Namun ternyata ada syarat terselubung yang membuatnya mau untuk pulang.


"Apa syaratnya, Kei?" tanya Lili dengan tatapan penasarannya.


"Ante Lili itut ke lumah. Temani Kei campe bobok malam balu oleh ulang" seru Kei sambil menaikturunkan alisnya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu membuat Mama Ningrum dan Mama Nei langsung saling pandang. Sedangkan Lili sendiri mematung di tempatnya. Pasalnya Lili ingat sekali saat terakhir kali datang ke mansion keluarga Kei.


Malam itu juga ia menemani Kei hingga tertidur pulas. Pulangnya yang sudah larut malam dan membuatnya harus pulang diantar Aldo hingga insiden yang membuat dia masuk rumah sakit. Bayangan kejadian malam itu benar-benar masih membekas dalam ingatannya.


"Lili, bagaimana? Apa kamu mau menemani Kei sampai dia tidur?" tanya Mama Ningrum yang melihat anaknya itu malah melamun.


Lili masih terlihat melamun bahkan tatapannya kosong. Hal itu membuat Mama Ningrum sedikit khawatir. Kei pun yang melihat Lili terdiam dengan tangan gemeteran pun langsung menegakkan tubuhnya.


"Ante, napa demetelan? Ante ndak cakit tan?" tanya Kei dengan polosnya sambil memegang telapak tangan Lili.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu membuat Mama Ningrum dan Mama Nei langsung mendekat kearah Lili. Benar saja, keduanya melihat Lili melamun dengan pandangan mata yang kosong. Sontak saja hal itu membuat keduanya panik dan khawatir.


"Lili, ada apa? Jangan buat mama takut, nak" tanya Mama Ningrum yang langsung mengelus lembut punggung anaknya.


Sedangkan Kei yang tak paham dengan apa yang terjadi hanya bisa menatap interaksi ketiganya itu. Apalagi Lili yang diam saja walaupun sudah diajak bicara oleh Mama Ningrum dan Mama Nei. Kei pun ikut mengusap punggung tangan Lili yang kini malah dingin.


"Lili ndak mau pergi lagi sama Pak Aldo" serunya tiba-tiba.


Seruan itu membuat ketiganya terkejut. Apalagi kini Lili langsung melepas genggaman tangan Kei yang membuat bocah cilik itu begitu terkejut. Bahkan Kei langsung saja turun dari kursi dan berdiri di hadapan Lili. Mama Ningrum yang paham dengan kondisi anaknya yang masih mengingat kejadian waktu itu pun langsung memeluknya erat.


"Nggak mau..." serunya yang langsung memegang kepalanya.


"Tenang, nak. Nggak akan ada yang mengantar kamu pulang ke rumah kecuali mama atau papa. Pak Aldo nggak akan ngantar kamu pulang lagi kok" ucap Mama Ningrum membisikkan kalimat penenang pada anaknya.


Walaupun Mama Ningrum tak tahu pasti tentang kejadian apa yang menimpa anaknya malam itu, namun dengan racauan Lili seperti ini sudah bisa ia simpulkan penyebab trauma Lili. Mama Nei yang melihat dan mendengar hal itu benar-benar mengumpati Aldo dalam hatinya. Tak menyangka kalau kejadian malam itu ternyata malah membuat Lili seperti ini.


"Oma, Ante Lili napa? Tok cebut-cebut nama papa. Telus tok ante cekalang nanis?" tanya Kei pelan pada omanya yang berada di sampingnya itu.


Mama Nei seketika saja mengalihkan pandangannya kearah Kei yang kebingungan. Mama Nei langsung memeluk cucunya karena tak tega untuk menjelaskannya. Apalagi ini semua masalah memang berada pada Aldo sendiri.


"Tidak ada apa-apa. Kei berdo'a ya semoga Tante Lili sehat dan baik-baik saja" bisik Mama Nei pada cucunya itu dan membuat Kei menganggukkan kepalanya mengerti.


***


"Iya. Mau ya ke rumahnya Kei? Temani dia sampai tidur. Mama akan menemani kamu juga. Nanti pulangnya biar papa yang jemput. Kamu juga harus melawan rasa takutmu itu" bisik Mama Ningrum pada anaknya.


Bahkan Lili kini sudah tersadar kembali dari dunianya. Ia sadar saat mamanya berusaha meyakinkannya tentang yang akan menjemput dan mengantarnya pulang nanti. Apalagi mamanya membisikkan kalimat tentang Kei yang sangat menyayanginya.


Lili pun menganggukkan kepalanya kemudian melepaskan pelukannya dari mamanya. Lili menatap Kei yang ketakuran dalam pelukan Mama Nei. Sepertinya ia yang linglung itu malah membuat takut dan sedih Kei.


"Kei, maafkan tante yang sudah membuatmu takut dan sedih ya" ucap Lili dengan tatapan menyesal.


"Ndak apa, ante. Kei tau tok ini cemua pati dala-dala papa yang dahatin ante tan?" tanyanya memastikan.


Lili hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Lili segera saja meraih Kei untuk masuk dalam gendongannya. Lili merasa bersalah dan sedikit menyesal dengan tingkahnya. Pasalnya ia sudah berjanji untuk melupakan rasa takut dan tarumanya itu, namun entah mengapa malah jadi mengingat kembali.


"Kamu bisa, Li. Kamu sudah memaafkan semua dan mencoba berdamai dengan keadaan. Jangan sampai malah mempersulit keadaan dengan mengingat hal itu lagi" gumam Lili pelan sambil mengelus lembut punggung Kei.


Lili tak ingin kalau sampai Kei malah menanamkan dendam dalam hatinya tentang papanya sendiri. Apalagi itu karenanya yang notabene adalah orang asing. Ia pun juga masih bingung dengan keinginan orang-orang terdekatnya yang ingin melihatnya bersatu bersama Aldo.


Akhirnya mereka berempat memutuskan untuk pergi ke mansion bersama. Nantinya Lili dan Mama Ningrum akan meminta Papa Dedi menjemput. Kei begitu senang karena mansionnya nanti akan ramai dengan kedatangan banyak orang.


***


"Pa, kok sudah pulang jam segini?" tanya Mama Nei yang baru saja memasuki mansionnya bersama Kei, Lili, dan Mama Ningrum.


Mama Nei melihat suaminya tengah duduk santai di ruang keluarga. Mama Nei heran karena waktu masih menunjukkan pukul 3 sore namun Papa Tito sudah duduk santai. Papa Tito yang tadinya fokus dengan acara TV pun langsung mengalihkan pandangannya.


Ia terkejut dengan kehadiran Lili dan Mama Ningrum ke sini. Bahkan Papa Tito langsung berdiri karena tak enak hati tidak menyambut kedatangan tamunya itu. Papa Tito mendekat kemudian mengambil Kei masuk dalam gendongannya.


"Rencananya papa pulang cepat itu karena ingin menyambut kedatangan Kei. Eh... Pas papa pulang kok cucuku yang satu ini belum datang" ucap Papa Tito yang langsung menciumi pipi Kei.


"Oh iya... Selamat datang Lili dan ibunya. Ayo silahkan duduk dulu" ajaknya.


Mereka pun akhirnya duduk di ruang keluarga kemudian Mama Nei masuk sebentar ke kamar. Papa Tito meminta para maid menyiapkan cemilan dan minum untuk tamunya. Kei bahkan kini selalu menampilkan senyumannya.


"Opa, Kei jajak Ante Lili dan nenet ke lumah ini buwat temani atu bobok campe malam anti lho" ucap Kei dengan bangganya.


"Waduh... Kamu ngrepotin sekali, Kei. Masa mau tidur saja sampai harus ditemani orang" ucap Papa Tito yang melemparkan candaan kepada Kei membuat Lili dan mamanya terkekeh pelan.