Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Menginap?


"Ini bapaknya kemana? Kok udah sampai jam 10 malam begini belum juga jemput anaknya" tanya Papa Dedi mendengus kesal.


Lili juga tidak tahu mengapa Aldo sampai malam begini belum menjemput Kei. Bahkan kini Kei sudah tertidur pulas di kamarnya sejak dua jam yang lalu. Kini Lili dan kedua orangtuanya sedang berada di ruang keluarga untuk membahas tentang Aldo yang masih belum datang.


Bahkan tak ada pesan apapun dari Aldo. Lili sudah menghubunginya, namun Aldo sama sekali tak mengangkatnya. Bukan hanya tak mengangkat, namun ponsel laki-laki itu tidak aktif sama sekali. Lili kesal dengan Aldo yang kemungkinan lupa atas keberadaan Kei yang bersamanya.


"Mungkin Pak Aldo masih ada urusan, jadinya belum bisa datang menjemput" ucap Lili mencoba memaklumi.


"Sudahlah... Biarkan saja Kei menginap di sini dulu. Nanti kalau itu bapaknya ingat juga bakalan tuh dijemput" ucap Mama Ningrum.


Lili menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang diucapkan oleh papanya. Sedangkan Papa Dedi terlihat keberatan dengan itu. Ia seperti tak suka kalau Kei menginap di rumahnya. Ah... Lebih tepatnya jika nanti kalau Aldo menjemput dan ia melihat wajahnya secara langsung.


"Pa, kalau di depan Kei itu wajahnya yang senyum sumringah gitu. Kasihan Kei yang nggak tahu apa-apa terus dijuteki gitu. Pasti dia juga akan ketakutan dong" tegur Mama Ningrum.


"Iya, papa usahakan. Habisnya wajah Kei itu mirip sekali sama bapaknya. Bikin kesel aja kalau lihat wajah itu" ucap Papa Dedi.


Setelah mengucapkan hal itu, Papa Dedi langsung saja beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi ke kamar. Sedangkan Lili dan Mama Ningrum yang ditinggalkan seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tentu saja Kei mirip dengan Aldo yang notabene adalah anak kandung dari laki-laki itu.


Lili dan Mama Ningrum pun segera saja masuk dalam kamarnya masing-masing. Lili masuk kamar dan terlihatlah Kei yang masih tertidur dengan lelapnya. Lili duduk di samping Kei kemudian mengelus lembut rambut bocah cilik itu.


"Sehat selalu, nak. Semoga kamu segera mendapatkan apa yang kamu inginkan, seperti seorang ibu yang menyayangimu. Biar kamu juga nggak ditinggal-tinggal terus sama papamu kaya gini" gumam Lili sambil tersenyum.


Lili pun langsung membaringkan tubuhnya di samping Kei kemudian memeluknya dengan erat. Lili langsung memejamkan matanya karena rasa kantuk dan lelah secara bersamaan.


***


"Astaga... Kei belum ku jemput" seru Aldo yang kini terbangun dari tidurnya.


Tadi setelah dari kantor polisi, Aldo langsung pergi menuju perusahaan istrinya. Ada beberapa hal yang harus dia urus karena papanya yang kini pergi ke luar negeri. Ia harus menyelesaikan semua pekerjaan hingga tak sadar hari sudah malam. Karena terlalu lelah, Aldo pun langsung beranjak masuk dalam kamar istirahat yang merupakan milik Arlin.


Aldo tertidur pulas di sana hingga lupa membuka ponsel dan menjemput Kei. Hingga kini tengah malam, Aldo baru terbangun dari tidurnya dan langsung mengingat Kei. Ia langsung mencari ponselnya yang ia letakkan di atas meja kerjanya itu dengan terburu-buru.


"Untung tuh cewek pintar juga. Nggak nungguin di kampus sampai aku datang. Kalau nunggu di sana kan bisa jadi penjaga kampus" gumam Aldo sambil geleng-geleng kepala.


Aldo pun duduk di kursi kebesarannya kemudian menatap lurus ke depan. Ia kini tengah berpikir apakah akan menjemput anaknya malam ini juga atau esok hari. Jika malam ini, sudah pasti akan mendapatkan omelan dari orangtua Lili karena bertamu pada malam hari. Sedangkan jika esok hari, ia sudah rindu dengan anaknya.


"Biarlah besok pagi aku menjemputnya. Malah digerebek tetangga kalau malam-malam gini datang ke rumah seorang gadis" ucapnya.


***


"Semalam Pak Aldo nginap di kantornya karena banyak kerjaan jadi lupa tak membuka ponselnya. Dia nantinya akan menjemput Kei saat di kampus sekalian" ucap Lili pada Mama Ningrum yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


"Kasihan juga ya tuh dosenmu. Nggak cuma kerja satu tempat saja. Mana banyak sekali tuh usahanya dimana-mana" ucap Mama Ningrum sambil geleng-geleng kepala.


"Lebih kasihan lagi, dia udah kerja capek-capek tapi nggak ada yang dampingin" ucap Lili sambil tertawa.


Mama Ningrum juga ikut tertawa dengan candaan yang dilontarkan oleh Lili itu. Mereka merasa kasihan dengan Aldo yang kesepian karena belum mendapatkan pendamping hidupnya. Bahkan karena kebanyakan pekerjaan membuatnya tak bisa menikmati hidup dan jalan-jalan bersama anaknya.


Kei dan Papa Dedi memasuki ruang makan. Memang tadi Papa Dedi yang membantu memandikan Kei. Kei yang awalnya takut dengan Papa Dedi pun merasa lebih tenang sekarang. Apalagi Papa Dedi bersikap baik dan memperlakukan Kei dengan lembut.


"Wah... Udah wangi aja nih cucu nenek. Ayo kita makan" ajaknya setelah memuji Kei.


Kei hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kali ini Kei makan dengan disuapi oleh Papa Dedi. Setelah selesai sarapan, Lili dan Kei langsung menuju kampus. Tentu saja Lili harus kembali menemui dosennya sekalian mengantar Kei pada Aldo.


***


"Kayaknya papamu belum datang deh, Kei. Kita tunggu di dalam saja ya" ucap Lili.


Saat mengedarkan pandangannya kearah seluruh tempat parkir mobil khusus dosen, tak ada kendaraan Aldo di sana. Lili bisa mengambil kesimpulan kalau Aldo belum datang ke kampus.


"Iya, ante. Tita duduk dulu di taman cambil main atau cali kupu-kupu" ucap Kei sambil tersenyum.


Lili juga langsung saja menggandeng tangan Kei karena setuju dengan ucapan bocah cilik itu. Keduanya langsung duduk di taman kampus untuk menunggu Aldo datang. Ia juga ingin meminta ganti untuk beli barang-barang Kei.


Bukannya tidak ikhlas, hanya saja itu sebagai kompensasi karena kemarin harus bangkrut gara-gara ulah rencana Kei dan Fina. Lili juga yakin kalau Aldo takkan bangkrut kalau hanya mengganti uang berapa ratus ribu yang ia keluarkan.


"Papa..." seru Kei yang melihat papanya kini berada di belakang Lili.


Lili yang tadinya asyik melamun itu langsung saja mengalihkan pandangannya. Ternyata memang benar kalau Aldo sudah berada di belakangnya. Lili pun langsung berdiri di depan Aldo dengan menengadahkan kedua tangannya.


"Apa itu? Mau minta-minta?" tanya Aldo dengan tatapan herannya.


Pasalnya Aldo bingung dengan Lili yang langsung menengadahkan kedua tangan di depannya. Kei pun juga bingung dan langsung mendekat kearah keduanya.