Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Gedeg


"Bagaimana perasaan kamu, Li?" tanya Mama Nei.


"Gedeg, ma. Lihat saja tadi mukanya Bu Amel kaya nantangin dan merendahkan Lili begitu. Lili yakin kalau Bu Amel itu punya perasaan khusus sama Aldo" ucap Lili yang kini tak memanggil Aldo dengan embel-embel "pak".


Kini keduanya sudah sampai di sekolah Kei. Beruntung saat keduanya sampai, kelas Kei belum keluar untuk istirahat. Kalau sudah, pasti akan mengomeli keduanya. Bahkan bekal untuk Kei saja masih dibawa oleh Lili.


Keduanya duduk di bawah pohon dan membahas tentang peristiwa yang baru saja terjadi di kampus. Sebenarnya Lili ingin sekali menampol Bu Amel karena wajahnya tak terlihat merasa bersalah sama sekali. Bahkan semakin menjadi, terutama saat Aldo menyudutkan Bu Amel.


"Sama, mama juga ingin sekali meraup wajahnya dengan lumpur. Kok ada ya orang kaya gitu. Padahal jelas kalau salah, tapi nggak mau ngaku" ucap Mama Nei dengan menggebu-gebu.


Beberapa wali orangtua yang mengantar anak-anak di sana menatap kearah Lili dan Mama Nei. Mereka mengenal Mama Nei sebagai nenek dari Kei. Tentu saja kedekatan keduanya membuat mereka semakin menduga jika ada hubungan antara Lili dengan Aldo.


"Mbak Lili, jadinya ada hubungan apa nih sama anaknya Bu Nei? Nggak mungkin kalau kalian dekatan gini tapi tidak ada hubungan apa-apa" tanya ibu-ibu yang langsung penasaran dengan hubungan keduanya.


"Huft... Kenapa kalian kepo sekali, bu? Bukannya saya tak mau menjawab, ini kan urusan pribadi orang. Jadi tolong jangan ikut campur" ucap Lili dengan tegasnya.


Lili dan Mama Nei begitu terkejut dengan kedatangan ibu-ibu itu. Bahkan wanita paruh baya yang bernama Ibu Mei itu langsung bertanya tentang hubungan Lili dengan Aldo. Memang hampir semua orang di sana begitu penasaran. Apalagi setelah terkuak kalau Lili bukanlah saudara dari Aldo.


"Kami hanya ingin membenarkan dugaan kita saja. Pasalnya kalau tak ada hubungan kok bisa dekat dengan Bu Nei dan Kei. Atau jangan-jangan Mbak Lili ini hanya memanfaatkan mereka berdua lagi" ucap Ibu Mei yang malah menuduh Lili.


Lili hanya bisa mengelus dadanya sabar. Ia sudah lelah menghadapi orang-orang yang hari ini menguji kesabarannya. Ia tak menyangka kalau orang-orang di sekitarnya itu begitu penasaran dengan hubungannya bersama Aldo.


"Dia ini calon istrinya Aldo, bu. Sudah jangan tanya lagi. Dia ini gadis baik. Jangan sampai dia berubah menjadi macan karena rasa penasaran kalian" ucap Mama Nei dengan tegasnya.


"Wah... Masa Mas Aldo mau nikah sama perempuan model kaya gini sih, Bu?" seru Ibu Mei yang seakan tak setuju dengan pilihan Aldo.


"Lho kenapa? Keduanya cocok dan sama-sama baik. Yang penting Lili sayang sama Kei dan saya" ucap Mama Nei membela calon menantunya itu.


"Masa cocoknya sama ibu. Kan nggak lucu ya" ucap Lili ikut menimpali.


"Ya benar sama saya baru cocok. Janda sama duda. Cocok tuh, apalagi saya ini pekerja keras. Jadi nggak akan ngerepotin Mas Aldo" ucap Ibu Mei dengan percaya dirinya malah mempromosikan diri.


Mama Nei dan Lili hanya bisa menganga tak percaya dengan ucapan terlalu percaya diri dari Ibu Mei itu. Mereka berdua segera saja pergi dari sana daripada harus menghadapi Ibu Mei yang membuat pusing.


Sedangkan Ibu Mei yang tak digubris oleh Mama Nei pun hanya bisa mngerucutkan bibirnya kesal. Ia tak menyangka kalau langsung ditolak oleh Mama Nei. Padahal ia masih muda dan cantik bahkan wanita karier namun seperti tak ada harganya di hadapan Mama Nei.


***


"Hari ini orang-orang pada kenapa sih? Kok agak aneh ya" ucap Lili sambil memijit pelipisnya yang sedikit pusing.


Tentu saja Mama Nei geli bukan karena status perempuan itu yang janda. Hanya saja penampilannya sudah mirip seperti tante-tante kurang belaian. Hal ini malah membuat Mama Nei nanti kalah saing. Apalagi dandanan Ibu Mei itu begitu cetar dan menor.


"Sebenarnya Lili juga malas sama ibu-ibu di sini, ma. Waktu itu saja Kei sampai dimarahi oleh ibu-ibu di sini padahal yang salah anaknya. Kesal sekali pokoknya" ucap Lili menyampaikan keluh kesahnya.


"Lho kok kamu nggak cerita sama mama? Mana itu orangnya yang marahin Kei biar mama tendang dan hajar" seru Mama Nei dengan semangat.


"Sudah diberi pelajaran sama Fina waktu itu, ma. Disenggol sama Fina eh dianya jatuh dan nggak bisa berdiri lagi" ucap Lili sambil terkekeh geli.


"Wah... Kayanya mama harus kasih hadiah temanmu itu, Li. Mungkin nasi goreng saja kali ya hadiahnya? Atau jajan di kantin kampus gratis selama sebulan?" tanya Mama Nei.


"Nggak usah, ma. Fina ikhlas kok membela Kei. Lagian ibu-ibunya itu nyebelin makanya Fina berani melawan" ucap Lili.


Mama Nei hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Tentu saja Fina ikhlas membantu cucunya itu karena Kei juga dekat dengan gadis itu. Tak berapa lama, Kei datang bersama dengan Nadeline. Gadis cilik itu begitu senang bertemu kembali dengan Lili dan Mama Nei.


"Tante, oma..." panggil Nadeline pada Nadia dan Mama Nei.


Mama Nei merentangkan kedua tangannya membuat Kei dan Nadeline masuk dalam pelukan hangat itu. Kemarin Mama Nei meminta agar Nadeline mau terus istirahat dengan Kei. Bahkan Mama Nei juga membawakan bekal untuk gadis cilik itu.


"Ayo makan" ajak Lili yang kemudian mengeluarkan empat kotak makanan.


"Kok ada empat kotaknya?" tanya Nadeline begitu penasaran.


"Ini bekal buat kalian. Ini tempat isinya puding dan buah. Habis makan, kalian bisa nyemil ini" ucap Lili.


Nadeline dan Kei menganggukkan kepalanya antusias. Apalagi Nadeline yang memang jarang makan makanan dari rumah. Kebiasaannya dengan sang papa sedari dulu selalu beli dari luar. Di rumahnya hanya ada beberapa ART yang bertugas membersihkan rumah saja. Untuk memasak, Brama sendiri tak mempercayakan pada ART.


Apalagi semenjak kejadian ditemukannya racun di rumahnya. Brama sampai ngeri sendiri jika seandainya racun itu dimasukkan dalam makanan miliknya atau sang anak. Apalagi dulu hubungannya dengan sang mantan istri tak pernah baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang membuat wanita itu ingin menghabisinya.


"Ini enak sekali. Besok biar papa bayar makanan ini ya, tante. Masa setiap hari tante dan oma bawain Nad makanan tapi nggak dibayar. Nanti tante dan oma rugi" ucap Nadeline dengan polosnya.


"Ndak ucah bayal. Uangna papa atu banak tok. Yang penting, tita cehat telus denan matan matanan dali mama atu" ucap Kei dengan gaya cadel khasnya.


"Benar, tante?" tanya Nadeline seakan meminta persetujuan dari Lili.


"Iya, nggak perlu minta uang papa kamu buat kami bawakan makanan untukmu. Yang penting kalian makan dan sehat" ucap Lili.


Keduanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian segera menghabiskan makanannya. Bahkan Lili juga berulangkali memperbaiki cara makan keduanya yang masih berantakan. Mama Nei yang melihat keduanya senang pun ikut bahagia.