Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Keinginan


"Ma, aku ingin pindah kuliah. Nggak papa deh harus ikut ujian masuk ulang dan mulai semuanya dari awal lagi" ucap Lili mengutarakan keinginannya.


Setelah pulang dari mall, Lili segera saja menemui mamanya untuk mengutarakan keinginannya. Lili sudah putus asa dengan keadaan kuliahnya. Apalagi tuduhan yang semalam dilayangkan Aldo mengenai dirinya yang memanfaatkan Mama Nei dan Kei agar diloloskan skripsi.


Mama Ningrum yang sedang bersantai di halaman belakang rumah pun seketika terkejut dengan apa yang diucapkan anaknya itu. Pasalnya mungkin hanya tinggal beberapa bulan saja skripsi itu selesai dan Lili akan melanjutkan proses untuk mengambil pendidikan profesinya.


"Lho... Kenapa, nak? Tinggal beberapa bulan lagi lho" ucap Mama Ningrum yang menyayangkan keputusan anaknya.


"Nggak akan mungkin selesai dalam waktu beberapa bulan ke depan, ma. Tahu sendiri dosen pembimbing utamanya itu siapa" kesalnya.


Mama Ningrum kebingungan dengan keinginan anaknya itu. Bukan bermaksud tak mendukung keputusan anaknya, namun menyayangkan kalau sampai tinggal sedikit lagi tapi harus menyerah. Apalagi harus sampai pindah kuliah ke kampus lain dan memulai semuanya dari awal.


"Apa kita mengajukan pergantian dosen pembimbing saja, nak? Daripada harus mengulang kuliah dari awal" ucap Mama Ningrum memberikan saran.


"Lili sudah pernah mengajukan pada pihak kampus. Kalau pergantian dosen pembimbing hanya bisa dilakukan nanti awal semester depan. Itu sama saja Lili harus membuat skripsi baru" ucap Lili menjelaskan.


Mendengar hal itu, Mama Ningrum langsung menatap anaknya dengan tatapan berbinar. Sepertinya Lili tak menyadari kalau sebenarnya solusi dari semua permasalahan ini sudah ia ungkapkan. Bahkan Mama Ningrum yang mendengarkan saja sudah bisa menebak kearah mana dia harus menyelesaikan masalah ini.


"Solusinya ya yang kamu ucapkan itu, nak. Kamu bisa mengajukan pergantian pembimbing lagi. Tidak papa, kamu mengulang skripsi semester depan daripada kembali kuliah dari awal. Mama dan papa akan menanggung biaya administrasi dan skripsimu lagi semester depan" ucap Mama Ningrum.


Mendengar penjelasan dari mamanya itu sontak saja membuat Lili langsung menatapnya dnegna binaran cerah. Dulunya dia tak mau mengulang skripsi karena keterbatasan biaya. Sekarang ada orangtuanya yang siap membiayai semua biaya kuliahnya. Ia tak perlu takut lagi kalau memang harus memulai skripsinya dari awal.


Sebisa mungkin Lili akan meminta pada dosen pembimbingnya yang baru untuk menerima judul dan penelitian skripsinya yang lama. Kalaupun tak bisa, ia akan bersiap-siap dari sekarang untuk membuat judul baru. Lagi pula masih ada waktu beberapa bulan lagi untuknya mempersiapkan semuanya.


Tak apalah dia tidak lulus sesuai targetnya, yang terpenting adalah kenyamanannya. Lagi pula orangtuanya pasti akan selalu mendukung apapun yang menurut mereka nyaman. Lili langsung memeluk mamanya dari samping dan Mama Ningrum membalas pelukan hangat itu dengan erat.


"Terimakasih, ma. Mama memang the best. Terimakasih atas saran dan pencerahannya" ucap Lili sambil menampilkan senyum tulusnya.


"Sama-sama, nak. Kamu itu kalau ada masalah apapun harus bilang sama mama atau papa. Kita selesaikan semuanya sama-sama. Kamu itu nggak sendiri, punya orangtua yang akan selalu ada untuk anaknya" ucap Mama Ningrum.


Lili menganggukkan kepalanya mengerti. Ia bersyukur bisa kembali dalam tubuh aslinya. Ia bisa merasakan kebahagiaan dan kehangatan sebuah keluarga. Apalagi orangtuanya yang mau berubah untuknya. Sungguh kebahagiaan yang sangat bertubi-tubi.


***


"Gara-gara kamu nih, Al. Mama mau minta maaf sama mamanya Lili saja nggak bisa" kesal Mama Nei.


Aldo yang baru saja masuk dalam mansionnya langsung kena semprot sang ratu di rumahnya. Aldo hanya bisa menghela nafasnya lelah karena pasti mamanya ini hanya akan membahas masalah Lili lagi. Padahal ia sudah mencoba untuk melupakan semuanya namun mamanya seakan enggan membiarkan dia istirahat sebentar saja.


"Lalu bahas apa? Mama nggak bisa ya membiarkan keluarga kita ada masalah sama oranglain. Ayo kita minta maaf sama keluarga mereka. Apalagi itu lho omongan pedasmu dan menuduh Lili sembarangan" ucap Mama Nei dengan kekeh.


Aldo pun memilih untuk pergi dari hadapan mamanya. Malas sekali untuk Aldo menanggapi ocehan mamanya yang menurutnya tak penting itu. Tanpa keduanya sadari, di dekat sana ada Kei yang melihat perdebatan dan pertengkaran keduanya.


"Napa cih ditu caja meleta beltenkal? Apa ndak bica dinomonin bait-bait. Mana patek teliak-teliak cegala ladi" ucap Kei sambil geleng-geleng kepala.


Kei hanya bisa menghela nafasnya sabar menghadapi orang dewasa di sekitarnya. Apalagi melihat papanya dan omanya yang selalu saja bertengkar untuk hal yang tidak penting. Padahal menurutnya mereka bisa saja kalau membicarakan semua ini dengan baik-baik.


Kei pun langsung pergi masuk dalam ruang makan. Ia kelaparan karena memikirkan pertengkaran Aldo dan Mama Nei. Maid yang ada di sana sudah tahu dengan masalah yang terjadi. Apalagi kini mereka melihat Kei masuk ruang makan dengan wajah lesunya. Salah satu maid bernama Yuyun langsung mendekati anak majikannya itu.


"Den Kei, butuh apa? Mau bibi siapkan makanan atau minuman?" tanya Bi Yuyun.


"Ciaptan Kei matanan pedes lepel celatus" ucap Kei.


Sontak saja Bibi Yuyun dan maid lainnya langsung saja menganga tak percaya dengan ucapan dari Kei itu. Tak mungkin juga mereka menyiapkan makanan pedas untuk anak kecil seperti Kei. Kei pun langsung duduk di sebuah kursi kecil yang ada di dekat pintu ruang makan.


"Baik, den Kei" ucap Bibi Yuyun.


Bibi Yuyun memberi kode kepada maid lainnya untuk membuatkan nasi goreng. Namun mereka akan menggunakan sosis dan brokoli untuk mengganti cabai yang dimaksud oleh Kei. Kei pun masih duduk dengan berpangku tangan di sana sambil melihat pada semua orang yang sibuk.


"Den Kei, jangan memikirkan hal tentang masalah orang dewasa yang rumit. Pokoknya tugas Den Kei ini hanya makan, tidur, dan belajar kalau sudah mulai sekolah nantinya" ucap Bibi Yuyun memberikan nasihat.


"Kei ndak mikilin macalah olang dewaca. Ndak enting juda buwat Kei" ucap Kei dengan mengedikkan bahunya acuh.


Bibi Yuyun yang memang tak tega meninggalkan Kei yang terlihat melamun membuatnya lebih memilih mendekatinya. Bibi Yuyun mengelus lembut rambut Kei agar bocah kecil itu tak merasa sendirian. Apalagi kehidupan bocah kecil itu yang tak ada sosok ibu di sampingnya.


"Bagus. Den Kei harus semangat. Kalau besar nanti harus jadi orang sukses dan bisa membanggakan keluarga" ucap Bibi Yuyun.


"Dali tecil Kei cudah membandakan kelualga denan atu yang ndak akal tok. Bibi enang caja" ucap Kei dengan percaya dirinya.


Bibi Yuyun hanya terkekeh pelan mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu. Tak berapa lama, makanan yang diinginkan oleh Kei sudah datang. Bibi Yuyun segera saja menggendong Kei kemudian mendudukkannya di atas kursi makan.


"Apa ini?"