
"Jadi gitu kelakuan keluarganya Kei sama anak kita?" kesal Papa Dedi saat masih berada dalam perjalanan menuju pulang ke rumah.
Setelah ditarik oleh Lili keluar dari mansion Aldo itu, mereka segera masuk dalam mobil. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah karena terlanjur kesal dengan ucapan pedas yang dilayangkan oleh Aldo. Bahkan harga diri orangtua Lili seperti diinjak-injak.
Padahal mereka benar tulus menyayangi Kei dan tak mempunyai niatan buruk sama sekali. Namun malah dituduh macam-macam. Aldo pun dengan seenaknya malah seperti menganggap Lili hanya ingin memanfaatkan kedekatannya dengan Kei.
"Ini hanya salah paham, pa. Pasti Pak Aldo itu terlalu protektif sama anaknya. Ia nggak ingin anaknya kenapa-napa. Kan Kei belum lama dekat dengan keluarga kita, masa bisa seenaknya kaya mau masuk kamar. Dia pasti punya kecurigaan berlebihan pada orang-orang baru" ucap Lili yang mencoba meredam kemarahan kedua orangtuanya.
"Tapi nggak perlu nuduh macam-macam gitu dong. Setidaknya obrolin dengan benar dan sopan agar tidak menyakiti hati tamunya. Kesal jadinya mama nih" ucap Mama Ningrum yang seakan setuju dengan ucapan suaminya.
Dalam hati Lili, sebenarnya ia juga setuju dengan ucapan kedua orangtuanya. Sebenci-bencinya pada tamu yang datang, tak sepantasnya kalau sampai menuduh hal-hal yang tidak terjadi. Apalagi sampai menuduh di depan orangtuanya langsung. Pasti mereka takkan terima dengan tuduhan yang dilayangkan pada anaknya itu.
"Sabar ma, pa. Mungkin Pak Aldo lagi emosi dan banyak kerjaan jadinya langsung marah-marah tak jelas" ucap Lili sambil tersenyum.
Hatinya sakit dan tersinggung dengan ucapan Aldo. Namun ia berusaha untuk menekannya. Apalagi kini mereka sedang berada di dalam mobil. Tak sepatutnya mereka emosi, yang ada malah nanti bisa kecelakaan. Apalagi kini posisinya Papa Dedi sedang menyetir mobil.
***
Aldo memandikan Kei dalam diamnya pagi ini. Bahkan mulutnya benar-benar terkunci rapat. Begitu pula dengan Kei yang sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Biasanya kalau mandi, Kei akan berceloteh riang dengan memainkan mainannya. Namun ini diam hingga kegiatan mandi ini hanya membutuhkan waktu yang singkat.
Setelah keduanya sama-sama membersihkan diri dan mengganti pakaian, mereka segera keluar dari kamar. Aldo menggendong Kei, sedangkan bocah kecil itu sepertinya hanya pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh papanya. Keduanya memasuki ruang makan yang di sana sudah menunggu Mama Nei dan Papa Tito.
"Pagi opa, oma" sapa Kei.
"Pagi juga, Kei. Ayo makan" ucap Papa Tito.
Sedangkan Mama Nei hanya tersenyum saja kearah cucunya itu. Kei pun duduk di kursinya bersama dengan Aldo di sampingnya. Aldo mengambilkan makanan sekaligus menyuapi Kei dengan telaten. Mama Nei yang tadinya ingin menyuapi cucunya itu pun langsung mengurungkan niatnya.
Sepertinya Aldo dan Mama Nei masih saling berperang dingin akibat kejadian semalam. Apalagi Aldo sama sekali tak menyapa kedua orangtuanya pagi ini. Hal ini membuat Papa Tito hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Dua sifat yang sama-sama keras kepala dan gengsian, membuat mereka susah untuk saling minta maaf.
"Papa ke kantor dulu, ma" pamit Papa Tito pada istrinya setelah makanan yang ada di hadapannya telah habis.
"Iya, pa. Hati-hati" jawab Mama Nei seadanya.
Sarapan selesai Papa Tito langsung pergi dari ruang makan setelah berpamitan pada istri, anak, dan cucunya. Sekarang Kei yang kebingungan karena papa dan omanya yang kini saling bertatapan sinis setelah kepergian opanya.
"Napa cih talian pada iam-iaman ditu? Ndak mayu apa cama nanak tecil di cini. Talo ada macalah tuh dimomonin, ukan tayak dini. Tayak nanak tecil caja" sindir Kei pada tingkah Aldo dan Mama Nei.
"Bibi, dendong" serunya saat melihat salah satu maid melewati pintu ruang makan.
Kei langsung berseru agar maid itu mengalihkan pandangannya. Benar saja, maid itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap kearah Kei. Kei langsung merentangkan kedua tangannya kearah maid itu. Maid yang mengerti kode yang diberikan Kei langsung mendekat kearah anak majikannya.
"Kami permisi dulu tuan, nyonya" ucap maid itu sambil menggendong Kei keluar dari ruang makan.
Bulu kuduk maid itu seketika merinding saat masuk area ruang makan. Sepertinya ia paham dengan Kei yang meminta gendong padanya. Pasti ia juga kurang nyaman berada dalam situasi dan kondisi dua orang dewasa tengah berperang dingin.
Setelah maid keluar dari ruang makan tanpa menunggu jawaban dari majikannya, Mama Nei dan Aldo masih saling menatap tajam. Keduanya seakan masih terus berperang dingin tanpa mau untuk saling minta maaf. Hal ini terlihat sifat keduanya yang gengsian dan terlalu kekanak-kanakan.
"Jangan pernah kamu bawa Kei pergi dari mama dan papa. Kalau sampai itu terjadi, mama takkan segan-segan untuk tak menganggapmu anak" ucap Mama Nei dengan tegasnya.
"Terserah apa kata mama. Yang pasti hak sepenuhnya Kei itu ada di tanganku. Jadi mau ku bawa pergi kemanapun Kei itu adalah urusan Aldo" ucap Aldo tak kalah tegasnya.
Bahkan kini Aldo langsung berdiri dari duduknya kemudian beranjak pergi. Saat Aldo sampai di dekat pintu ruang makan, laki-laki itu seketika tertegun dengan ucapan mamanya yang menohok hati. Tentu saja Aldo juga menyadari suatu perubahan dalam hal ini.
"Apa mungkin baiknya kamu sama Kei itu agar demi bisa berdekatan dengan Arlin? Oh... Ada udang dibalik batu rupanya" lanjutnya.
Aldo menyadari kesalahannya dulu yang memang tak peduli dengan Kei. Awalnya memang ia menggunakan Kei untuk lebih dekat dengan Arlin. Namun nalurinya sebagai seorang ayah membuat semakin lama ia menyayangi anaknya seiring berjalannya waktu.
Aldo langsung tersadar kemudian pergi begitu saja dari ruang makan. Ia tak menggubris ucapan mamanya yang begitu pedas itu. Sedangkan Mama Nei yang melihat kepergian anaknya itu hanya tersenyum puas.
***
Aldo berangkat ke kampus dengan raut wajah datar andalannya. Bahkan pagi ini wajah Aldo sangat datar daripada hari lainnya. Semua mahasiswa yang berada di sekitar sana langsung memilih menyingkir. Sepertinya kondisi Aldo saat ini sedang dalam mood yang tidak baik sehingga semua memilih untuk tak membuat masalah.
Aldo masuk dalam ruangannya kemudian mengambil buku dan laptop untuk mengajar. Setelah persiapan selesai, Aldo segera saja pergi menuju kelas yang akan diajarnya pagi ini. Beberapa dosen yang berpapasan dengannya pun tak ia sapa.
"Pagi..." sapa Aldo dengan raut dinginnya setelah masuk dalam ruang kelas.
"Pagi, pak" sapa balik semua mahasiswa yang ada di kelas itu.
Suasana kelas begitu sepi dan mencekam karena Aldo masuk. Semua mahasiswa seakan tidak diberikan ruang untuk bernafas lebih karena aura yang dikeluarkan oleh Aldo ini tak main-main. Apalagi tatapan tajamnya yang mengarah pada semua mahasiswa yang ada di sana.
"Keluarkan semua tugas kalian. Presentasikan hasil dari kasus yang kalian ambil. Saya sudah memeriksa semua makalah dari kasus yang diambil, namun ternyata semuanya nggak ada yang benar. Saya ingin lihat maksud dari tulisan kalian di makalah itu" titah Aldo dengan tegasnya.
Semua pun langsung bergerak mengambil tugas yang diberikan oleh Aldo minggu lalu. Memang semua file tugas sudah dikirimkan melalui email sebelumnya sehingga Aldo telah memeriksa semuanya. Namun Aldo sama sekali tak puas dengan tugas yang dikerjakan oleh mahasiswanya itu.
Satu per satu mahasiswa dipanggil untuk mempresentasikan hasil tugasnya. Aldo hanya diam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar apa yang mereka presentasikan. Tak lupa dengan beberapa mahasiswa yang langsung ia hentikan paksa saat presentasi masih berlangsung.
"Cukup. Ilham maju ke depan" ucap Aldo yang langsung menghentikan presentasi mahasiswa sebelumnya dan menggantinya dengan yang lainnya.
Hal ini membuat semua mahasiswa ketar-ketir. Padahal mereka sudah membuatnya sebaik mungkin. Namun seperti apa yang mereka kerjakan masih jauh dari apa yang diinginkan oleh Aldo. Mereka hanya bisa pasrah saja melihat semuanya hanya presentasi 4 menit kemudian disuruh berhenti.
"Kerjakan ulang semua makalah kalian. Dua hari lagi, silahkan kirim kembali tugas ke email saya. Kalian bisa contoh hasil makalah di link yang akan saya kirimkan di grup mata kuliah ini. Ingat... Ini hanya contoh referensi dan formatnya, bukan kalian jiplak seenaknya" seru Aldo.
"Baik, pak" seru semuanya patuh.
Mereka sebenarnya sangat keberatan untuk mengerjakan ulang tugas ini. Namun mata kuliah ini sangat penting. Kalau sampai tak lulus, semester selanjutnya tak bisa mengambil mata kuliah lanjutan. Hal ini juga yang membuat mereka sebisa mungkin meluangkan waktu sebaik-sebaiknya untuk mengerjakan tugas ini.
Dua jam berlalu dengan Aldo yang mengajar di kelas itu. Sebenarnya Aldo itu merupakan dosen yang metode mengajar dan menjelaskannya paling diacungi jempol. Materi dan tugas dijelaskan dengan rapi. Hanya saja kalau sudah memberi tugas itu kadang berbeda dengan materi yang disampaikan.
Aldo keluar dari kelas kemudian semua mahasiswanya bisa menghela nafas lega. Saat berjalan menuju ruangannya, ia melihat seorang gadis yang ia kenal. Seorang gadis yang semalam menjadi sasaran kemarahannya, Lili. Lili tengah duduk bersama dengan temannya sambil membawa satu bundle kertas. Aldo yakin kalau hari ini Lili akan menemuinya untuk berkonsultasi.
"Biarin aja gue susah-susahin tuh orang. Udah mempengaruhi mama dan Kei, gue yakin kalau sekarang mama nggak akan berani ikut campur" gumamnya sambil menatap sinis kearah Lili.
Lili yang mungkin merasa kalau tengah ditatap seseorang pun langsung mengalihkan pandangannya. Aldo yang terkejut langsung saja mengalihkan pandangannya kearah depannya. Namun naas, Aldo yang panik dan tak fokus malah menabrak seseorang yang ada di depannya.
Brugh....
Awssss...
"Astaga... Pak Aldo. Kalau jalan itu lihat-lihat, pak. Bisa benjol nih kepala saya kalau ditabrak bapak nih" ucap seorang dosen yang kesal dengan tingkah Aldo.
Beberapa mahasiswa yang melihatnya pun langsung menahan tawanya melihat adegan tabrakan itu. Apalagi Lili yang langsung meledek Aldo dengan menjulurkan lidahnya saat laki-laki itu melirik kearahnya.